Bukber di Masa Pandemi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Ramadhan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 April 2021

Tahun ini, Ramadhan berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Hari pertama puasa, Ayu sangat semangat sekali menjalankannya. Pada sore harinya, Ayu ingin meminta izin kepada Ibu untuk melaksanakan berbuka puasa bersama di luar bersama teman-temannya. Namun, Ibu melarang Ayu. Dikarenakan bahayanya berkerumun di tengah pandemi.

“Bu, aku boleh ya bukber bareng temen-temen di luar.” Tanya Ayu semangat kepada Ibu. “Sama temen-temen? berapa orang? kamu tau kan ini lagi pandemi, ga baik berkerumun.” Jawab Ibu menasehati Ayu. “cuma 5 orang buu, nanti jaga jarak koo, ga salam salaman.” Ujar Ayu sambil merayu Ibu. Ibu pun menghela nafas dan menatap Ayu sambil berkata “GA BOLEH.”
“Ah Ibu maah..” Ucap Ayu kesal sambil cemberut dan langsung memainkan ponselnya.

“Kenapa sih ribut-ribut?” Tanya kak Naya (kakak Ayu) penasaran. Tidak ada yang menjawab pertanyaan kak Naya, dikarenakan Ibu yang sedang membuat kue dan Ayu yang sedang ngambek akibat tidak diizinkan bukber oleh Ibu. Karena kak Naya penasaran, kak Naya pun menghampiri dan bertanya ke Ibu “Bu, Ayu kenapa tuh?” Tanya kak Naya ke Ibu. “Itu looh mau bukber bareng kawan-kawannya, ya gak Ibu ijinin kan lagi pandemi gini.” Jelas Ibu menjawab kak Naya.
“Oooo mau bukber nih ceritanyaa…” Ujar kak Naya sambil melirik ke Ayu. Ayu pun hanya menatap sinis kak Naya.

“Yu, kenapa ga kamu ajak temen kamu bukber virtual?” Ucap kak Naya memberi saran. “virtual gimana?.” Jawab Ayu masih kesal. “itu looh bukber lewat Vidio Call aja kamu sama temen-temen kamu, kan kalo kamu bukber di luar, kamu pasti udah jalan sekitar 1 atau setengah jam sebelum buka puasa tuh, dan pas sampe di tujuan, kalian pasti ngobrol-ngobrol gitu kan, nah kalo ini sebagai gantinya, kamu dan temen-temen kamu tadarusan aja baca Al-Qur’an sambil nunggu buka puasa.” Jelas kak Naya. “nah terus pas azan, bukanya bareng-bareng deh di Vidio Call.” Lanjut Kak Naya memberi saran. “hmm… boleh juga tuh kak.” Jawab Ayu menyetujui saran kak Naya. “boleh doong, Naya gitu looh.” Lanjut kak Naya dengan pede. “tumben pinter.” Ujar Ayu mengejek kak Naya. “yeehh, dari dulu kaleee.” Jawab kak Naya menyinyir Ayu.

Ayu pun dengan semangatnya bergegas pergi ke kamar untuk mempersiapkan menghubungi teman-temannya lewat Vidio Call. “MAKASIH KAK NAYAA ATAS SARANNYA, IYAA SAMA SAMAA.” Teriak kak Naya sambil menyinyir Ayu yang lupa mengucapkan terimakasih atas saran yang ia berikan. Ayu pun mendengar dan tersenyum malu. “MAKASIH KAK NAYAAA ATAS SARANNYAA.” Ayu pun menjawab dari kamarnya dengan berteriak juga ke kak Naya.

Akhirnya, Ayu pun berhasil menghubungi teman-temannya di kamar dan bertadarus dengan teman-temannya melalui Vidio Call sambil menunggu waktu berbuka puasa, seperti saran kak Naya tadi. Ayu senang, karena puasa pertamanya di masa pandemi tahun ini masih bisa bukber dengan teman-temannya. Meski tidak dapat bukber secara langsung, mereka bisa bukber secara virtual dari rumah masing-masing. Dan untuk pertama kalinya, Ayu berbuka puasa bersama teman-teman melalui media internet.

Cerpen Karangan: Mumtaaz Qadhifa
Haii! Saya Mumtaaz umur 14 tahun. Saat ini, saya duduk di bangku MTs. Saya memang tidak terlalu aktif dalam menulis apalagi untuk menciptakan sebuah karya. Kali ini, untuk pertama kalinya saya mencoba membuat sebuah cerpen dengan tema “menyambut ramadhan di tengah pandemi.”

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 April 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Bukber di Masa Pandemi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Ku (Part 1)

Oleh:
Aku adalah sebagian orang yang menginginkan dan mengharapkan bisa mendapatkan cinta sejati. Dari segelintir orang yang mencari cinta mereka, berusaha mendapatkan cinta sejati, tetapi aku hanya membiarkan semua itu

Delusi

Oleh:
Gemerlap cahaya putih mulai stabil, kesadaran pemilik iris coklat terang itu belum sempurna. Lima menit kemudian, ia mulai sadar bahwa tak seharusnya ia berada di tempat itu. Ia berada

Kepada Gadis Yang Aku Kagumi

Oleh:
Jakarta, 2015 Bukan sesuatu yang mengejutkan jika aku, Narendra Wijaya menjadi laki-laki idaman para gadis-gadis di sekolahku. Menjadi kapten basket, ketua organisasi siswa, menjadi murid kelas unggulan, dan pasti

Tetes Cinta Punpun

Oleh:
Bandung, November 2017 “Gawat. Sudah pukul tujuh. Tapi aku masih terjebak macet di perempatan lampu merah dekat sekolah. Sudah tidak ada waktu lagi.” Ucapku panik dalam hati. Berkali-kali aku

Mukena Cantik Ala Tarisha

Oleh:
Pada bulan puasa yang mendekati hari raya idul fitri, semua umat islam membeli kue kering, dekorasi rumah agar menarik, dan lain hal sebagainya. Tak terkecuali keluarga Tarisha. Mereka akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *