Meets Undeliberate

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 February 2016

Mata Fadha menyusuri deretan buku-buku materi fisika yang menurutnya bagus juga harganya tidak lebih dari 50 ribu. Karena dia membeli buku ini hanya untuk remedial mapel fisika, yang nilai ulangan semester ganjilnya kurang dari KKM. Di toko buku dia hanya ditemani oleh ‘my bro’-nya yang menunggu di lantai bawah, melihat-lihat buku tentang teknologi katanya. Ruangan di toko buku itu lumayan sepi dikarenakan letaknya di lantai paling atas yang tidak terlalu luas seperti di lantai bawah juga karena hanya khusus memuat buku-buku tentang pelajaran. Dikarenakan ruangan yang sepi pula dia terlalu peka dengan keberadaan sekitar selalu menoleh jika ada langkah yang menuruni ataupun menaiki tangga, kebetulan juga posisi dia berdiri dan rak buku ini dekat sekali dengan tangga.

Tidak tahu ini yang keberapa kalinya dia menoleh, sampai-sampai bertemu orang ‘itu’. Dia dan laki-laki ‘itu’ bertemu mata sekitar 5 detik, dan menurutnya itu cukup lama. Sampai laki-laki ‘itu’ hilang di tikungan rak-rak buku lainnya. Saat bertemu pandang, laki-laki ‘itu’ sedang berbicara dengan temannya, tetapi matanya tidak lepas dari Fadha hingga hilang. Fadha melanjutkan matanya menyusuri judul-judul buku lagi, sambil berpikir “Kayaknya aku kenal tuh cowok.” terus berpikir sampai ada suara yang lumayan keras hendak menuruni tangga. Lagi-lagi Fadha menoleh dan mereka bertemu pandang lagi. Laki-laki ‘itu’ asyik berbicara, hingga..

“Kamu SMA 16 kah?” Laki-laki ‘itu’ bertanya.
“Eh. Bukan.” Fadha menggeleng dan mengerutkan alisnya.
“Oh, ya sudah.” Laki-laki itu mengakhiri kemudian langsung menuruni tangga yang sempat terhenti dengan pertanyaan singkat tersebut. Sambil menuruni tangga, temannya bilang, “Tuh kan.. buat malu!”

Fadha yang mendengar itu hanya menyengir dalam diam. Karena laki-laki itu pasti berpikiran sama dengannya, sama-sama seperti pernah melihat. Dan Fadha mengingat sesuatu bahwa laki-laki itu teman SMP-nya, bukan teman, hanya mengetahuinya dari teman-teman yang lain. Selain itu, dia juga tidak pernah berkenalan resmi hanya sama-sama sering melihat karena kelas mereka bersebelahan. Dava namanya. Tidak lama kemudian, Dava kembali lagi bersama temannya yang tadi. Hanya untuk…

“Kamu SMP 2?” Dava bertanya. Karena memang Fadha sudah tersadar kalau Dava adalah teman satu SMP-nya, dia menjawab sedikit cepat, “Iya!”

Kemudian, Dava dan temannya menuruni tangga lagi dan lagi-lagi Fadha mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Entah karena ruangan yang terlalu sepi atau suara mereka yang sedikit keras, “Tuh, dia SMP 2!” Fadha yang mendengar itu terkekeh dan melihat mereka menuruni tangga sampai dasar tangga. Dan yang berbicara pelan-pelan, “hanya menanyakan itu doang naik ke sini lagi? Penasaran kali ya? Lucu eh.” Dan tanpa sadar Fadha tersenyum. Fadha memutuskan sedikit lebih lama di lantai itu, karena ‘takut’ bertemu Dava lagi di lantai bawah. Siapa tahu kan? Padahal dia sudah memilih buku yang diputuskannya untuk dibeli. Sehingga ‘my bro’-nya mendatanginya karena mungkin terlalu lama.

“Kok lama banget sih?” Tanya my bro-nya dengan tampang sedikit bete.
“Tadi ada problem hehe..” jawab Fadha sedikit salah tingkah.
“Sudah ah, yuk ke kasir.”
“Ayo. Ayo,” Fadha menarik lengan my bro-nya.

Tamat

*My bro: Kakak laki-laki Fadha, namanya Fedi.

Cerpen Karangan: Ummi Haniefa. D
Facebook: Ummi Haniefaa
Hai jika ada yang ingin menyapa atau berkenalan lebih dekat boleh add id line: ummihaniefa atau follow twitter aku: @ummi_hnf, Thank you

Cerpen Meets Undeliberate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My First Love Itu Sahabatku

Oleh:
“Yasmin tunggu!” kata seseorang kepadaku sambil menarik tanganku. “Apa?” jawabku singkat. “Minta datanya dong, kurang nih” pintanya kepadaku. “Oyaudah tukeran aja aku juga kurang” jawabku sambil menyodorkan buku. “Minta

Phobia (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan dengan gagahnya sambil memegang buku dan satu pulpen, menuju taman kecil di seberang kelas. Aku duduk sambil memandangi sekeliling dan berkata, “apakah tempat ini aman untuk membuka

Anak Bangsa

Oleh:
Rasa kesal di hati membuatku geram. Seperti kata guru seniku bahwa Angklung LAGI LAGI diklaim negara tetangga. Apa-Apaan mereka itu!. Seperti tidak ada kebudayaan Hai, namaku Ara. Aku adalah

Siaaall

Oleh:
Kriiinnnggg… Jam weker mungil di samping tempat tidur Agan terdengar meraung raung. Agan terbangun sebentar, ngulet ngulet, lalu mematikan jam weker itu. Kemudian dia melirik jam weker itu. Setengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *