Biruku, Jingga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 15 July 2013

Dia Leya, gadis manis seumuran artis cantik Ariel Tatum ini baru saja menyelesaikan studinya di SMA 63 Jakarta. Dia sekarang melanjutkan studinya di Fakultas ekonomi atau dikenal juga dengan Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Niatannya yang kuat untuk bisa mengenyam pendidikan di universitas yang berlokasi di Depok ini berakar dari mamanya yang hobi sekali berbisnis.

Leya yang supel, easy going ini tidak cemas dengan keberadaannya di negeri antah berantah ini, tak perlu berlama-lama untuk mendapatkan teman ngobrol karena semenjak ia menginjakan kaki di kampus ini, ia sudah menggaet teman yang menurutnya tepat.

Menyandang predikat mahasiswa itu tidak mudah, mahasiswa di tuntut harus dewasa, harus demokratis tapi nggak anarkis. Mahasiswa kini disandang Leya, siap nggak siap ya harus siap. Bagaimana pun cita-citanya itu haruslah tercapai, memiliki rumah bergaya minimalis bernuansa klasik, mobil mewah dengan seperangkat interior teranyar, tiga anak, dua kembar laki-laki dan satu perempuan, suami yang setiap pagi dibuatkan kopi dan memakaikan dasi di kemejanya telah ia bayangkan masak-masak. Terlalu muluk-muluk memang, tapi setidaknya hayalan itu bisa membuatnya semangat menempuh sarjananya itu.

Kuliah hari pertama. Yeaahh semangat! semangat yang membuncah melebihi angkatan bersenjata periode Soekarno membuat Leya rajin bangun pagi. Sesuatu sekali baginya jika dia bisa bangun sepagi hari ini. Dia memikirkan suasana yang baru, yang dimana ada orang menenteng buku dengan kacamata tebal, ada yang memakai sepatu beraneka ragam dengan celana jeans dibalut kemeja yang ringan, ada yang memakai rok bermotifkan warna warni dengan rambut belah tengah yang lagi ngetrend sambil ketawa ketiwi bareng teman-temannya. ya, ini adalah suasana di universitas yang indah yang jauh dari suasana SMA yang bajunya itu-itu saja.

Di rumah yang tidak begitu mewah Leya berangkat dengan sepeda motornya yang di juluki ‘si poodel’. Terinspirasi dari ras anjing yang sangat lucu, Leya pun menamainya Poodel, motor matic berwarna pink disentuh dengan sedikit corak hitam bermotif bunga rambat yang kemana-mana setia mengantarnya ini adalah motor kesayangannya. Dengan rambut di jepit separuh, berkemeja kuning gold dengan renda di leher sampai dada, celana panjang hitam berbahan spandek, sepatu wedges, dilengkapi dengan tas bernuansa vintage menambah lengkap dan perfect penampilannya hari ini.

Sekitar setengah jam dari rumah akhirnya tiba di parkiran kampus yang suasananya masih basah dengan udara pagi ditambah alunan suara-suara renyah dari gerombolan mahasiswa yang hendak bermisi. Leya memarkirkan si poodle dengan cantik, berjejer serempak dengan motor-motor yang lainnya. Leya berjalan bak model, ditambah badannya yang tinggi semampai dia berjalan menyusuri tanah yang dibalut aspal dan keramik menuju tempat yang maha megah.

“Leya!” tiba-tiba suara keras memanggil itu mengharuskan dia untuk menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang. Rupanya Amar yang memanggil. Segera saja Amar menghampiri gadis yang berzodiak Gemini itu.
“sendiri saja.” ucap Amar singkat, Leya tersenyum kikuk membalas gumamnya. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kelas yang kebetulan saling tetanggaan. Amar adalah pria yang lama naksir Leya, dari SMA dia menaruh hati padanya, tapi Amar belum juga mau mengungkapkan karena dia tahu bahwa Leya sudah milik orang lain yang notabene adalah teman dekatnya.
“kamu tadi berangkat sama siapa?” Leya mencoba bertanya seadanya sambil terus berjalan. Leya tidak terlalu menyukai Amar karena dia sangatlah aneh menurutnya.
“aku? aku berangkat sendiri, habis mau sama siapa lagi, pacar juga belum punya, hehe” canda Amar yang bermaksud memancing Leya untuk memperdulikannya.
“oh, ya kamu nyari dong pacar, disini kan bejibun cewek yang cantik, ya seenggaknya nggak bikin kamu rese.” sindir Leya ketus yang dari tadi tahu maksud Amar.
“nanti kita bareng saja berangkatnya, searah ini kan? nanti aku jemput deh, gimana?”
“no, thanks” jawab Leya datar dengan langsung masuk ke kelas meninggalkan Amar sendiri melongo di depan pintu kelas Leya. Lantas Amar garuk-garuk kepala yang tidak gatal dan dia segera mengalihkan pandangannya dari Leya ke arah kelasnya dengan muka di tekuk.

Leya sungguh antusias sekali dengan suasana kelas barunya itu, ia mencoba beradaptasi dengan suasana itu yang selama 4 tahun ini bakal ia hadapi. Teman-teman Leya yang dikenalnya saat pertama mendaftar ternyata tidak satu kelas dengannya, ya terpaksa dia harus kembali mendapatkan teman seperjuangan.

Leya duduk di dekat Andin yang baru saja dikenalnya. Setelah beberapa menit bercengkrama rupanya Andin telah memikat hati Leya untuk menjadi teman sejagad dan seperjuangan, Leya memang easy going jadi tak berlangsung lama dia sendiri tanpa teman.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam telah di laluinya di kampus. Tibalah saatnya untuk pulang. Tapi Amar tak lagi menampakan batang hidungnya padahal jadwal hari ini sama.
“Ya, aku duluan yah? Buru-buru nih, mau nganter mama soalnya ke rumah sakit. bye!” Andin pamitan sambil mengemas buku-buku dan lekas meninggalkan Leya dengan terburu-buru. Rupanya Andin anak yang cukup berbakti.
“iya, hati-hati yah.” Leya menjawab dengan sedikit teriak.

Tak lama Leya juga meninggalkan kelas dengan mata tertuju ke arah kelas sebelah yang merupakan kelas Amar. Leya bermaksud memastikan bahwa Amar sudah pulang karena dia enggan terus di buntuti oleh anak aneh itu. Amar adalah orang yang lumayan pintar, dia kutu buku dan agak individualistis. Dia sering menyendiri, dan sarangnya ialah perpustakaan, dia termasuk pria yang nggak fasih dalam hal percintaan, jangankan pacaran, mendekati wanita saja dia masih enggan, dan tak tahu kenapa pada Leya dia begitu antusias.

Berjalan sendiri menyusuri ruang-ruang berpenghuni dengan diiringi suara bising para penghuni, senti demi senti, meter demi meter Leya berjalan, sampai pada akhirnya ia sampai di halaman tempat parkir yang dimana terdapat si poodle menunggu. Ternyata di luar hujan lumayan deras, Leya kebingungan karena ia tidak sempat membawa jas hujan. Leya berjalan menghampiri si poodle dengan maksud ingin menyimpan buku-buku yang di bawanya ke bagasi, tapi tiba-tiba Leya harus berhenti sejenak karena ada seseorang yang mengalihkan pandangannya. Leya menyipitkan matanya, menajamkan pandangannya kepada sesosok pria yang mengenakan jas hujan berwarna kuning dengan motor bekjule yang di dorongnya. Pria itu mendorong motor mini miliknya yang rupanya mogok di tengah hembusan angin dan terpaan hujan jauh di tengah halaman kampus yang luas. Amar rupanya, dia memaksakan diri untuk pulang walau hujan sekarang semakin deras. Dia memang orangnya cuek, jangankan memikirkan penampilan mandipun sepertinya sering lupa, jas hujan pun ia pakai seadanya, amburasut. Dengan terus berjalan, Amar meninggalkan pandangan Leya yang sedaritadi mengamatinya. Leya tidak sebodoh Amar kalau urusan yang seperti ini, dia memilih untuk menunggu hingga hujan reda.

Hari sudah tampak gelap, burung-burung berterbangan kesana-kemari bercengkrama, air menetes di dedaunan dan terhampar di jalanan, langit seakan berubah menjadi jingga, rupanya hujan sudah reda. Leya segera menghidupkan motornya dan langsung bergegas pulang menembus rintik-rintik sisa hujan deras tadi.

Setengah perjalanan Leya dikejutkan oleh seorang laki-laki yang dia hafal betul pakaian dan postur tubuhnya. Amar. ya, Amar. Rupanya dia sedari tadi belum pulang, belum sampai ke rumah, dan miris, dia masih tetap saja mendorong motor mininya itu. Satu jam kebelakang Leya masih menunggu di kampus dengan hujan deras tak henti, dan sekarang satu jam berlalu Amar masih saja menuntun kudanya itu.
“Amar!” sapa Leya sembari menghentikan motornya dan melihatnya tajam-tajam. “motor kamu kenapa? Kamu dari tadi hujan-hujanan?” sambung Leya sambil mengendarai motornya pelan karena Amar tidak mau berhenti berjalan. “Amar, jawab dulu!” kata Leya dengan suara agak keras. Rupanya Amar kedinginan dan kelelahan sehingga dia malas untuk menjawab panjang lebar. Bibirnya juga pucat gemetar, air mukanya sayu tak berbekas.
“eh, Leya. Iya nih motor aku mogok, mau ke bengkel uangnya abis jadi terpaksa aku dorong.” jawab dia senyum dan sedikit malu.
“ya ampun, kenapa kamu nggak nunggu hujan reda Amar? Kan bisa barengan pulangnya sama aku.”
“aku tadinya mau pulang cepet, soalnya ibu aku nungguin.”
“ya sudah, nanti di depan ada bengkel, kita ke bengkel saja dulu, rumah kamu masih lumayan jauh kan? biar nanti aku yang bayar.”
“gak usah Ya, ngerepotin.”
“nggak kok, tenang saja.” Leya menjawab dengan senyuman, ia kasihan melihat temannya yang sedari tadi menuntun motornya dengan sepatu dan juga celanaya yang basah karena Amar hanya memakai jas hujan atasnya saja.

Suara bising dari tukang bengkel yang sedang menggeret-geret besi tak jelas itu membuat Leya kurang nyaman berada lama-lama di sana, rupanya bengkel sepeda motornya menyatu dengan tukang las, jadi nggak salah kalau ada tukang yang sedari tadi menggulati besi-besi yang hitam karat itu.

Leya dan Amar duduk di samping bengkel yang agak jauh dari tukang yang membuat bising itu, mereka tak banyak bicara, Leya yang sedari tadi mengamati pria setengah baya yang sedang asyik mengobrak-abrik motor Amar rupanya membuat Amar keki, dia tak tahu harus berbuat apa dan dia lagi-lagi garuk-garuk kepala.
“emm.. Leya.” suara Amar yang sedikit agak ragu-ragu memanggil Leya yang rupanya di dengarnya dan ia terperanjat sedikit kaget.
“hmm.. iya? apa?” jawabnya dengan pikiran masih belum normal pasca melamun tadi. Ia pun langsung mengatur posisi duduknya sehingga saling berhadapan. “ya, ada apa Amar?” Tanya Leya yang sudah normal kembali pikirannya.
“Anu.. enggak, aku Cuma mau bilang makasih kamu sudah mau bantu aku.” Jawab Amar dengan muka masam agak gerogi.
“sudah, jangan di hiraukan, kita kan sudah berteman lama jadi nggak perlu canggung gitu ah.”
“iya, tapi aku tetap nggak enak, dompetku sebenarnya ketinggalan di rumah jadi aku ke kampus nggak bawa dompet, nanti aku ganti yah uang kamu.”
“ya udah tenang aja kali gak usah sibuk gitu.”

Tak sempat 20 menit mereka berbincang, tiba-tiba pria setengah baya itu memanggil pemilik motor mini itu, “mas, motornya sudah selesai.” ucapnya.
Leya pun menghampiri bapak-bapak pegawai bengkel itu untuk bertransaksi, sedangkan Amar menunggu dengan air muka sayu karena dari tadi ia kedinginan dan belum makan. Sungguh tragis nasib Amar hari ini. Tak lama Amar menghampiri Leya dan lantas membawa sepeda motornya itu. “makasih ya pak!” kata Amar sembari menuntun motor agak ke pinggir jalan.
“jadi ini gimana?” ucap Amar bingung.
“gimana apanya? Ya sudah pulang.” Jawab Leya dengan raut muka kecut.
“tapi kamu gimana? Aku antar yah? ini sudah malam, nggak baik perempuan pulang malam-malam sendirian.”
“nggak usah, aku udah biasa kok pulang malam, lagian rumah aku gak jauh dari sini, atau kamu mau mampir dulu?”
“oh, nggak, gak usah aku langsung pulang saja takut orang tua khawatir. Ya sudah kalau begitu kita bareng saja sampai pertigaan.”

Mereka pun mulai melajukan kendaraan berbarengan, memasuki daerah sekitar kompleks yang suasananya agak sepi mengharuskan mereka berpisah, rumah Leya berada di kompleks tak jauh dari bengkel tadi, sedangkan Amar harus menempuh beberapa kilo lagi untuk sampai di rumahnya.

Hahh.. akhirnya Leya bisa merebahkan badannya di atas kasur empuk di balut seprai biru pulkadot dan sedikit meluruskan pinggangnya yang sedari tadi dirasanya pegal terpilin. Suasana kamar yang sunyi seakan menina bobokan dirinya dalam alunan gemercik air yang menetes dari langit untuk bumi, hujan lagi. Terlelap dalam terpaan angin semilir yang masuk menembus celah-celah jendela, merambat menggeliat menembus dinding-dinding tirai sutera, ditambah gemercik air yang turun membawa mimpinya ke dalam surga para Dewi. Lelap, sunyi menunggu hari esok tiba.
Kring, kring, kring..
Suara apa itu?
Suara teleponkah?
Atau suara jam weker? Entahlah, Leya masih dibalut rasa kantuk yang begitu susah untuk enyah dari kelopak matanya. Sekejap suara itu hilang, dan sekejap pula suara itu kembali membangunkan kesadarannya. Jemari lentiknya mencoba mengucek-ngucek matanya yang dari tadi susah untuk dibuka, perlahan matanya terbuka walau agak pelit. Dilihatnya handphone. Telepon dari Age, segeralah ia angkat.
“Hallo.” Leya mencoba membuka mulut dan mengeluarkan suara mendesah berat yang mengharuskannya untuk berbicara. “iya ini bangun.” Jawab Leya sambil mencoba bangkit dari tidurnya. Tangannya kembali mengucek-ngucek matanya lalu menguap. Sekarang jiwanya sudah terkumpul dan pikirannya sudah kembali normal.
“kamu shalat dulu, ini sudah jam lima lebih Leya.” Katanya perhatian. ‘kemarin kemana saja kamu? Kok sekarang baru muncul?’ Desah Leya dalam hati bertanya-tanya. Yah beginilah adanya, sudah menjadi hal biasa ditinggal pacar sibuk kerja.
“iya,aku bangun. Kemarin aku pulang agak malam jadi cape sekali, kamu kapan pulang ?” Tanya Leya agak lusuh.
“Nanti, kira-kira satu mingguan lagi aku pulang, sabar saja yah sayang.” katanya yang mencoba membujuk dan menenangkan hati Leya.
“iya deh, ya sudah aku mau wudhu dulu habis itu aku mau tidur lagi, kuliah masuknya siang soalnya, dah sayang.” Leya langsung beranjak dari tempat tidurnya sambil memegang handphone yang belum Age tutup.
“ya sudah, nanti aku bangunin yah.” Tut tut tut akhirnya handphonenya ditutup. Lekas Leya ke kamar mandi dan sebentar mengikat rambutnya yang panjang.

Tak sampai 15 menit Leya pun bergegas menghampiri ranjang dengan menarik selimut untuk mengusir rasa dingin yang menggerogoti tubuhnya. Ia tertidur kembali tanpa pikir panjang.

Suatu pagi yang indah dimana mentari terbit dari sarangnya menyinari alam yang basah tertimpa hujan semalaman, menyinari daun-daun yang butuh untuk berfotosintesis, menerangi bumi yang muram, semilir angin menyelingit masuk lewat celah kaca masuk menembus celah-celah selimut yang menusuk tulang dan rasanya kali ini dinginnya bertambah. Leya pun tak sadar menarik selimutnya rapat-rapat dan tak berselang lama matahari pun memancar, lurus mengenai matanya. Segera Leya membuk mata dengan tangan menutupi mukanya yang masih ngantuk.
“Ahh mama, masih ngantuk ma.” Gerutu Leya yang kembali menarik selimut dan merubah posisi tidurnya.
“Bangun!” suara Tante Linda, mamanya berkata agak keras tapi masih lembut. “Leya, bangun! ini sudah siang, ayo mandi kita sarapan!” ucap Tante Linda sembari menarik selimut dari dekapan Leya dan mencoba melipatnya. Terpaksa Leya pun harus bangun dengan mata terkantuk. Lekas ia ke kamar mandi dengan hanya mencuci muka dan gosok gigi karena mandi hanya ia lakukan bila ia akan berangkat ke kampus.

Terlihat aktifitas di rumah rupanya sudah berlangsung, mbok Nah Nampak sedang mengepel lantai luar rumah yang basah terkena cipratan hujan semalam. ‘Papa, mama, dan Agil rupanya sudah nongkrong di meja makan.’ Leya yang masih beraura malas itu akhirnya turun tangga.
“pagi pah, pagi dek.” Sapa Leya yang belum sampai di meja makan. Ia duduk di samping Adiknya dan langsung menuangkan susu ke dalam gelas tinggi yang sudah di siapkan Tante Linda.
“kamu kuliah jam berapa?” Tanya Om Edo mengawali pembicaraan. “Anak perempuan itu harusnya bangun pagi, bantu beres-beres rumah. kamu itu…”, ‘Papa lagi-lagi berceramah, sudah berapa kali Papa ceramah dengan topik itu lagi itu lagi.’ Leya mengendus dalam hati. Dan tanpa menghiraukan omongan papanya Leya pun menyantap nasi goring buatan Tante Linda dengan sangat lahap.

Tak selang beberapa menit, mereka pun memulai aktivitasnya masing-masing, Agil berangkat sekolah bersamaan dengan papanya, tante Linda harus mengurus bisnisnya bersama rekan-rekan seperjuangannya, biasa lah ibu-ibu sibuk mengurus dagangannya, sementara Leya menunggu pukul 13.00 WIB untuk memulai aktifitasnya di kampus dengan menonton TV.
Jam dinding dirumahnya menunjukan pukul 10.15 WIB, Leya ternyata masih asyik nongkrong di depan televisi dengan menenggerkan chanel FTV, tiba-tiba suara bel berbunyi. Leya lalu beranjak dari sofa bercorak bunga-bunga dan menuju pintu depan. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan empat Leya membuka pintu depan rumah, raut wajah Leya tiba-tiba terngangah, mulutnya diam membisu, matanya membelalak seakan mau keluar, dia kaget melihat orang yang berdiri di depan pintu.
“Surpise!” teriak Age dengan menunjukan beberapa tangkai bunga mawar kehadapan muka wanita itu. Sedetik, dua detik masih tidak ada respon dari Leya, pikirannya masih kacau di terkam rasa kaget. Gila, Age kok bisa berada disini tanpa sepengetahuan Leya. Dan tiga detik berlalu Leya membuka mulutnya.
“ya ampun. kapan pulang? kok nggak ngasih tahu sebelumnya? Emangnya libur? Dari siapa kamu mendapatkan ide gila ini? katanya seminggu lagi, dasar licik.” Age langsung di banjiri pertanyaan oleh kekasihnya itu.Tanpa diberi kesempatan untuk menjawab, Age langsung ditarik oleh Leya masuk ke dalam. Mereka duduk di balkon belakang rumah dengan ditemani segelas jus jeruk buatan mbok Nah, di suguhi keadaan hening tenang, dijamu bunga-bunga yang cantik kesayangan Tante Linda, dideru angin sepoy-sepoy yang akan menciptakan suasana indah seindah hati Leya kala itu.

Dengan hati beriuh-riuh kegirangan, dia merengek-rengek pada kekasihnya itu seraya ingin diceritakan perjalanannya kali ini untuk sampai kerumahnya.
“sejak kapan Abang datang?” abang? Abang Toyib? Ahh Leya memang tidak seromantis anak muda biasanya, tidak menganut ‘Ayah-Bunda’, ‘Abi-Umi’, ‘Pipi-mimi’, and whatever seperti kebanyakan anak muda pada era sekarang ini. “makasih yah bunganya.” lanjut Leya yang dari tadi senyum-senyum girang tak terhingga. Jelas saja, dia mengalami hal yang namanya Long Distance relationship dengan kekasihnya itu, selama 3 bulan lamanya dia baru kali ini bertemu lagi.
“tadi pagi Abang pulang Ya, sengaja nggak bilang dulu, kalau bilang nanti bukan lagi kejutan dong. Tapi nanti lusa juga sudah harus kerja lagi, makanya abang buru-buru pulang, soalnya abang kangen banget sama Leya.” Jelasnya. Leya buru-buru menukik, merengutkan bibirnya ke bawah mendengar kata-kata itu ‘nanti lusa juga sudah harus kerja lagi’ hanya tiga hari waktu yang diberikan Age untuknya, dan sangat singkat.
“sekarang antar aku ke kampus yah?” kata Leya sembari menyeruput jus jeruk miliknya.
“jam berapa? Oh iya, mama kamu kemana?”
“mama biasa, ngurus bisnisnya sama teman-temannya sekalian arisan katanya. Oh ya, jam satu aku ke kampus, sebentar lagi aku mandi.” Leya menarik senyuman menyeringai malu karena belum mandi.
“emmh” Age menatap sudut benteng penyekat rumah yang terdapat kolam ikan dengan air mancur dan bunga-bunga indah menghias. “nanti sore aku ada acara keluarga, jadi aku nggak bisa sampai sore bersamamu, kamu gak apa-apa kan?” langsung saja air muka Leya berubah menjadi layu, senyumnya berubah menjadi sendu, bibirnya ditarik ke bawah, Leya mengerutkan keningnya lantas berkata.
“Acara apa?” singkatnya dengan muka penuh harap, berharap Age bisa meluangkan waktu lebih banyak dengannya, rupanya harapan itu tidak bisa Age kabulkan, dia tetap tidak bisa menemani Leya yang sedari tadi merindukannya itu.
“Aa..ac.. acara nikahan, ya nikahan, benar sekali.” Tampak Age menjawab dengan kikuk, matanya memutar tampak berpikir keras, tangannya tampak diremas-remas, duduknya sempoyongan, pantatnya tak bisa diam, ada apa dengan Age ini?
Dengan hati jengkel akhirnya Leya meninggalkan Age sendiri menyuruh untuk menunggunya mandi dan ritual lainnya. Age menunggu dengan terus mengutak atik handphonenya dan dilihatnya lamat-lamat, tingkah dia kali ini benar-benar aneh. mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengan Leya dan terlalu lama di Medan jadinya kaku seperti ini.
“Ayo!” ajak Leya yang sudah siap, dengan wangi parfum beraroma nyaman menyebar ke seluruh ruangan, kali ini ia mengenakan kaos panjang agak longgar berwarna merah marun dengan aksesoris kalung yang di gantung di lehernya, kali ini rambutnya ia biarkan terurai, cantik sekali, ia jadi terlihat lebih segar pada penampilannya kali ini, lebih santai, casual.
“kamu cantik sekali.” puji Age yang segera membalikan badannya menghadap Leya. Tampak Leya tidak menggubris gombalanya itu dan segera membalikan badannya pergi menuju halaman depan yang diikuti Age kemudian.

Tampak mobil Mitsubishi Outlander Sport bertengger di garasi rumah Leya. ‘tut tut’, alarm mobil berbunyi dan Leya lekas masuk tanpa mengindahkan sikapnya. Nampak air muka leya mengkerut sedari tadi tapi ia berusaha nampak tenang kepada Age.

Wuss, mobil yang ditungganginyapun melesat cepat menuju Universitas yang masuk dalam katagori tiga terbaik bersama dengan Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Bandung ini. Mobil dengan tenaga 150 bhp ini mendarat tepat di pinggir mobil Honda CR-V berwarna putih dan berjejer rapi dengan mobil-mobil orang Jepang mendominasi.
“oh ya, aku pulang agak sore, kira-kira pukul lima aku bubar kelas, kamu..” perkataannya sedikit tersendat mengingat perkataanya tadi beberapa jam silam. “kamu mau menjemputku tidak ?” dengan raut wajah sedikit muram ia melanjutkan perkataannya.
“aku lihat nanti yah? Aku berangkat jam tiga soalnya, nanti kalau aku sudah selesai aku akan hubungi kamu, yah?” Leya tanpa basa basi langsung membukakan pintu dan sedikit berkata “yah, terserah kamu.” Lantas meninggalkan Age sendiri di dalam mobil, Leya segera mungkin melangkah menuju kampus tanpa menggubris kekasihnya itu.

Dilaluinya langkah demi langkah gedung-gedung itu, terlalu jauh memang untuk sampai di kelas perkuliahannya. Tiba-tiba laki-laki melintas di hadapan mukanya dengan wajah menekuk yang menghentikan langkah gadis itu.
“Ada apa Amar?” kata Leya sinis, dia masih jengkel dengan sikap Age terhadapnya sehingga Amarpun ikut tersangkut dalam kejengkelannya.
“Aku mau mengembalikan uangmu.” Amar lalu menyerahkan uang kertas satu berwarna hijau dan dua berwarna merah tua.
“Tidak usah, kau ambil saja!”
“Tapi…” belum juga Amar slesai dengan ocehan selanjutnya, Leya buru-buru mengayunkan tungkai kakinya dan segera ke kelas. Memang Leya suka tidak sopan bila bersama Amar, meninggalkannya begitu saja, ck ck.

“Hai Leya. sudah selesai tugasnya?” Andin bertanya senyum. Astaga! air muka Leya membelalak, jantungnya seakan dihantam benda runcing, dicabik cakaran kucing, ah tidak, lebih tepatnya lagi di cabik cakaran citah. Ya, dia belum sama sekali mengerjakan tugas itu, Apakah ada tugas? tugas apa? Dia benar-benar lupa.
“Apa? Aku lupa Andin, ahh bagaimana ini?” Leya cemas, sangat cemas. Ya, dia ingat sekarang, kemarin kan dosennya memberikan tugas, ekonomi biaya mempunyai tugas. Keringat dingin mengucur dari punggungnya. ‘Baru juga beberapa pekan menjadi mahasiswa sudah membuat kesalahan.’ gerutunya dalam hati.
“Kamu itu, masa sudah lupa, baru juga kemarin. ahh kamu ini.” Ledek Andin sambil kembali menulis, entah apa yang ditulisnya Leya tidak tahu, yang ada di benaknya kali ini adalah tugas, tugas, dan tugas.
“Hari ini dosennya tidak masuk, diganti minggu depan jadi kita nanti masuk lagi jam tiga.” Suara pengumuman itu membahana, menghembuskan aura dingin menusuk jiwa yang ketir. Lega, akhirnya dewa Ea, sang dewa kebijaksanaan hadir di kelasnya, bukan untuk mengejar sarjana tapi untuk membagi secercah kebahagiaan dan membebaskan Leya dari siksaan dosen. Sebersit senyuman melintas di bibirnya yang sedari tadi ia tekuk.

Langit mulai mendung, burung-burung mulai bersembunyi di balik sarangnya, kilatan Guntur menembus jendela ruangan, riuh suara angin, gelap menyelinap, tak lama hujan turun dengan deras. Waktu sudah menunjukan pukul 05.15 WIB saatnya Leya pulang. Dia mencoba menghubungi Age yang sedari tadi tidak menghubunginya. Teleponnya tidak di angkat, kemana dia?

Leya berjalan keluar ruangan, turun ke lantai dasar berdama Andin sahabatnya. Leya Nampak kebingungan, lagi-lagi hujan. Sekarang poodle tak menemaninya, dia berharap Age menjemputnya tapi dia tidak berharap lebih.
“kamu pulang sama siapa?” suara laki-laki, Leya kenal dengan suara itu.
“Nggak tahu, mungkin sendiri naik bus.” Kata Leya malas. Lagi-lagi Amar mngganggu hidupnya, kenapa laki-laki ini suka sekali mendekati Leya? Leya tidak menyukai sikapnya karena dia berpikir Amar laki-laki yang Aneh, Individualistis, kutu buku, introvert.
“Aku harus ke Perpustakaan dulu mengembalikan buku ini, nggak apa-apa aku tinggal?” Andin menyelingi pembicaraan mereka dan lekas pergi.
“Kalau kamu lama aku pulang duluan yah?” teriak Leya pada Andin yang sudah berada jauh di hadapannya, Andin mendengar dan membalikan badannya lalu mengangkat tangan dan jarinya membentuk kode yang mengartikan ‘Oke’.

Lama Leya menunggu jawaban dari Age yang mungkin belum tentu akan menjemputnya. Amar dari tadi setia tanpa beranjak.
“kamu masih disini?” Leya dari tadi melamun memikirkan jemputan, tak sadar bahwa Amar menunggunya.
“mau pulang bareng nggak? Ayo!” suara Amar lembut dengan sedikit nada menggoda. “hujan sudah berhenti, kamu mau nggak?” Amar mencoba menegaskan.
Leya menganguk mau, tak lama mereka menuju parkiran dan mereka menunggangi motor mini miliknya. Kali ini hujan tidak meninggalkan Jingganya, hanya gelap dan sedikit percikan air menerpa mereka.

Belum juga sekilo mereka beranjak, melintas mobil Silver berplatkan B.175.AG. Agusandi Gumamprayoga (AG). itu mobil Age, Leya hafal betul.
“Tunggu, tunggu!” Leya menepuk-nepuk punggung Amar menahannya supaya berhenti. Leya turun dari motornya dan lekas meninggalkan Amar yang mengamati tingkah Leya lamat-lamat. Leya setengah berlari menghampiri mobil yang telah berhenti jauh 10 meter dari tempat Amar berdiri. Leya tanpa basa-basi segera memasuki mobil dan memutar balik, mobil itu mendekati Amar yang sedang mematung membisu dilihatnya heran. Leya membuka kaca mobil.
“Aku pulang sama pacarku saja yah, Terimakasih sudah mau mengantarku pulang, bye.” Leya berkata sambil melambaikan tangannya dengan inocennya. Amar diam membatu, gelap mulai merajai malam. Suara Adzan magrib berkumandang, dan dia mulai memajukan kudanya dengan hati penuh luka. ‘Shalat di rumah saja, waktu 25 menit cukuplah.’ Amar berdesis dalam hati tanpa menghapus peristiwa yang sudah terjadi.

Malampun larut, kembali ke rumah dan beristirahat setelah tadi berbincang-bincang dengan Age di mobil, menanyakan Amar, menanyakan kuliah, Leya pun bertanya menanyakan kegiatan Age dan semuanya berjalan normal, Nampak tak ada masalah. Syukurlah, jadi mereka tidak perlu marah-marah membuang tenaga. Leya mengingat-ngingat, ahh bisa beristirahat sekarang, diingatnya tidak ada tugas untuk besok. Iapun terlelap di buai nina bobo tak berdaya.

Tiga hari berlalu dari peristiwa itu dan sekarang tiba saatnya Age kembali ke peraduannya. Leya ingin bertemu sebelum Age pulang ke tempatnya ia bekerja, tapi ia sedih, sedih tiada tara. Age mengucapkan kata pamit hanya lewat telepon, apa? Hanya lewat telepon? Sungguh rindu ini belum puas terbalaskan tapi raga harus terpisah jarak. Leya mencoba menabahkan hatinya, dan dia sekarang harus pergi bersama Andin, mereka rencana mau ke Tanah Abang membeli bahan-bahan dagangan yang akan mereka permak sedemikian rupa untuk mendapatkan benda yang unik utuk mereka jual, berbisnis kini tertanam kuat di diri Leya, mumpung kuliahnya sedang libur mereka memanfaatkan waktunya.

Nampak mobil Suzuki swif mengeluarkan bunyi klakson, bertengger di depan halaman rumah Leya, rupanya Andin sudah menjemputnya. Leya bergegas pergi dengan hanya Mbok Nah yang berada di rumah, Leya pamit.

Mobil berwarna biru dengan sedikit modifikasi pelk dan body itu berlari tak begitu kencang. Mereka membahas rencananya itu. Lampu merah menyala dan tiba-tiba Leya terperanjat, lagi-lagi ada hujaman keras membentur jantungnya, sekilat petir menyambar, air matanya menetes tak terhingga, pandangannya kabur tertutup air mata, berjatuhan, sakit, perih, marah, sedih menggumpal menjadi satu. Andin yang berada di sampingnya heran tak mengetri apa yang sedang terjadi dengan temannya ini. Lampu berganti kuning, lalu hijau, di depan Andin menghentikan mobilnya minggir ke samping.
“kamu kenapa Leya? Kamu nangis tiba-tiba, ada apa?” Andin bertanya antusias. Leya menangis semakin kencang kali ini mengeluarkan suara.
“Abang, Abaaanggg, haaaaa…” tangisnya semakin membuncah.
“Abang? Kakakmu? Kakakmu kenapa? Ada apa dengan kakakmu?” Andin semakin heran lantas mengernyitkan keningnya melihat temannya dalam. ‘Andin, sudah kamu jangan bertanya terus aku tidak punya waktu untuk menjekaskan.’ Kata-kata itu sebenarnya ingin sekali Leya lontarkan, tapi dia tahu Andin pasti cemas dan dia belum mengetahui sedikitpun tentang Age.
“Age, Age pacarku, dia dengan wanita lain, haaaaa..” tangisnya memotong lagi perkataannya. Andin semakin mengernyitkan keningnya dan semakin dalam ia menatap Leya.
“Kami sudah lama pacaran, dari semenjak pertama masuk SMA.” Lekas Leya menusap air mata dengan punggung tangannya. “waktu Aku masuk SMA dia kelas tiga, kami berpacaran hingga sekarang, dia sekarang kerja di Medan sambil kuliah disana ikut dengan opanya, kami jarang sekali bertemu, baru kali ini setelah tiga bulan baru bertemu lagi, katanya kemarin dia akan kembali lagi ke Medan karena harus kembali bekerja, tapi kenyataannya dia malah berkeliaran bersama wanita lain, wanita itu teman satu kelas Age waktu di SMA Din, aku mengenal wanita itu, memang mereka sempat dekat tapi sudah lama mereka berpisah, entah apa yang telah terjadi sampai-sampai mereka bisa bersama lagi.” Jelas Leya yang terlihat sakit, air matanya menetes, ia mencoba menahannya tapi tidak bisa, dia malu dengan Andin yang belum terlalu terbuka kepadanya.
“ohh, kamu yang sabar yah Ya, kamu jangan salah sangka dulu, mungkin mereka hanya teman, sudah jangan nangis lagi.” Andin mencoba menenangkannya tapi usahanya itu sia-sia, Leya masih ingat dengan perkataan Age dulu, dulu sebelum mereka berpisah, ‘aku dekat dengan Ayu karena dia anak sahabat mamaku, mama memang sangat menyukainya tapi aku memilih kamu Leya’. Sakit, perih, suram jiwanya mengharuskan ia tegar, mencoba tegar dengan semuanya, pantas saja Age berubah, tidak lagi seperti dulu, tidak lagi perhatian, rupanya.. ahh apakah ini kiamat? Ah tidak, ini gempa bumi, ah tidak tidak, ini tsunami. Berkali-kali Leya bertarung dengan segala pikiran yang membabi buta tanpa ampun. Disentuhnya handphone dan mencari kontak Age lalu menekan tombol hijau, nomornya tidak aktif, semakin menjadi, semakin membuih busa kemurkaan di benak Leya. Sepanjang jalan ia hanya termenung tak berucap.

Seminggu berlalu dari peristiwa keparat itu, masih sendu air muka Leya, setalah mendengar penjelasan panjang Age, Leya mencoba mengikhlaskan kekasihya itu pergi dengan wanita lain, ‘maafkan aku Leya, aku mencintaimu, aku menyayangimu tulus, hanya saja aku ingin berbakti sebelum Tuhan mengambil nyawa orang tuaku, ini yang mereka inginkan, ingin aku menikahi Ayu, aku tidak bisa berbuat apa-apa cintaku, aku sangat bersalah padamu, maaf, maaf kita harus berhenti sampai disini.’ Kata-kata itu membahana, selalu terngiang dimanapun, kapanpun, dan kemanapun Leya pergi, tak pernah luntur, tak pernah hilang. Dewi Ishtar, dewi cinta dan perang, mengapakah engkau menghujam dia seperti itu, dia sangatlah cinta terhadap lelakinya. Dewi, dewi yang maha agung telah merenggut lelaki itu dari pangkuan Leya.

Kampus Nampak riuh, mahasiswa menyebar dimana-mana, kelas ramai, tawa, teori, pelajaran yang nampaknya ada yang sedang berdiskusi tetapi Leya tetap merasa sendiri, tersandung batu tanpa daya bangkit, begitulah hari demi hari ia lalui, sepi. Langit, ia senang dengan langit jingga, kali ini tidak hujan, matahari bersinar di ufuk barat, sebentar lagi tenggelam, gelap.

Di kamar yang sepi ia merenung, terus merenung memikirkan lelakinya yang entah sedang apa. Angin menggeliat menjilati tubuhnya yang putih, dingin mengundang, Leya beranjak menuju jendela dan lekas menutup jendela yang sedari tadi terbuka, dia mendongak sebentar, tidak ada bintang, langit gelap tak berceda. Dia berbaring terlentang, dan lagi-lagi turun hujan, temperature itu membelai matanya, ia tertidur pulas, sebentar menyingkirkan Age dari pikirannya.
Cit cit cit, suara burung gereja hinggap di ranting tak berdaun. Embun masih menyelimuti atmosfier bumi, menetes setetes demi setetes dan sang raja siang pun terbit di peraduannya menyuruh manusia segera bangun dan memulai aktifitasnya.

Hari ini libur, tapi ada sedikit tugas yang memerlukan reverensi dan itu mengharuskannya untuk pergi ke kampus karena ia tidak mempunyai buku yang diperlukannya itu. Beranjak dari tempat tidur, mandi, sarapan, dan cus, ia berangkat dengan si poodle.

Tiba di perpustakaan, ia berniat berjalan-jalan menyusuri suasana taman kampus menggunakan sepeda kuning untuk mengusir penat. Dan tak lama seorang laki-laki tengah duduk di sebelahnya.
“Amar, kamu sedang apa?”, ‘pertanyaan yang bodoh, di perpustakaan ya sedang membaca buku atau sedang mengerjakan tugas masa sedang jajan bakso.’ Leya berpikir sesaat dan dirinya jijik dengan dirinya sendiri saat pertanyaan itu ia lontarkan. Amar hanya meliriknya tanpa hirau.
“Amar, kamu baca buku apa?” Leya sekali lagi berbisik mengusik dari keseriusan Amar. Dia akhirnya mengangkat dagunya dan memalingkan muka ke hadapan Leya.
“kamu bukannya libur hari ini?” kembali Amar memfokuskan pikirannya pada bukunya, lanjut ia berkata dengan tatapan terus pada bukunya “yang waktu itu Age? Pacarmu? Sombong sekali kamu meninggalkanku sendiri, kamu tidak suka padaku tapi kamu terlalu salah memperlakukanku, maaf jika aku selalu mengganggumu selama ini, untuk kali ini aku tidak akan mengganggumu lagi.” Jelas Amar dengan suara datar, pelan, kalem dengan air muka lurus tak berekspresi.
‘aku sombong? aku benci pada Amar? Amar menghindariku? Karena tingkahku?’ beribu-ribu pertanyaan muncul bertanya bertalu-talu dalam pikirannya. Ah Amar janganlah kau berubah membenci Leya, kerena Leya sekarang diam-diam mengagumimu.
“Amar, maaf waktu itu aku … aku…” entah apa yang akan dijelaskannya pada Amar agar dia tidak membencinya tapi itulah kenyataannya, Leya meningglkannya tanpa sopan santun, seakan membuangnya. “maaf, maafkan aku Amar.” Amar tetap tidak menggubris “Amar!” leya berteriak memanggil Amar yang mengacuhkannya.
“jangan berisik! kalau mau berisik di luar jangan di sini!” suara itu mengagetkan Leya, mukanya kusut, bibirnya mengerut ke bawah, dia jengkel karena Amar mengacuhkannya. Dia akhirnya beranjak dari pria itu dan mengambil beberapa buku dan duduk berjauhan dengan Amar. “Cowok Aneh! primitive,” leya mengendus kesal.

Hari ini benar, benar tidak hujan, rupanya dewi hujan sudah kehabisan air untuk menyirami bumi, dan kali ini Leya pulang lebih awal dari biasanya. Leya berjalan pelan, sendirian. Amar melintas di hadapannya dan tidak sedikitpun memandang ataupun menyapa Leya. Leya menghela napas dalam-dalam dan meneruskan langkahnya.

Leya mengendarai si poodle menuju rumahnya, tepat di persimpangan jalan menuju rumahnya, daerah kompleks yang tak begitu ramai suara terdengar ‘CEKIIITT’ ‘BRUK’. Tubuh Leya terdampar, luka lebam di kaki kirinya membuatnya merasa susah untuk berjalan, darah yang tak terlalu banyak menetes di tangannya. Leya bertabrakan dengan motor yang hendak berbelok dengan arah yang berlawanan, sama perempuan namun perempuan yang menabraknya tidak terluka parah, hanya Leya yang babak belur, luka di sana sini.

Melihat Leya meringis kesakitan, Amar rupanya telah pulang berbarengan dengan Leya hanya saja Amar tertinggal beberapa kilo dngannya. Amar segera menolong gadis itu dan langsung melihat luka-luka yang ada di badannya. Gadis yang menabraknya lekas minta maaf dan meninggalkan mereka karena luka Leya tidak begitu parah.
“kita ke dokter yah? Lukamu yang ini dalam sekali.” Amar memegang kaki kiri Leya dan mengamati lukanya lamat-lamat.
“tidak, aku pulang saja, antar aku pulang Amar.” Matanya memelas, memohon pada lelaki tampan yang baru Leya sadari.
Amar mengantar Leya yang rumahnya tinggal 500 meter dari TKP. Motornya ia simpan dahulu dan mereka menunggangi motor Leya segera menuju rumahnya. Amar pulang dengan berjalan kaki menghampiri motor mininya berharap motornya masih utuh tanpa di gondol maling. Amar sungguh baik, rela berjalan kaki demi Leya sang pujaan hatinya yang sedari dulu di incarnya.

Amar, Amar meringis kesakitan. Sakit yang masih bisa ia tahan, dan ia pun lekas meninggalkan tempat itu dan segera pulang. Hari ini benar-benar tidak turun hujan, Leya merengek kepada mamanya minta di elus-elus, huh Leya memang manja sekali. Leya ingat Amar, lekas ia mengambil hanphonenya dan mengirim sms ‘mkasih amar,km baik.maaf yah aku salah,maaf bangt,thanks?’. SMS singkat itu membangunkan senyum di muka Amar. Amar senang karena Leya sekarang bisa berlaku layak padanya. Hpnya berbunyi dua kali, dibukanya ‘hati2 Amar’. Gadis ini bodoh, baru kali ini Leya bilang hati-hati, Amar sudah sampai kali dari beberapa jam yang lalu, ah Leya ini. Amar balas berkata ‘iya,aku sudah smpai dritadi,aku slamat smpai rmah,km cpt smbuh yah.’ Leya sedikitnya senang, entah rasa apa ini yang jelas Leya tidak menyukai Amar,ia hanya simpatik saja.

Seminggu berlalu, Leya sudah nampak enakan. Pagi ini jadwal padat, seenggaknya ia tidak perlu memakai jangka untuk membantu langkahnya. Kali ini ia berangkat bersama Amar, pria ini semakin kesini semakin dekat saja dengan leya, rupanya usahanya ada kemajuan. Leya menunggangi kuda mini miliknya, entah bisa sampai atau tidak yang jelas kuda ini tak segesit miliknya, rupanya telah turun mesin, sering mogok, yah Leya berdoa saja supaya kudanya Amar bisa sehat tanpa mogok.

Pulang pukul 16.00 WIB, mata kuliah pun berakhir, kelas Amar telah terlebih dahulu selesai, dia menunggu gadis pujaannya keluar. Ia nampak malu jika kedekatannya dengan Leya diketahui teman-temannya, nyalinya ciut jika ia harus berhadapan dengan cemoohan teman-temannya yang mengecap dirinya kutu buku.

Hari itu langit tampak cerah, hujan tidak akan turun, piker Leya mantap. Leya mengajak Amar berjalan-jalan, Amar mengajak Leya ke suatu tepat. Indah, hening, jauh dari keramaian dan polusi, hijau, padang rumput sangat hijau seperti hamparan karpet. Bukit indah di pinggir kota tak begitu terjamah menambah harmonis suasana sore ini. Kupu-kupu berterbangan menyusuri horizon, menempel sesekali pada bunga warna-warni. Air muka Leya berubah senang, kagum baru kali ini ia menemukan tempat seindah ini di daerah sarat akan pencakar langit.
“tempat apa ini Amar? Apakah ini surga?” Leya mendongak ke langit melihat birunya awan sambil tersenyum indah. Tak lepas ia terus melihat alam sampai ke kaki-kaki langit.
“Lebay! ini nggak seberapa, masih ada tempat-tempat indah yang orang lain tidak begitu mengetahuinya.” Lantas Leya segera mengernyitkan kening dan manyun menghadap muka Amar. Tega sekali dia menyebutnya Lebay. Mereka duduk di bawah pohon rindang menatap hamparan padang rumput yang berada di hadapan mereka. Leya menoleh menatap wajah Amar lamat-lamat, ‘Amar ternyata ganteng, kacamata kudanyanya cocok dengan muka ovalnya, ternyata dia tidak seburuk kutu buku, sekarang Amar tidak lagi malu-malu, sudah sedikit dewasa, ya dia sekarang dewasa.’ Leya terus menatapnya tanpa berkedip.
“…Age?” Leya melonjat, pikirannya kabur dengan suara yang ia dengar tak terlalu jelas.
“hmm? apa? Kamu ngomong apa tadi?” katanya celingak-celinguk kebingungan.
“kenapa kamu putus dengan Age?” Amar mengulang pertanyaannya lagi. Mulut Leya terbuka menjelaskan, tanpa sadar ia meneteskan air matanya. Lukanya terbuka lagi, perih, sakit, tapi sekarang pria itu mencoba menenangkan hatinya. Kepala Leya bersandar di bahu Amar, perasaan tenang sekarang ia dapatkan.

Senja mendera, Leya sangat menyukai langit jingga, Nampak burung-burung bersahutan, beterbangan di awan-awan jingga, sinar jingga menyorot mereka yang sedang terduduk di hamparan rumput, siluet tergambar di atas tanah hijau, raut kegembiraan.
“Lihat langitnya!” lantang Amar sembari meninggikan tangan menunjuk ke langit. “indah yah? Sinarnya bagus. Aku sangat suka ketika langit berubah menjadi jingga…” Leya menatap Amar lamat-lamat dengan telinga terpasang siaga mendengarkan cerita Amar selanjutnya, dan ia tahu Leya sedang menunggu perkataan berikutnya.
“…Entah kenapa, jika langit sudah seperti ini rasanya aku diintai beribu-ribu pasang mata dari dunia atas, para leluhur mencoba menyaksikan anak-anaknya di dunia bawah dengan rindu membara.”
“Aku juga suka senja menguning, kalau musim kemarau langit tidak akan seperti ini yah, Mar? rasanya berada di dunia lain, sinarnya bijak sekali.”
“Kamu sekarang pasti selelu ingat aku kalau senja seperti ini, kan?” tutur Amar bercanda dengan senyum renyahnya.
“ihh GR sekali kamu.” Leya mendengus dan mereka pun tertawa, terbawa tertiup angin hingga sampai ke dunia atas, dunia para Dewa.

Senja kelabu, merekapun pulang meninggalkan tempat indah yang sarat akan kenikmatan. Sampai di depan rumah berpagar tinggi.
“kamu hati-hati yah.” Pinta Leya sopan nan lembut.
“iya, kamu masuk gih, aku pulang dulu.” Motor bekjule berwarna merah lebam karena sudah lama tak di pernis Nampak meninggalkan rumah yang bercat abu-abu itu.

Di tengah perjalanan pulang, ia membelokan motornya ke samping, merapat trotoar. Tangannya memegang kepalanya dan menyingkirkan helm yang dipakainya. Ia merasakan sakit di kepalanya, sakit sekali. Ia terdampar beberapa saat di pinggir jalan menunggu sakitnya reda. Setelah beberapa menit ia melaju kembali ke arah rumahnya. Amar rupanya terkena migrain.

Dua hari berganti, seakan sudah menjadi kebiasaan Amar yang selalu menjemput Leya untuk pergi bersama-sama ke kampus, tapi pagi ini tidak untuk pergi ke kampus melainkan pergi ke surga, ya tempat terindah yang pernah Amar tunjukan menjadikan Leya kecanduan. Mereka berniat menikmati pagi yang indah di tempat itu, kira-kira pukul 08.15 WIB mereka pergi.

Amar menyiapkan segalanya, mulai dari pakaian dan perasaan. Leya sedikit heran, Amar tidak biasanya berpenampilan seperti ini dan Leya sangat menyukainya. Selama perjalanan, hati Amar terguncang, berdebar kencang, membahana merajalela. Ia tahu bahwa ia sangat mencintai Leya, ia mencoba untuk memgumpulkan keberaniannya kai ini, ya, harus kali ini.

Nampak pemandangan yang sekali lagi luar biasa indahnya, Leya senang dengan keadaan itu, sekarang pikirannya telah di racuni Amar, lelaki bekjule berkacamata, kutu buku itu telah merebut pikirannya tentang Age. Dan sampai pada waktunya…
“Leya.” Suara Amar membuat Leya memalingkan mukanya dengan lembut perlahan.
“hmm? ada apa Amar?” suara itu, suara itu membuat hati Amar tak karuan, jantung berdetak hebat, keringat turun sedemikian rupa, kikuk, kaku yang ia rasakan sekarang. Yang benar saja, laki-laki yang hanya akrab dengan buku ingin menyatakan cinta? Sungguh menakjubkan.
“Amar! apa?” suara Leya mengagetkannya.
“hah? A aa.. anu, itu.. apa? itu..” ah Amar ngomong tidak karuan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah pucat pasi.
“kamu kenapa sih?” dua detik, tiga detik tidak ada respon “Amar! kamu kenapa?” tangan Leya menepuk bahu Amar, sontak Amar terkejut untuk kesekian kalinya.
“iya.. ini..a..aanu…aa..akuuu” keringatnya bercucuran tak terbendung, nyali Amar seakan-akan tertahan, gelora ingin mengatakan kalimat ‘aku cinta padamu’ itu rasanya membuncah tapi susah untuk terucap, dan dia mencobanya sekali lagi.
“aa..akuu” ia menghela napas panjang-panjang. dalam hitungan detik SATU, DUA, TIGAA, dan…
“aku mencintaimu Leya” dengan mata terpejam sekejap, raga terhempas, dingin seketika jantungnya, lega rasanya, tapi.. semuanya belum berakhir, belum ada jawaban dari Leya.
“apa? Amar, kamu ini. jangan bercanda ah.” Tawa renyah terlepas dari mulutnya. ‘Dasar tolol, aku yang sedari tadi berjuang melawan malu, terpogoh-pogoh bernapas, jantung seakan mau copot, berkeringat, kamu bilang bercanda? ahh ini diluar dugaanku.’ Amar mengendus di dalam hati merasakan jengkel sekaligus geli pada Leya.
“Aku tidak sedang bercanda Leya, ku benar-benar mencintaimu, sungguh.” Syarat tatapan Amar terhadap leya memancarkan harapan pada gadis itu. “aku mencintaimu dari dulu, dari kamu duduk di bangku SMA, dari kamu masih mengenakan baju putih abu, dari kamu masih bersama Age, dari kamu…”
“Aku sebenarnya nyaman, nyaman dengan keadaan ini, aku nyaman bisa dekat dengan kamu.” Tiba-tiba Leya memotong ucapannya itu, Air muka Amar berubah menjadi riang, ia menyaksikan dalam-dalam dan menyiapkan pendengaran untuk kata selanjutnya. “Tapi aku belum siap menerimamu menjadi pendampingku, aku belum siap dengan segala rencana seorang pendamping, terikat, awalnya indah tapi sangat sakit jika berakhir, Amar.” Tatapan Leya begitu sendu, terlihat garis kesedihan terpancar dari air mukanya, air mata menetes tak terelakan, segera ia hapus dengan punggung tangannya. ‘aku juga mencintaimu amar, tapi tidak sekarang, aku butuh waktu untuk berbenah diri, waktu untuk siap menerima hukum-hukum cinta, siap menerima peraturan Dewi Ishtar sang Dewi Cinta, Amar.’ Dalam hati Leya mengatakan kalimat itu.
Sunyi, tanpa ada suara bergema, hanya cicitan burung dan gesekan dedaunan yang menalu tertiup angin. Amar tertegun dalam lamunan, Leya senyap menatap pemandangan yang rupanya menghipnotisnya.
“Aku tahu, aku belum pantas untuk memilikimu.” Tiba-tiba Amar berkata menyeringai. “Aku sama sekali belum pantas untuk menjadi kekasih yang selamanya mengasihimu, aku belum pantas mendapatkan cinta tulus darimu Leya, aku tidak punya apa-apa, aku tidak sekaya dirimu, aku juga tidak setampan dan sekaya Age mantanmu, aku…”
“cukup Amar! cukup!” Leya menahan kalimat Amar yang terus menerus merendah itu. “kamu berhak atas siapa saja, kamu berhak atas wanita yang seperti apapun, karena kamu baik, baik Amar. Aku memang menginginkan pria yang mapan…” kata-katanya tegas tapi terdengar pelan, lembut terdengar dan bijak sekali. “…aku memang butuh pendamping yang bisa menjagaku, melindungiku, menafkahiku lahir batin, tapi bukan yang kaya raya yang aku mau Amar, aku mau yang bijaksana, berwibawa, berwawasan luas, lugas, ulet, seiman, setia selalu menemani dalam kondisi apapun.” Lagi-lagi Leya menitikan air mata. Sudahlah, memang Leya belum siap untuk itu Amar, mengertilah!
“yah, aku mengerti, sangat mengerti Leya. tapi kamu mau kan menungguku?” Leya menatap Amar dalam sendunya ‘menunggu? Menunggu Amar?’ Leya tidak menjawab pertanyaannya untuk kali ini. Secercah senyum mekar di bibirnya. Dia harus mapan, demi orang tua dan gadis, gadis pujaannya.

Tak terasa berjam-jam telah mereka lewati bersama disana, sudah saatnya mereka pulang. Perut Leya terasa keroncongan. Tapi garis langit berubah, rintik hujan sedikit-sedikit menetes, Guntur menggelegar, awan hitam pekat membawa beribu-ribu kantung air yang tak lama akan di muntahkan ke bumi.

Mereka lekas pulang, Guntur bertabrak menggelegar. Sampai di rumah Leya akhirnya, tapi Amar… Amar tidak singgah dulu di rumah Leya, dia tampak terburu-buru, entah takut dimarahi ibunya karena main seharian dan tidak tahu waktu, atau tidak ingin merepotkan Leya karena ia mampir ke rumahnya, atau malu? entahlah, Semuanya hanya Amar yang tahu.
“kamu jangan dulu pulang, sepertinya akan turun hujan yang sangat lebat!” suara Leya melayang memohon, menghawatirkan Amar.
“Aku pulang saja, ibuku kasihan sendirian, lagian aku sudah biasa kok hujan-hujanan, aku permisi dulu, salam dariku untuk keluargamu yah.” Sekilas Amar pun lenyap hilang dari pandangan Leya.

Tak berselang lama hujan deras mengguyur kota Depok dan sekitarnya. Amar, Leya khawatir dengan Amar. Hujan nampaknya tidak tahu waktu, main turun saja tanpa ampun. Entahlah Amar bagaimana, semoga saja tidak terjadi apa-apa.
Dera hujan membuat pandanganya samar, jalanan terhalang kabut, terhalang titik-titik air yang begitu deras, mobil yang berlalu lalang memasang lampu hati-hati, Amar seakan tidak menghiraukan hujan yang membanjiri dirinya itu. Kilatan dan Guntur yang menggelegar membuat keadaan semakin kelam, Dia terus menancap gasnya hingga 60km/jam, memang tidak seperti kecepatan Lorenzo maupun Pedrosa tapi dengan keadaan langit murka, gelap, hempasan angin yang kencang bisa membuat siapa saja terancam, dan benar saja… ‘BRUK’

Suara ambulance terdengar samar terhempas angin. Berpuluh-puluh orang menyaksikan kejadian memilukan itu, mobil polisi patroli menambah getir dan mencekam suasana malam itu. Awan telah kehilangan massanya, menurunkan jumlah titik-titik air ke bumi. Hujan tidak begitu deras, tapi orang-orang tumpah ruah memadati jalanan.

Sepeda motor tampak tak beraturan, darah mengalir terbawa arus air, tubuh kakunya lemah tak berdaya, diguyur hujan, Matanya tertutup, wajahnya indah bagai bayi tertidur pulas, badannya basah, basah karena hujan, mengalirkan beratus-ratus cc darah, mengalir, mermuara. Segera raga itu dibawa. handphone berisikan pesan-pesan dari Leya tak sempat ia baca, panggilan-panggilan dari ibunya juga tak sempat ia angkat. Ya, Amar telah pergi, Rohnya melayang seketika, terbang jauh, jauh meninggalkan bumi. Amar dengan keras menabrak mobil yang melintas bersebrangan dengannya, tepat di tikungan.

Leya bolak-balik sambil mulutnya komat-kamit entah berkata apa dengan handphone di genggamnya erat-erat dan terus melihat screen handphone berharap ada balasan dari Amar. Hatinya cemas tiada tara, jiwanya memikirkan laki-laki baik hati yang ia cintai itu. Nampaknya Leya menyerah, ia pun tertidur pulas dengan pikiran positif ‘Amar sudah sampai di rumahnya, hanya saja dia kelelahan dan tidak sempat membalas pesannya.’ Ia tertidur, terjaga.

Matahari tidak lagi bersinar terang, ah hujan lagi-lagi. Ini memang musim hujan yang membabi buta terus mengguyur bumi. Matanya mulai membuka, di sentuhnya handphone didekatnya, dilihatnya jam yang berada di handphone itu, matanya menyipit melihat layar lamat-lamat. Ah masih jam lima, tidak ada pesan dari Amar, mungkin dia masih tidur pikirnya. Ia segera beranjak dan mengambil wudhu lekas shalat, memang shalatnya sering bolong, ia perlu banyak pendidikan agama dan pencerahan untuk menambah kuat imannya.

Leya membuka pintu kamarnya dan tampak Mbok Nah sedang berbenah.
“mbok. mama belum bangun?” Tanya Leya sambil turun menuruni anak tangga.
“belum non, non kok tumben jam segini sudah bangun? Mau bantu mbok masak yah?” ledek mbok Nah sambil tertawa geli.
“ahh mbok ini, bisa saja. Mau mbok memakan masakan aku yang nggak enak? Mau memakan kerupuk gosong yang aku goreng?” balas Leya mengancam dan mereka pun tertawa. Leya melangkahkan kakinya ke dapur membawa gelas dan menuangkan air putih kedalamnya, diteguknya air jernih itu membasahi tenggorokannya yang sedari tadi kering.

Hujan rintik-rintik lagi-lagi. Sekarang, beberapa menit berlalu, rumah jadi hangat karena semuanya telah bangun, memulai kembali aktifitas yang tertunda kemarin. Seakan semuanya normal, Leya memulai aktifitasnya seperti biasa, dia akan dijemput Amar, walaupun agak gerimis tapi dia tetap ingin di bonceng Amar walaupun harus memakai jubah kebanggaan dikala hujan datang yang akan membuat penampilannya suram, buruk rupa.
“bareng saja sama papa Ya.” Suara Om Edo mengajaknya ramah.
“nggak pah, temen jemput kok.” katanya singkat.
“Amar yah? cowok yang suka kesini kan? yang suka pergi bareng kamu?” sambung Tante Linda sembari mengelap guci-guci koleksinya hati-hati.
“iya ma, dia baik loh, cakep nggak ma?” Tanya Leya sambil mulutnya di penuhi roti tawar sarapannya itu.
“siapa sih ma? Pacar kakak yah?” Agil menyambar.
“iya, calon suami kakak, hahaha..” sekilat tawa menyebar menggemparkan ruangan dan seisinya. Diliriknya handphone yang sedari tadi berada di meja dekat tangannya, ada SMS. Leya buru-buru membuka berharap itu dari amar, dan ternyata…
Operator sialan.

Diliriknya lagi layar handphonenya, belum juga berbunyi, hatinya mulai resah, mulai menyerah ‘Amar mungkin tidak akan menjemput kali ini’ tanpa berpikir macam-macam, tanpa ada pikiran Amar sakit, Amar kenapa-kenapa, tidak ada sama sekali di benak Leya.
“pah, aku berangkat bareng papa deh.” Serunya berdesah. Mukanya mulai mengkerut.
“loh? Kenapa?” belum juga dijawab pertanyaan Om Edo Leya langsung beranjak keluar rumah, dengan sebelumnya mencium tangan mamanya dan meneguk susu dalam gelas buru-buru.

Di dalam mobil ia gusar, gelisah memikirkan Laki-laki itu. Kenapa dia tidak menjemputnya? Kenapa dia tidak memberi kabar? Pertanyaan seketika muncul dalam benaknya. Leya lalu mencari sesuatu, sakunya di kuek-kuek, tasnya di ubek-ubek, ah ketemu. Ia langsung mencari kontak Amar dan menekan tombol panggilan, suara operator berderu menyibak ‘maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…’ segera ia menutup handphonenya. Pikiran-pikiran negatif menyeruak dibenaknya, apakah Amar marah?, apakah Amar benci karena cintanya ditolak? Apakah justru Amar berpaling hatinya pada perempuan lain setelah cintanya ditolak?.

Mobil Grand Livina itu mendarat di dekat kampus. Om Edo harus segera mengantar Agil dan menuju ke kantornya segera. Leya berjalan dengan pikiran melayang kemana-mana.

Melangkah terus sampai pada akhirnya ia melihat sesuatu. Sesuatu yang belum jelas terlihat yang menggerakan hatinya ingin tahu penasaran. Banyak karangan bunga disana, tapi Leya berubah pikiran untuk tidak segera mengetahui hal itu, ia teringat kelas sebentar lagi dimulai. lalu ia membalikan badannya dan berjalan menuju kelasnya, semester dari pintu kelasnya, ia teringat Amar, ia mendongak sebentar ke kelas sebelah dimana Amar bermuara.

Leya duduk di samping Andin yang entah kenapa mukanya suram, Andin menunduk, terus menunduk. Kenapa Andin? ada apa? Leya bingung dan…
“Kamu sabar yah Leya.” Andin menangis memeluk temannya eret-erat.
“kamu kenapa Din? Kok kamu nangis?” Tanya Leya sambil melepaskan pelukan dan mencoba bertanya, ia mengingat perkataan Andin ‘kamu sabar yah..’ maksudnya apa? Leya heran.
“Astaga, jadi kamu belum tahu?” jelas Andin pilu. lanjut ia mengusap air mata yang sedari tadi menetes di pipinya. Lekas Andin menyeret Leya ke tempat dimana… oh, tempat tadi, tampat yang membuatnya tertarik ingin mengorek informasi, tempat yang banyak karangan bunga, tapi.. tempat apa itu? Siapa yang meninggal?.
“ssii… siapa yang meninggal?” Leya ternyata belum sampai pada titik dimana terdapat foto Amar dan bunga-bunga turut bela sungkawa yang tertuju pada Amar. Andin memegang tangannya sampai mendekati titik itu.
“Andin, siapa yang meninggal?” tak jauh di matanya dan ia pun selintas berpikir bahwa Amar telah tiada, namun ia mencoba meyakinkan kembali dengan terus bertanya pada Andin, ia berharap temannya itu tidak mengatakan nama Muhammad Amarsyah Rizyq.
“Andin, katakana padaku siapa yang meninggal? Saipa yang meninggal Andin? Siapaaa?” seketika Dewi kematian menyelusup masuk kedalam pikirannya ‘aku telah membawa Amar pergi Leya, aku telah membawa Amar ke dunia atas yang akan kekal selamanya berada di sana, hahhahahaha’ suara itu membahana, menggemparkan jagad raya merasuk pikiran Leya yang kala itu larut dalam kesedihan. “Tidaaakk. Amaarr, Amar kamuuu… kamu tidak boleh mati.” Suara jeritan Leya menarik sebagian penghuni kampus, mereka sedih melihat tubuh Leya ambruk mendekap foto Muhammad Amarsyah Rizyq. Tak lama Leya pun pergi meninggalkan Andin dan sebagian teman-temannya yang menonton. Ia menghilang bak kilat, berlari secepat marathon.

Leya mencari informasi yang pantas dia percaya, rupanya gadis itu belum percaya benar dengan apa yang ia lihat di kampusnya itu. Ia mencari rumah Amar, orang tuanya pasti bisa menjelaskan kejadian yang ‘ini tidak mungkin terjadi’ itu.

Terlalu lama ia berjalan, terus mencari tanpa poodle bersamanya. Ia tahu kompleks rumahnya tapi ia tidak mengetahui tepat dimana rumahnya. Dan, ia melihat bendera kuning bertengger, menjuntai, melambai-lambai seakan menyuruhnya kemari. ya, itu rumah Amar. Nampak banyak sekali orang-orang disana, Nampak mobil ambulan, mobil jenazah. Dengan rintih penuh perih ia berjalan menuju rumah itu.

Terlihat wujud kaku tak berdaya dibungkus kain putih di tutup kain batik berwarna coklat tua, dibukanya tanpa permisi, teriak histeris membuncah dari mulutnya, jantungnya terpanah busur dengan api menyala melumerkan darah seisinya, pikirannya masih ‘tidak mungkin’. luka lebam di sekujur tubuh kakunya menghiasi wajah tampan yang telah pucat pasi ditambah biru gelap.
“Nak, kamu siapa? Teman Amar?” terdengar suara lembut menyapa telinga Leya. Leya mendongak menatapnya senyum. Direnggutnya Leya dari hadapan Amar yang telah kaku.
“Saya teman dekat Amar tente, saya..saa..saya..” tangisnya memecah, tak kuat ia harus menerima kenyataan ini. Baru kemarin Amar bersama dengannya, baru kemarin Amar bersenang-senang dengannya, baru kemarin Amar mengatakan cinta kepadanya, Leya tidak kuat lagi menahan hantaman itu.
“sudah.” Wanita tua itu menyingkab rambut Leya yang menutupi muka manisnya dengan lembut. “ibu juga sangat terpukul sekali, Amar anak yang baik, dia pintar, dia terakhir mengatakan pada ibu kalau dia ingin sekali mendapatkan beasiswa, dia mau mengikuti program beasiswa pertukaran pelajar, dia ingin bersekolah di luar negeri, tapi cita-citanya itu sekarang telah terkubur dalam-dalam bersama jasadnya.” isak tangis mengalun, menderu-deru. Leya tahu Amar mengalami kecelakaan setelah mendapatkan informasi dari polisi. Dadanya sesak, “ini salahku, semua ini salahku, kenapa aku tidak memaksa dia untuk mampir sebentar di rumah? kenapa aku harus mengajaknya pergi pagi itu? Kenapa?” pertanyaan demi pertanyaan muncul bertubi-tubi menghancurkan emosi jiwanya yang kini mati rasa, hancur, berkeping-keping. Kini, tidak ada lagi Amar. Amar yang selalu menguntitnya kemana-mana sedari SMA sampai duduk di bangku kuliah, Amar yang selalu menggangunya dengan sikap anehnya, Amar dengan… Ammar, Amar dan Amar, kini tak lagi bersamanya.

Sudah pagi lagi, semalaman ia tidak tidur memikirkan Laki-laki yang telah ia rencanakan akan menjadi calon suaminya, air mata terus berjatuhan dari mata yang merah bengkak tak berbentuk. Kali ini matahari cerah seakan dunia mentertawakan kebodohan dan kemunafikan dirinya.
“Amar.” Ia berkata serak “Aku mencintaimu” air matanya semakin deras, rasa bersalah menyatu dengan rasa penyesalan yang mendalam. ‘Kenapa harus sekarang Amar pergi? Kenapa tidak nanti? Nanti jika kami telah puas hidup bersama’. Pertanyaan itu muncul tanpa balas. Leya beranjak dari tempat tidurnya, mengganti baju, lekas berlari keluar kamar dan menyalakan poodle tanpa pikir panjang.

Tempat itu, benar-benar surga. Surga yang juga telah Amar injak sekarang disana, ini benar-benar surga Amar, Amar terlalu muda untuk menyentuh indahnya surga khayangan. Leya duduk sendiri, termenung tanpa Amar disisinya. Sesekali ia melirik, oh, biasanya ada laki-laki tampan bersama disampingnya, kini hanya angin, hanya ruang tembus pandang yang ia lihat, tak lagi Amar. Angin semilir sepoi-sepoi menyingkap rambutnya yang panjang.
“tunggulah aku Amar, aku akan menunggu langit biru menjadi jingga, disini, di tempat kita berdua, di tempat kita sering bercengkrama, disini, di surgamu Amar, aku akan Menunggu jingga itu datang, jingga yang memancarkan kebahagiaan bila sinar itu datang, kamu juga suka Jingga kan Amar? Iya kan?” Leya berkata percuma dengan lirihan hatinya membuang air matanya, dia percaya Amar di sana mendengar perkataanya itu. Dan berjam-jam hujanpun turun gerimis, tubuh Leya lemas, berbaring di rerumputan menatap awan masih biru. Wajahnya tertimpa air hujan, menetes setetes demi setetes, ia tak menghiraukan tetesan itu, jiwanya menikmati sentuhan angin dan dinginnya air yang menyentuh raganya, menunggu biru menjadi jingga.
“Amar, kau adalah belahan jiwaku, aku mencintaimu tanpa syarat, aku benar-benar tulus mencintaimu, hanya saja waktunya belum tepat, belum tepat Amar, karena Biru masih berada di bumi, biru belum berubah menjadi jingga. Amar, aku mencintaimu, sungguh.” suara itu seakan terbawa angin menembus surga, menyampaikannya kepada Amar dan..
“Aku juga sangat mencintaimu Leya, kau baik-baiklah disana, semoga Tuhan menganugerahkan belahan jiwa yang layak untukmu pengganti diriku, selamat tinggal Leya pujaanku.” Mata Leya membelalak, raganya seketika tergangun dari hamparan rumput hijau, matanya mengintai, mencari sumber suara itu berasal, tertiup angin, hilang…
“Amar!” ahh ia berhalusinasi, sebegitu kuatkah cinta Amar kepadanya? Hingga Leya rela menunggu Biru menjadi Jingga. Ia kembali merebahkan badannya dan menatap langit. Tertidur, seakan ada penjaga dan dewi tidur menina bobokannya tanpa sadar.
“Jingga?” matanya lagi-lagi terpana setelah sekitar tujuh jam ia tertidur, entah apa yang sedang terjadi sampai-sampai ia tertidur begitu lama di alam yang terbuka tanpa kasur empuk itu. Suara burung mendecit riang pulang ke peraduannya, bergerombol, ramai. Terlihat siluet wajah Leya dengan garis muka tenang, sesekali tersenyum.
“Amar, aku telah berhasil menunggu. kini Jingga telah datang, Biru sudah berlalu, dan kamu suka dengan suasana senja kan Amar?” lagi-lagi ia bertanya percuma “Senja yang indah, semoga kau tenang di alam sana, aku akan selalu mengingatmu dan mengindahkanmu di dalam sanubariku, selamat tinggal Amar.” Semilir angin senja menyibak dedaunan membelai wajah haru nan bijak. Leya meninggalka surga Amar tanpa ingin melupakannya. Ia berjalan, mengendarai poodle, pergi, hilang…
“Aku mencintaimu Amar, mencintaimu tanpa syarat.” Terbawa angin, hilang…

SELESAI

Cerpen Karangan: Mila Karlina
Facebook: milakarlina4[-at-]gmail.com (only text only) / Mila karlina
saya mila, mahasiswi kebidanan yang bercita-cita menjadi mahasiswi di FISIP. bertempat tinggal di Sumedang, anak pertama dari dua bersaudara. hobi olahraga terutama Volly ball dan menulis .

Cerpen Biruku, Jingga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Favorite Songs

Oleh:
*sing Sebelumnya tak ada yang mampu mengajakku untuk bertahan dikala sedih Sebelumya ku ikat hatiku, hanya untuk aku seorang *sing Masih ingat nggak dulu, “kita” pernah menyanyikan lagu ini?

Tidak Akan Hilang

Oleh:
Kenalin nama aku bintang umur aku sekarang 19 masih muda kok wkwk. Saat ini aku bekerja di mall ternama lah di jakarta. Oh iya aku biasa di panggil teman

Cinta Pertama

Oleh:
Cinta pertama. Setiap orang pasti memiliki cerita tersendiri mengenai cinta pertamanya. Ada yang berakhir indah namun ada pula yang berakhir menyedihkan. Begitu pula dengan aku, aku mempunyai cerita tentang

Seperti Kau dan Hujan

Oleh:
Semenjak kekasihnya meninggal, Nasya gak pernah tersenyum lagi. Kanker hati telah merenggut nyawa orang yang sangat dicintainya itu, sekian lama mereka bersama, sulit bagi Nasya untuk menerima keadaan jika

Saat Bidadari Juga Ingin Dicintai

Oleh:
Hujan malam ini begitu deras mengguyur ibukota Jalanan dibasahi remang cahaya lampu taman menerpa Dingin dan sunyi hanya suara deras bercampur gejolak sang malam Cahaya hitam putih redup padam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *