Tak Kenal Maka Tak Sayang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 April 2021

Tahun ajaran baru sudah tiba. Rianti Darmawati, gue biasa dipanggil Riri. Tahun ajaran baru ini, gue naik ke kelas 7. Di kelas 7 ini, gue pindah ke MTs. Ga cuma pindah sekolah, gue juga pindah tempat tinggal karena ikut orangtua. Awalnya gue di Jakarta, sekarang gue pindah ke Depok. Gue bener-bener asing dengan suasana Depok ini. Gue ga pernah kebayang kalau gue bakal tinggal di daerah ini.

Besok saatnya gue tes untuk masuk ke Madrasah baru gue. Madrasah Salafiyah Syafi’iyyah, itu namanya. Di Madrasah baru gue ini, memang harus menjalankan 2 tes untuk bisa masuk ke kelas unggulan di Madrasah ini. Tes pertama, calon peserta didik baru harus ngerjain soal persis kaya soal ujian sekolah sekitar 30 soal campuran. Di tes kedua, calon peserta didik baru dites membaca Al-Qur’an. Saat tes pertama, gue lolos. Saatnya buat gue menjalankan tes kedua. Di tes kedua ini, gue ketemu sama temen-temen baru gue. Satu kelas berisi sekitar 20 siswa/i. Laki-laki dan perempuan tentu saja kelasnya terpisah.

Gue sekelas dengan orang yang ga gue kenal sama sekali, rasa ingin menyapa dan ngajak ngobrol temen-temen baru gue ini seperti gue ga berani alias canggung atau malu. Sambil nunggu tiap nama peserta didik dipanggil untuk tes, gue dan temen-temen sekelas diperintahkan OSIS untuk terlebih dahulu membaca Al-Qur’an di meja dan kursi masing-masing.

“Eh, lagi baca surah apa deh?” tanya orang yang duduk di sebelah kiri gue. “oh ini, baca juz 30.” jawab gue. Yes, akhirnya nama gue dipanggil, dan setelah tes selesai, peserta didik diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.

Kedua tes sudah selesai dijalani, tinggal pemilihan kegiatan ekstrakurikuler dan perkenalan guru-guru serta penentuan ruang kelas belajar dan kelas tadarus. Di hari pemilihan kegiatan ekstrakurikuler dan perkenalan guru-guru, satu kelas berisi siwa/i seperti pada saat tes waktu itu. Gue bener-bener menyendiri pada saat di kelas hari ini. Temen-temen satu kelas gue yang lain pada saling kenal dan saling ngobrol serta main bareng. Sedangkan gue, hanya duduk diam di tempat gue sambil gambar-gambar gak jelas di kertas. Gue bener-bener gengsi untuk kenalan sama mereka. Dan gue berharap, ada yang ajak gue ngobrol dan kenalan duluan. Ternyata, bener-bener gak ada yang ajak gue ngobrol atau kenalan. Gue bener-bener kesel dan sedih dan gue berfikir kenapa gak ada yang mau ajak murid baru kenalan. Karena dulu di sekolah lama gue, setiap kali ada murid baru, gue dan temen-temen gue selalu kenalan dan ajak mereka ngobrol.

Sepulang dari kelas hari itu, gue nangis dan bilang ke mamah gue kalau gue gak mau sekolah disitu. Mamah gue mencoba ngehibur dan nenangin gue untuk tetap mau sekolah disitu. “mah! ga mau ah sekolah di situ, ga ada temen!” ucap gue kesal sambil cemberut. “ya belum lah, sabar, baru juga masuk, nanti juga banyak kok temennya.” ucap mamah gue.

Gue langsung masuk ke kamar dan masih kesal dan bertekad untuk gue tetap gak mau sekolah di Madrasah itu. Besok adalah hari dimana penentuan ruang kelas dan perkenalan dengan guru-guru. Gue masih tetap gak mau masuk sekolah karena gue takut gue akan dicuekin seperti tadi. Orangtua gue tetap gak ada berhentinya untuk membujuk gue supaya tetap mau masuk sekolah besok. “besok masuk kan?” tanya mamah gue. “ga mau ah, ga ada temen.” kata gue cemberut. “yeh gimana sih, baru juga pertama masuk ya wajar lah belum ada temen, bukan ga ada temen.” “emang pas awal masuk sekolah bisa langsung kenal sama semua temen-temennya? ya engga kan.” jelas mamah.

Keesokan harinya, gue masuk sekolah dengan hati gak enak dan rasa terpaksa. Gue duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Saat di kelas, masih belum ada yang ajak gue kenalan. Lalu, waktunya perkenalan dengan guru-guru tiba. Dan setelah perkenalan dengan guru-guru, waktunya istirahat. Saat istirahat, ada sekumpulan ciwi-ciwi di kelas yang ajak gue buat gabung sama mereka. Gue masih gengsi, tapi gue seneng ada juga yang ajak gue gabung untuk ngobrol. “hey kamu, sini gabung.” ajak salah satu cewe dari sekumpulan ciwi-ciwi itu. “eh, iyaa…” jawab gue sambil tersenyum gengsi. Gue gak gabung sama mereka dan mereka ngajak gue untuk yang kedua kalinya. “eh kamu, ayo sini.” “iya, sini gabung.” ajak mereka. Lagi-lagi gue menolak. “iya gapapa disini aja.” jawab gue.

Akhirnya, penentuan kelas pun tiba. Gue melihat daftar nama dan mencari nama gue yang di tempel di depan kelas 7. Alhamdulillah, gue masuk kelas unggulan.

Hari pertama ajaran baru dimulai. Setiap siswa/i masuk ke kelas masing-masing. Gue masuk ke ruang kelas 7-2, kelas unggulan. Ternyata, saat gue masuk ke ruang kelas gue, cewek yang kemarin ajak gue buat gabung untuk ngobrol sama dia dan gengnya, satu kelas sama gue. Tapi sepertinya, dia ga sadar kalau ada gue yang satu kelas sama dia. Dan gue pun duduk di samping teman baru yang belum sempat gue kenal dari kemarin.

Sambil nunggu wali kelas dateng, gue dengan beraninya berkenalan dengan teman cewek yang duduk di samping gue itu. “nama kamu siapa?” tanya gue. “Siska.” jawabnya. “kamu?” “aku Rianti, biasa dipanggil Riri.” ucap gue. “kamu asal sekolah mana Ri? SD atau MI?” tanya dia tentang asal sekolah gue. “aku dari SD Sis, kalo kamu?”. “owh, kalo aku dari MI.” jawab Siska. “oke, salam kenal Sis!” “salam kenal Ri!” Dari situ kita mulai ngobrol sambil menunggu wali kelas datang.

Saat wali kelas datang, setiap murid diminta untuk maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri masing-masing. Tiba giliran gue untuk maju ke depan. “hai teman-teman, nama saya Rianti Darmawati dan biasanya saya dipanggil Riri. Saya berasal dari SD Nusantara 01, Jakarta Timur.” kata gue memperkenalkan diri. “Salam kenal Riri. Wah, berarti kamu pindah rumah juga ya?” tanya wali kelas. “iya Bu, saya pindah rumah juga.” jawab gue. “oke baik, kamu boleh duduk, terima kasih Riri.” Dan gue pun kembali duduk. Dan ternyata, cewek yang kemarin ajak gue ngobrol, namanya adalah Ziah.

Hari pertama ajaran baru sudah gue lalui. Dan sudah minggu ke 3 gue belajar di MTs ini. Gue juga sudah lumayan akrab dengan teman-teman disini. Bahkan, Ziah dan Siska pun sekarang jadi teman dekat gue.

Hari ini, 2 pelajaran telah selesai dan waktunya istirahat. “eh Ri, ke kantin yok.” ajak Ziah ke gue. “kuy lah.” “eh eh, gue nitip dong.” pinta Naya, teman satu kelas gue juga. Naya memang rada malas kalo ke kantin, dan dia suka nitip ke teman satu kelas yang mau ke kantin saat jam istirahat. “mau nitip apaan Nay?” tanya gue. “yaelah nitip mulu, jalan kek sekali-kali.” nyinyir Ziah kepada Naya. Ziah memang tidak terlalu suka kalau ada yang nitip saat gue dan Ziah mau ke kantin. “iye Zi iyee yaudeee.” balas Naya dengan tatapan sinis dan senyum becanda. “hahah, canda Nay.” ujar Ziah. Akhirnya, gue dan Ziah pun terima titipan Naya.

1 bulan gue disini, makin banyak yang gue kenal dan makin menambah keakraban dengan teman-teman yang udah gue kenal. Dan gue teringat kata pepatah ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’ yang berarti, jika kita belum mengenali seseorang, maka kita tidak dapat perhatian dan kasih sayang orang tersebut dan kita pun juga tidak mungkin menyukai orang tersebut. Dan begitu pun sebaliknya.

Kenali, kasihi, dan sayangi.

Cerpen Karangan: Mumtaaz Qadhifa
Nama Saya Mumtaaz Qadhifa. Umur saya 14 tahun. Saya kelas 2 MTs.
instagram: @mumtaaz29

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 April 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Tak Kenal Maka Tak Sayang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friendzone (Part 1)

Oleh:
Aku Ditha dan dia Radit, teman-teman menjuluki kami “Raditha”. Eits, seperti judulnya, kami hanya berteman atau lebih tepatnya sahabat. Aku dan Radit sekelas sewaktu SMP dan sejak SMP pula

Perjalanan Silatku

Oleh:
Burung berkicau matahari memamerkan keindahannya, aku bergegas menuju ke sekolah. Istirahat pun tiba kakak kelas osis sosialisasi di kelas kelas tentang memilih ekstrakulikuler apa yang diminati tidak ketinggalan kelasku

Rasa

Oleh:
Dia menangis di pundakku dengan sesegukannya. Dia, adikku satu-satunya Dania namanya. Setiap kali dia menangis rasanya aku ingin sekali marah padanya. Alasan dia menangis selalu saja sama, memalukan. Betapa

Karena Hati Memberontak

Oleh:
Kau tahu sulitnya menghentikan hati yang memberontak? Sulit bukan. Begitu juga aku, sulit menghentikan diriku sendiri ketika berbuat suatu hal yang dianggap buruk bahkan oleh diriku sendiri. Sesuatu yang

Dia

Oleh:
Udara pagi ini terasa begitu sejuk. Para orang tua berlomba-lomba untuk beribadah. Begitu juga dengan aku yang sedang berjalan menuju ke Masjid yang tidak berjarak jauh dari rumahku. Suatu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *