Kamuflase

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Ini adalah dunia. Dunia yang keras. Tidak cocok untuk orang lemah yang tak bisa berakting. Tidak cocok untuk orang payah yang tak bisa berpura-pura. Karena semuanya hanyalah kepalsuan belaka. Berhati-hatilah dengan orang-orang di sekitarmu.

-Make Up-

“FEY! Gue udah lama suka sama lo, mau jadi pacar gue gak?”
Sorak sorai dari siswa-siswi SMA ter-elit se-Ibu Kota membuat suasana lapangan terasa makin riuh. Bahkan ada beberapa siswa yang tidak segan-segan berteriak toa, menambah suasana. “Terima! Terima! Terima!” Seolah ada yang memandu, kerumunan siswa-siswi itu menyoraki Gerrald yang memegang sebuket bunga mawar merah tepat di depan seorang gadis semampai yang mengulum senyum. “Ya, gue mau,” Belum sempat Fey menghembuskan napas, Gerrald langsung memeluk gadis itu. Sorak-sorai makin membahana taktala Fey menerima buket mawar. Gerrald berkali-kali berterima kasih pada Fey yang tersenyum. Kecut.

Baru beberapa hari yang lalu sekolah terasa riuh karena penembakan Gerrald pada Fey, tetapi hari ini bahkan sekolah makin gempar karena kabar dari pasangan yang baru menginjak lima hari bersama itu. “Gerrald, kita putus ya.” ujar Fey datar. Tepat di tengah-tengah kantin yang sedang ramai-ramainya. Satu kantin langsung hening karena suara Fey yang sedikit keras itu. Bahkan, para penjual makanan dan minuman sempat terhenti dari pekerjaannya. Wajah Gerrald langsung berubah pias.
“L-loh, kenapa Fey? Kita baik-baik aja bukan?” Fey mengabaikan perkataan Gerrald dan langsung beranjak pergi dari kantin. Saat kaki Fey sudah menginjak luar kantin, suasana langsung kembali seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Kecuali dengan Gerrald yang masih terpana dengan kepergian Fey. Fey Alvionita, seorang heartbreaker ulung dari SMA terelit seIbukota, baru saja melancarkan aksinya.

Kapas-kapas yang sudah berubah warna menjadi merah muda dan ungu itu, tersebar tak beraturan di atas meja rias tersebut. Fey menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah seorang gadis yang terlihat kusam. Dan kuyu. Biasanya, mata Fey akan terlihat indah dengan tambahan eyeliner, eyeshadow, dan berbagai macam kosmetik lainnya. Biasanya, pipi tirus Fey yang berjerawat akan tertutupi oleh bedak dan terlihat cerah dengan blush on yang berwarna merah muda. Biasanya, bibir Fey yang berwarna gelap dan pecah-pecah, akan tertutupi dengan liptint berwarna pink cerah. Biasanya, kulit wajah Fey yang aslinya tidak cerah, berwarna agak gelap, tertutupi oleh bedak tebal yang anehnya tidak disadari orang-orang.

Mungkin ini karena bakat menggunakan make up dari ibunya yang menurun padanya. Sedikit orang yang mengetahui kalau Ibu seorang Fey Alvionita adalah seorang make up artist papan atas. Fey adalah penganut paham seperti ini: Kalau kau tak cantik, tidak akan ada orang yang menyukaimu, mau sebaik apa pun dirimu, kau hanya akan diperalat orang lain pada akhirnya. Memilih diperalat atau memperalat? Fey selalu beranggapan kalau munafik jika kau menyangkal paham Fey itu. Lihat saja berapa banyak orang-orang yang menjual tubuh mereka demi sepeser koin yang akan habis? Lihat saja berapa banyak orang yang ditindas secara tak langsung hanya karena kekurangan fisik mereka?

Lihat saja betapa transparannya orang-orang bertampang rata-rata yang berusaha untuk tetap menjadi baik hati. Toh pada hakikatnya, manusia menyukai keindahan. Jadi, berhentilah menyangkal kenyataan pahit itu. Fey meraih kotak kosmetiknya dan mulai memoleskan alas bedak dengan sangat hati-hati. Setelah sebelumnya melirik ponsel di atas meja. Gerrald: “Fey, bisa kita ketemuan? Buat ngomongin semuanya baik-baik, aku masih sayang sama kamu.” Lihat? Orang-orang hanya melihat tampilan luar saja. Hanya segelintir yang peduli isi di dalamnya. Fey tersenyum masam. Mematahkan hati manusia bodoh itu untuk kedua kalinya sepertinya terdengar menyenangkan.

-Senyuman-

Pagi hari di sebuah SMA bergengsi sebenarnya hampir tak ada bedanya dengan sekolah lainnya. Katanya, kalau otak manusia makin pintar, rasa kepedulian juga akan meningkat. Karena manusia kan punya akal dan hati nurani untuk membantu sesamanya. Tetapi toh, sepertinya semua manusia sama saja. Masa bodoh dengan apa yang dirasakan orang lain, kalau tidak berguna bagi diri sendiri, maka akan diabaikan begitu mudahnya. Bahkan, bertingkah seolah-olah matanya telah buta. Iya, mata hatinya telah buta.

“Lo tuh cuma sampah masyarakat, gak bisa bersosialisasi, mau jadi apa?” Penindasan ya, aku sudah sering mengalami hal seperti itu. Bahkan meskipun aku memutuskan untuk bersekolah di SMA bergengsi, rupanya tidak semua anak-anak di sekolah ini punya otak. Byur!! Nah kan? Sudah ku bilang aku sudah terbiasa kalau seragamku harus basah kuyup seperti sekarang ini. Perempuan berambut panjang di depanku benar-benar tidak punya otak. “Udah yuk guys, bosen gue ngabisin waktu buat anak ansos ini.” Loh, siapa yang meminta kamu buat ngabisin waktu buat ngurusin anak ansos kayak aku gini? Aku memutar bola mata dan bangkit dari lantai koridor yang sedikit basah terkena tetes air dari seragamku. Pandangan anak-anak di koridor langsung terlepas ketika aku mulai berjalan pergi. Yah, maaf deh, pertunjukannya sudah selesai, hahaha. Lihat? Tidak akan ada yang peduli. Ku rasa rasa kemanusiaan mereka sudah hilang entah ke mana.

Krek! “Apa ada orang di sini?”

UKS kosong. Sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku melangkah menuju lemari terdekat. Mengambil seragam cadangan yang harusnya dipakai oleh anak-anak yang seragamnya kotor oleh alasan tertentu. Bukan dipakai anak-anak tertindas sepertiku. Oh ya, toh pihak sekolah juga akan menutup mata tentang ini. Setelah selesai berganti seragam, aku berjalan kembali ke kelas. “Karin! Tadi lo dilabrak si Alea ya? Lo gak apa-apa?” Satu-satunya teman yang ku miliki menyerocos saat aku baru saja mendaratkan bokongku di kursi. Aku berusaha tersenyum. “Gak apa-apa, Alea doang mah,” ujarku santai.

Dia Diandra. Karena kami satu meja, alias teman sebangkuku, aku jadi berteman dengannya. Kalau kau tak mau menyebutnya terpaksa, sih. Aku sebenarnya benci dengan hampir semua orang di sini. Karena aku tahu mereka semua itu palsu. Yah, aku juga palsu sih, hahaha. Diandra ber-ooh ria dan kembali berkutat dengan ponselnya. Lihat? Rasa kemanusiaan orang-orang zaman sekarang benar-benar menyedihkan. Tetapi ku rasa aku tidak perlu dikasihani mereka. Aku bisa meredam semua emosiku dengan caraku sendiri.

Crash!

Tes! Tes! Tes!

Aku menatap kosong tetes-tetes darah yang perlahan ke luar dari sayatan yang baru saja ku buat. Ada beberapa sayatan lama di sebelah sayatan baruku yang sudah mulai mengering. Entah sejak kapan, aku mulai melakukan ini. Self-harm. Masa bodoh dengan darahku, toh ini juga demi kesenanganku sendiri. Yah, entah kenapa, selalu ada rasa lega yang menelusup ketika aku menyayat tanganku sendiri. Ada untungnya juga aku bersekolah di SMA bergengsi itu, seragam sekolahnya adalah lengan panjang. Tapi toh, kalaupun orang-orang melihat luka ini, mereka tidak akan peduli. Karena sekali lagi, aku tidak berniat dikasihani oleh mereka, dan sebisa mungkin, aku menutupinya dengan seulas senyuman tipis. Karena aku tahu satu hal: Orang-orang hanya penasaran, bukan peduli.

-Candaan Terselubung-

Diandra memasang wajah seantusias mungkin. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, bersiap mendengarkan apa pun yang akan Fey katakan.
“Gue putus sama Gerrald,” ujar Fey dalam satu tarikan napas. Sejenak, Diandra terdiam. Berpikir harus berkata apa.
“Wow, stunning as always, Fey Alvionita,” ujar Diandra pada akhirnya. Tetapi Diandra mengucapkannya dengan senyuman lebar. Seolah mendukung perkataan Fey.
Fey mulai berceloteh tentang betapa menjengkelkannya Gerrald yang terus menerus memintanya untuk kembali padanya.

“Yah, seorang heartbreaker kayak lo emang patut di….” Diandra berpikir sejenak.
“Dikasih pelajaran! Hahaha!”
“Ish! Dasar,” Fey menggerutu pelan.
Yang saat itu Fey tidak ketahui adalah, Diandra sebenarnya serius dengan perkataannya.

Mata Diandra mendapati Karin yang baru saja memasuki kelas dengan baju yang terlihat agak kebesaran padanya. Memasang tampang penasaran sekaligus khawatir, Diandra berujar. “Karin! Tadi lo dilabrak si Alea ya? Lo gak apa-apa?” tanya Diandra dengan nada cemas.
Karin menggelengkan kepalanya dan duduk tepat di samping Diandra seperti biasanya. “Gak apa-apa, Alea doang mah,” ujar Karin sambil tersenyum tipis.
Diandra ber-ooh ria dan kembali sibuk dengan ponselnya.

“Haii guys! Ada kabar terbaru loh!” seru Kina.
“Apaan, Kin?” tanya Alice.
“Kalau gak penting-penting amat, awas lo.” balas Fani.
“Oh ya? Apaan Kin?” sambung Alea.

Diandra mengetikan sebaris balasan untuk Kina juga. Teman di grup chat yang sudah lama Alea buat. Ya, semua orang juga tahu kalau Diandra dekat dengan Alea sekaligus dengan Karin. Meskipun bukan benar-benar dekat sih. Dan Karin sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Toh, Diandra tidak pernah menindasnya, jadi bukan hal yang patut dipermasalahkan.

“Jangan bilang ini tentang putusnya Fey sama Gerrald.” jelas Diandra.
“Emang sih ada hubungannya sama itu, tapi ini bener-bener kabar yang fresh from the oven!” seru Kina.
“Apaan cepetan buset dah,” balas Fani.
“Kebanyakan pidato lo Kin,” sahut Alice.
“Oke jadi …. *drumroll* ….. GERRALD MEMUTUSKAN UNTUK MENDEKATI ALEA YAY.” seru Kina.
“WOW!” kejut Fani.
“LO GA SALAH INFORMAN KAN?” sahut Alice.
“Engga lah, semua informan gue terpercaya.” seru Kina.
“Hahaha, guys, belum tentu bener kali, udahlah, gue juga gak begitu tertarik sama Gerrald,” tambah Alice.
“Awas kalau lo jadian sama dia, gue ngambek loh Al, ngeles mulu sih, suka ya bilang suka dong,” jelas Diandra.
“Hehehe, enggaaaak kooook,” sambung Alea.
“Suka bilang Al.” seru Kina.
Yang semua orang tidak tahu adalah, saat itu Diandra serius dengan ucapannya pada Alea.

Dia suka gue…
Dia gak suka sama gue…
Dia suka gue…
Dia gak suka sama gue…
Dia suka gue…
Dia gak suka sama gue…
Dia suka gue…
Dia….gak suka sama gue

Diandra tercenung meratapi bunga yang sudah tidak memiliki mahkota lagi selembar pun. Habis Diandra cabuti dengan perasaan tak menentu. “Gerrald! Over here!” Dari celah pintu lapangan indoor itulah, Diandra melihat Gerrald dalam pakaian basketnya. Tengah asyik bertanding dengan teman-teman seklub basketnya. Tanpa menyadari kalau sepasang mata milik Diandra sudah menatapinya sejak entah berapa menit yang lalu. Diandra berbalik dan mulai menyusuri koridor yang sudah sepi. Wajar saja, bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Langkah Diandra lalu berhenti tepat di depan sebuah loker biru tua. Loker khas anak laki-laki di SMA ter-elit se-Ibukota itu. Dengan tangan yang berkeringat, Diandra menyisipkan sebuah amplop biru muda melalui celah kecil di loker. Sudah bisa ditebak bukan?

“Untuk Gerrald Fernando. Hai, Gerrald. Yah, mungkin lo gak bakal suka sama hal menye kayak gini tapi… Gue rasa gue perlu ngasih tahu hal ini ke lo. Gue suka sama lo, sejak MOS berlangsung juga gue udah merhatiin lo. Tapi lo deketin Alea aja, gue bakal seneng kalau lo juga seneng. Semoga lo bahagia ya sama Alea nanti. Dari penggemar rahasiamu.”

-Kekayaan Palsu-

“KAPAN LO MAU BAYAR SEMUA UTANG-UTANG LO, HAH?!”

Aku menutup kedua telingaku dengan telapak tangan. Meskipun percuma saja, suara ibu paruh baya itu tetap terdengar menggelegar di telingaku.
“Maaf, Bu, minggu depan pasti saya bayar,” ujarku dengan nada sememelas mungkin. Ibu paruh baya itu bernama Bu Imah. Setengah menahan amarah, Bu Imah hanya membanting pintunya tepat di hadapanku. Pupus sudah harapanku untuk meminjam uang padanya. Baru saja aku akan berbalik untuk pulang ke rumahku yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah Bu Imah, sebuah bohlam muncul di atas kepalaku. Ide brilian muncul. Aku masih punya option lain. Meskipun yang satu ini agak beresiko, sih.

Remang-remang seperti biasanya. Tetapi, aku sama sekali tak takut. Berbekal beberapa lembar uang, aku memasuki ruangan sempit itu dengan percaya diri. Seketika, tatapan semua orang yang asyik tertuju pada dadu-dadu mungil di depan mereka langsung teralihkan padaku. Senyum mereka melebar. “Wow, the Queen of G*mbling is here, guys! Welcome to home, Alea Azalia.” ujar seorang pria kekar berotot. Aku tersenyum. Ya, tidak akan ada yang menyangka bukan kalau seorang queen-bee yang terkenal seantero SMA ter-elit di Ibukota, adalah seorang penj*di yang handal?

“Al, Al, lihat deh, ini lucu banget!” Aku menoleh malas pada Kina yang menunjukkan salah satu halaman di majalah yang sedang beken. Gambar jam tangan berwarna ungu transparan dengan kilauan yang mempercantik benda itu. Fani ikut melongok pada gambar jam itu dan aku hampir meringis jijik saat mendapatinya hampir meneteskan air liurnya. Kina berseru heboh dengan Fani karena Fani ikut menyetujui kata-kata Kina barusan tentang betapa lucunya jam itu.
“Astaga, seseorang tolong beliin gue ini,” ujar Kina dengan mata terarah padaku. Tiba-tiba, Alice datang menghampiri dan berujar lantang.
“Mall yuk, guys!” Kina dan Fani bersorak heboh seolah mendapat l*tere milyaran rupiah. Aku hanya tersenyum masam dan meraba saku rok-ku. Yah, menghabiskan beberapa ratus ribu tidak masalah kan?

“Whoaaa! Makasih Alea sayang! Muah! Lo dijemput sama sopir kan? Maaf ya gue gak bisa nemenin ke jalan yang itu, soalnya arah rumah kita berlawanan,” Aku langsung menutup mulut Kina dengan tangan. Telingaku sudah tidak tahan mendengar ocehan tak bergunanya.
“Ya ya ya, kalian juga hati-hati ya, gue duluan,” ujarku sambil melambaikan tangan pada Alice, Fani, dan Kina yang baru saja menyetop sebuah taksi.

Setelah mereka semua pergi, aku melanjutkan langkahku menyusuri trotoar. Berjalan kaki selama hampir satu jam benar-benar membuat kakiku pegal! Yah, aku tidak punya pilihan lain karena …. isi dompetku benar-benar terkuras habis karena membelikan teman-temanku barang-barang yang mereka inginkan. Untungnya, kemarin malam aku menang dalam perj*dian itu, kalau tidak, aku terpaksa harus mengarang berjuta alasan untuk membuat Kina yang kepo berlebihan berhenti bertanya alasanku bolos dari jadwal shopping bulanan kami. Rumah petakan itu terlihat sangat sempit. Tetapi mau tak mau, aku harus kembali ke sana. Atau mau tidur di mana aku malam ini?

“Kamu tuh! Kerjaannya keluyuran terus, mau jadi anak apa kamu hah?!” Aku terus berjalan mengabaikan seorang pria paruh baya dengan rok*k terselip di bibirnya langsung menyambutku dengan kata-kata kejinya. Aku langsung membanting pintu setelah sampai di kamar yang sangat sempit. Bahkan tidak ada kasur di sana. Hanya ada karpet usang tempatku setiap malam tidur. Haha, inilah kehidupan sebenarnya dari seorang Alea Azalia.

-Akhir-

Seantero SMA ter-elit di Ibukota itu gempar dengan kedatangan beberapa orang berseragam polisi. Bahkan, satpam di pintu gerbang tak kuasa saat polisi itu mengacungkan surat penangkapan salah satu siswi di sana. “Permisi, kami datang dengan surat penangkapan Alea Azalia, segera ikut kami sekarang juga,” Pidato kepala sekolah sukses terhenti saat salah satu polisi berbicara dengan guru kesiswaan. Kepala sekolah juga ikut berbicara sebelum memanggil nama Alea Azalia dengan mik yang dipakainya tadi untuk pidato

“Kami punya surat penangkapannya, Alea Azalia dituduh dengan tuduhan meminjam uang pada Imah Kartika dan belum mengembalikkannya sampai sekarang! Jumlahnya melebihi sepuluh juta dan kasus ini tidak bisa dianggap ringan.” Meskipun polisi itu berbicara hanya kepada Kepala Sekolah, tetapi seantero sekolah dapat mendengarnya karena mik terletak dekat dengan polisi itu. Apalagi suara polisi itu tidak bisa dibilang kecil.

Kasak-kusuk langsung terdengar di mana-mana. Alea, berpisah dari barisannya dan melangkah dengan perasaan campur aduk. Karin, dari barisan lain, memandangnya dengan tatapan lega. Diandra, sama dengan Karin, tetapi dengan tambahan emosi senang tak terkira. Fey, memandang punggung Alea yang sedikit bergetar dengan tatapan kasihan.
Sedangkan teman-teman Alea, memandangnya menusuk. Alea hanya diam saat dua orang polisi mengawalnya, ke luar dari SMA ter-elit di Ibukota. Sekarang, riwayat queen bee paling tersohor sudah tamat.

Sudah sebulan sejak insiden penangkapan Alea, kabarnya gadis itu sudah berada di kurungan khusus untuk anak di bawah umur. Dan seantero sekolah juga sudah bosan membicarakannya. Tambahan, seantero sekolah harus terbiasa dengan queen bee baru yang menggantikan posisi Alea sebelumnya. Diandra Feronica. Tak ada yang menyangka, tetapi saat gadis itu memasuki sekolah dengan mobil sport kelas atas, semua orang langsung paham. Apalagi dengan dandanan Diandra yang jauh dari kata sederhana. Oh, dan teman-teman lama Alea juga setia menjadi anak ayamnya Diandra.

The End

Cerpen Karangan: Annisa Salsabila
Facebook: Annisa Salsabila
Annisa Salsabila. 15 tahun. Read also my other stories here! wattpad.com/wishtobefairy

Cerpen Kamuflase merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Mereka Berharga

Oleh:
Siang yang mendung dengan milyaran rintik hujan turun dari langit. Matahari bersembunyi di balik awan kelabu, seakan enggan melakukan aktivitasnya menyinari bumi. Hujan selalu bisa membuatku nyaman. Terkadang aku

Disuruh Melipat Pakaian

Oleh:
Saya memiliki empat kakak kandung dan empat adik kandung. Kami di keluarga membagi tugas tugas untuk merapihkan rumah. Keempat kakak saya bertugas mencuci baju, menjemur baju, membuang sampah, dan

Usaha Si Anak Baru

Oleh:
Hari sudah pagi, saatnya memulai aktifitas. Tetapi, Silvany masih tidur. Ia sangat malas untuk bangun. Sedangkan hari ini, hari pertama ia sekolah di sekolah barunya. Beberapa saat kemudian, ia

Kisah Sashi Di Sekolah (Part 2)

Oleh:
“Mit, lo kenal ga sama cowo yang ngobrol sama Al tadi?” “Engga, keknya bukan anak sini!” “Kita ikutin.. ikutin Mit, ngga tau kenapa, gue penasaran aja!” “Kita duluan tunggu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *