Gadis di Bus Kota (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 10 March 2021

Malam yang diselimuti mendung itu membawa hawa dingin bagi seluruh penduduk bumi. Di jalanan yang lengang melintaslah sebuah bus kota yang agak reyot yang membuat suara-suara pengusir sepi tengah malam. Isi bus itu hanya tiga orang. Supir yang fokus terus ke jalanan, seorang pemuda usia akhir 20-an, dan seorang gadis belia, sepertinya masih sma. Mereka sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing, tak ada suara percakapan kecuali deru mesin.

Sang pemuda itu, Lintang, tengah sibuk dengan earphonenya dan video anak kucing yang berlarian. Ia merapatkan jaket untuk menahan dinginnya ac bus yang sedari tadi menyala, sebenarnya ia tak tahan dingin, namun bagaimana dengan orang lain yang kepanasan kalau acnya mati? Begitu pikirnya. Sungguh kontras dengan penampilannya yang tinggi besar, berambut gondrong, dan tatapan menakutkannya itu, hatinya seperti bunga, seumur hidup tak pernah berkata kasar pada orang lain.

Ia naik bus itu demi kembali ke kampung halamannya yang tinggal satu kota lagi. Sudah enam tahun ia tak pernah pulang karena urusan pekerjaan. Entah berapa macam pertanyaan seputar pernikahan yang akan ia terima nantinya selain pelukan pelepas rindu. Tapi selain itu, video kucing yang ia tonton juga tak kalah pentingnya, mereka adalah penenang jiwa lelaki gondrong ini, seperti obat dari dokter untuk penyakit nervousnya.

Klik. Meow-meow.

Disisi lainnya, duduklah gadis belia yang manis sedang menatap jendela. Rintik hujan mulai turun dan menari di permukaan kaca. Karena hari sudah malam, tentu saja yang nampak di jendela hanya bayangan wajah ayunya dan wajah lelaki gondrong di seberang. Ia menoleh dan melirik lelaki itu. Nampak seperti penjahat, pikirnya. Namun jika ia seorang penjahat sudah sedari tadi ia tak akan selamat di bus ini. Bukan.

Gadis itu menggeser pantatnya dan mengintip apa yang sedang dilihat lelaki gondrong itu. Video kucing. Ia terkikik melihat anak-anak berbulu itu melompat kesana kemari dan membuat senyum merekah di bibir sang lelaki gondrong. Ia mendekat lagi dan sebuah guncangan menubrukkan ia dan lengan lelaki itu.

Diam.

Gadis itu kaget. Lelaki itu apalagi, ia tak pernah menyentuh kulit perempuan seumur hidupnya, bertatapan saja tidak. Cepat-cepat lelaki itu bergeser dan menampakkan bahasa tubuh ingin minta maaf.

“Maaf.” Ucap mereka berdua.

Ah! Malu sekali. Lelaki gondrong ini menunduk dan mukanya memerah seketika. Si gadis nampak bersalah, dan tersenyum demi mencairkan suasana.

“Maafkan saya ya mas.”

Lintang mengangguk sambil tersenyum kaku. Kemudian suasana kembali normal, kecuali dua insan itu yang hatinya tak karuan. Ia melirik sang gadis itu yang mulai sibuk dengan ponselnya. Rambutnya panjang lurus sebahu, kulit coklat, kaus lengan panjang warna ungu, rok jeans, dan sebuah tas punggung warna krem yang penuh. Kemudian gadis itu tiba-tiba menoleh. Mata mereka saling bertemu. Indah sekali pekiknya dalam hati.

“Mas.” Gadis itu mendekat dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum, “Wulan.”
Tanpa ia sadari tangannya menggenggam tangan gadis itu, “Li..Lintang.”
“Hihi.. masnya lucu deh.”
Pias. Pipi Lintang memerah. Baru kali ini ada gadis yang mengajaknya bicara. Kemudian ia menyadari bahwa satu menit lebih ia berpegangan tangan.

“Maaf ya mbak..”
“Nggak papa kok. Masa dari tadi kita maaf-maafan terus? Nggak ada topik lain? Kucing misalnya?”
“Kucing?”
“Aduh.. haha..” Wulan memegangi perutnya, “sepertinya itu jawaban saya kenapa kita bisa tubrukan tadi.”
“Oh ya? Gitu ya. Hehe..”
“Haahh.. saya bosan dari tadi nggak ada teman bicara jadi nyelonong aja gitu.”
Lintang bersandar pada tempat duduknya, “Ya, saya juga bosan sih mbak.”

Bruumm. Ciittt… bus tersebut berhenti sejenak di lampu merah yang ternyata ramai akan pedagang-pedagang pasar dan penjual warung untuk persiapan pagi hari. Kemudian bus berjalan lagi.

“Mas Lintang asli mana?”
“Desa Trate Putih, kalo dari habis kota ini, masuk ke gunung. Mbaknya?”
“Lha sama dong. Saya rumahnya di pucuk gunung, paling pucuk.”
“Kok nggak pernah denger nama Wulan ya? Kalo ada ya Mbah Wulan itu, sekarang orangnya udah meninggal.”
“Hush! Iya tau!” Wulan merengut, “nama saya emang sama dengannya, tapi satu-satunya Wulan yang masih muda ya cuma saya doang. Emang situ, namanya aja saya nggak pernah denger di desa!”
Lintang memijit dahinya, belum apa-apa kok sudah marah.

“Tapi kalo nama Nata pernah denger?”
“Ohhhhh…” Suara Wulan memenuhi bus, “Tau-tau! Anaknya pak Kades kan?”
Lintang mengangguk.
“Kok mas penampilannya jadi gini sih? Pake brewok segala lagi, kayak preman, saya nggak kenal, ya ampuun.”
“Yah, namanya juga orang kota Wul.”
“Bagi saya tetep orang desa sih mas.”
Lintang memutar matanya. Seperti kata ibunya, perempuan selalu benar, bahkan bapaknya saja sampai tunduk jika ibunya angkat bicara sambil mengungkit masa lalu.

“Dulu mas itu penampilannya lebih ganteng, rapi, jadi inceran cewek-cewek desa, malah sekarang gantengan Mas Joko.”
“Kok banding-bandingin sama kakangku sih?” Lintang sekarang yang merengut.
“Pfffttt…”
Wulan terkikik sambil menunjukkan giginya yang kecil-kecil dan bersih. Jika ia sudah bertemu orang satu desa memang rasanya seperti keluarga sendiri, seenaknya tertawa dan membuat kesal.

“Jadi, kamu anaknya siapa Wul?”
“Tau pak Yono tukang kayu?”
“Iya.”
“Aku tetangganya. Nama ibuku Bu Marni, tau kan?”
“Ohh, sekertaris PKK.”
“Nahhh… Ternyata mas Nata masih inget ya.”
“Lintang. Panggil aku aja Lintang.”
“Kok gitu?”
“Ya temen-temenku manggil gitu sih.”
“Ohhh…”

Tiba-tiba telepon Wulan berbunyi, sepertinya dari keluarganya yang bertanya sudah sampai mana. Dengan sopan Lintang menunggunya. Ia melihat keluar jendela dan memperhatikan lampu jalan, gerimis telah berhenti rupanya, namun rasa dingin ac dan dinginnya jendela makin menjadi karena sudah dekat wilayah pegunungan. Kemudian ia alihkan pandangannya ke gadis itu. Rasanya ia begitu familiar dengan wajah itu, tapi ia ingat jika wajah itu tidak terlalu sering hadir di desa itu.

“Mas?”
“Eh.” Lintang tergagap ketika mencuri pandang.
Wulan mendadak kelabu, “Gimana menurut mas soal perjodohan?”
“Hah? Emang kamu mau dijodohin?” Lintang sedikit kecewa.
“Nggak. Ini lho..” ia menunjukkan sebuah rekaman sinetron yang sedang booming, “aku dengar mereka dijodohkan, huuuhhh… padahal aku lebih memilih Rama menikah dengan Sintiaa..”
“Gaje!”
“Pffttt hahahaaha… keliatan serius banget deh, kan cuma perjodohan.”
“Justru aku kabur karena mau dijodohin.”
“Hah?!”

Cerpen Karangan: Kucing Hitam

Cerpen Gadis di Bus Kota (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terbungkus Bisu

Oleh:
Dear diary!! 30-05-2013 Hari ini adalah hari yang ga akan bisa aku lupain, buat pertama kalinya aku lihat Rangga nangis, buat pertama kalinya aku ngomong kasar sama Rangga, dan

Je Te Veux

Oleh:
Malam itu, kutekan tuts piano dengan anggun mengikuti alunan piano karya sang Maestro kebanggaanku, Erik Satie dengan lagu yang sedang kumainkan adalah Lagu Kehormatanku, Je Te Veux yang kalau

Sepintas Yang Terlintas

Oleh:
Drrrttt… drrrttt… drrrttt… Handphoneku bergetar untuk yang kesekian kalinya. Tak seperti biasanya, kali ini aku begitu kesal karenanya. Kulirik layar handphone yang letaknya tak jauh dari jangkauan tanganku. ‘Duh

My First Love Back

Oleh:
Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas. Para pelajar bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Begitu pula dengan Nita Indriyani, gadis berumur 15 tahun. Ia bersekolah di SMAN 10 tegal. Ia berasal

Kertas Kosong

Oleh:
Sunyi yang selalu menemani malam ku beserta nyanyian jangkrik di sekelilingku. Hampa sudah terasa, pupus sudah smuanya dan kini ku hanya mengharapkan kenangan yang telah sirna itu. “Dooorrr….!” Seketika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *