Gadis di Bus Kota (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 10 March 2021

Wulan berdiri dan menggeser tempat duduknya dan berada di samping Lintang. Matanya nampak penasaran bagai wartawan berita gossip sementara Lintang terpojok di dekat jendela.

“Jadi itu alasan kenapa Mas Lintang nggak pernah kelihatan lagi? Aku pikir mas kenapa gitu.”
“I..iya gitu.”
Wulan memperbaiki duduknya, “Bukannya kepo nih mas, aku kepengen tahu kenapa mas menolak perjodohan itu?”
“Ya itu kepo namanya.”
“Terus kalo mas kabur, ngapain aja di kota orang?”
“Ya kuliah, kerja, cari kesibukan lain.”
“Nggak pernah pacaran gitu? Kan biasanya kalo menolak perjodohan itu bisa jadi ada orang yang dia cintai.”
“Aku belum pernah jatuh cinta sih. Jatuh dari tangga iya.”
“Terus mas itu doyan sama wong lanang juga??”
“Lambene dijaga ya! Masih suka sama cewek lah. Ini kamu deketin gini aku keringat dingin lho!”
“Lha pengakuan.”
“Ngapain sih deket-deket? Haram.”
“Dih padahal tadi salaman aja mau, ustadz gak jelas.”
“Ya..ya.. udah sana..”
“Santai mas!”
Wulan pun kembali ke tempat duduknya. Hening.

“Mas.”
“Apa?” Lintang masih agak kesal.
“Sebenernya aku juga takut kalo pulang terus dijodohin.”
“Ya kabur.”
“Nggak bisa gitu. Nanti malah ibuku yang digosipin orang. Kasihan.”
“Ya kan demi kebahagiaan sendiri masa ga boleh bahagia?”
“Ya Mas Lintang enak orangtuanya terpandang, mana berani digosipin!”
“Wes wes.. malah bahas privilege.”
“Ya bener dong, malahan setelah mas pergi jangankan menghujat keluarga mas, orang-orang aja pada bilang kalo mas itu simbol cinta sejati yang menolak perjodohan.”
“Hah? Julukan macam apa itu?”
“Ya pokoknya gitu. Coba kalo aku yang kabur, pasti dicap anak durhaka, ibunya digosipin sampe pindah rumah.”
“Itu kan kalo kamu dijodohin. Overthinking sih.”
“Ya gara-gara bahas perjodohan.”
“Yang bahas siapa?”
“Wulan.”
Lintang tersenyum jail dan mengacak rambut Wulan.

“Intinya sih Wul, aku kabur itu bukan karena aku dapet curhatan dari dia kalo dia itu sudah punya orang yang dicintai, sedangkan aku aja cinta dia nggak, aku juga nggak mau nikah muda, jadinya ya kabur.”
“Lha bukannya enak gitu?”
“Ye, kalo celap-celup ya jajan aja bisa.”
“Jajan?”
“Iya jajan.”
“Aku bahas nikah kok mas bahas jajan, ada-ada aja, nanti aku beliin di pasar jajannya.”
Lintang terdiam sebentar kemudian menepuk dahinya. “Iya nanti beliin, nitip, atas nama Nata.”
“Apa hubungannya sama jajan? Nikah ya nikah, jajan ya jajan.”
“Iya deh iya.”

Jam menunjukkan pukul setengah empat. Sebentar lagi shubuh dan mereka akan sampai di gerbang desa. Mata Lintang mulai memberat tapi terbuka lagi setelah mendapat cubitan di lengan.

“Apa?!”
“Bentar lagi sampai kok tidur.”
“Ya ngantuk lah, semalam suntuk diajak ngobrol.”
“Lanjut dong soal masalah perjodohan itu, masih penasaran.”
Lintang mendelik seketika, “awas nanti kamu kulamar kalo sampe ngelanjutin obrolan tadi!”
“Aahhh gak mauu… mau sama mas Joko aja!”
“Mas Joko udah nikah!”
“Jadi istri kedua!”
“Aku cukur jadi ganteng awas ya!”
“Ihhh.. serius amat.” Wulan cemberut lima senti.

“Umurmu berapa?”
“Nggak sopan nanya umur!”
“Umurnya berapa tante?”
“Dua puluh.”
“Lha cukup dong kalo kulamar, kamu dua puluh aku dua puluh delapan.”
“Hilih! Kin*il.”
“Mulutnya.” Lintang menyentil bibir Wulan.
“Iya.. iya.. bercanda kan tadi?”
“Bercanda nggak yaa??”
“Maassss!!!”
“Ahahahaha…”

Bus melaju melalui jalan lika-liku di pegunungan. Suara adzan mulai terdengar di ujung sana. Bus berhenti di gerbang desa dan menurunkan dua orang ini. Bapak dan Ibu Lintang serta kakak Wulan telah menunggu di depan gerbang. Sebelum turun mereka mengambil barang mereka sembari mengobrol sedikit-sedikit.

“Duluan ya Mas Lintang, Pak Kades, Bu Bidan.” Wulan pun berlalu menaiki motor bersama kakak lelakinya.

Sementara itu.
“Ya Allah leee… cukur besok cukur!” teriak ibu Lintang.
“Anaknya pulang kok gitu sih bu?”
“Buk, anakmu sehat wal afiat ini.” Lintang hanya tersenyum kecut mengingat ia begitu sayang sama rambutnya.

Setelah berpelukan mereka pun masuk mobil dan pulang bersama.
“Asik ya tadi satu bis sama Si Gembrot?” Tanya ibunya sambil tersenyum.
“Gembrot? Namanya Wulan bu, orangnya juga kurus.”
“Iya dulu si Gembrot, kamu yang kasih julukan itu ke dia, anaknya Bu Marni.”
“Dia Gembrot yang itu? Yang item dekil kayak tanah sawah itu? Anak wedok ra diurus iku??” Lintang mendadak kaget dan memori masa lalunya melayang.
“Sekarang anaknya cantik lho, bapak mau jodohin..”
“Pakkk..” Lintang merengut.
“Ya kalo kamu cinta, hehe.” Sambung bapak.

“Nikah ya le.” Kata ibu.
“Aku minggat lagi lho.”
“Yaampun bercanda!” kata ibu.
“Tadi panggil kamu pake nama yang special lho, Lintang, cuma Mas Joko lho yang panggil kamu begitu, ada apa ini le?” bapak makin menggoda Lintang.
“Pak aku balik ke kota aja.”
“Ehehehe.. udah sholat dulu yuk. Tuh ada si Wulan juga, imamin sekalian.” Kata bapak.
“Bapaaakk…”

Mungkinkah karma? Mungkin.

Mobil berhenti di pekarangan mushola dan seluruh penumpang turun untuk mengambil wudhu. Lintang berjalan menuju tempat wudhu dan berpapasan dengan Wulan lagi. Mata mereka bertemu, namun kini Lintang yang malu karena ia pernah mengatai gadis manis ini gembrot dekil. Wulan tersenyum dan berjalan melaluinya.

“Wul.”
“Iya?”
“Hai lagi.”
“Pffttt.. udahlah, sholat dulu, nanti kita sambung yang tadi.”
“Nggak gitu maksudnyaaa…”
“Ohh.. jadi aku yang harus ngelamar duluan gitu?” tanya Wulan sengaja dikeraskan.
“Gue tandai lu ya!” kata Lintang dengan nada kekotaan lalu keburu kabur ke tempat wudhu karena malu, meninggalkan Wulan yang tertawa.

Wulan lalu berjalan masuk ke mushola. Beberapa menit kemudian sholat shubuh dilaksanakan. Hari mulai pagi, cahaya matahari menyinari bumi. Semua orang kembali ke rumah masing-masing, kecuali para petani dan orang-orang yang bekerja di pagi hari, tak lupa para anak sekolah yang lalu lalang di jalanan. Sembari menikmati pemandangan desa di atas motor kakaknya, Wulan mengingat-ingat sebuah peristiwa antara dia dan ‘Mas Nata’ alias ‘Mas Lintang’ karena maunya dipanggil begitu.

Beberapa tahun sebelum Lintang pergi dari desa…

“Dasar Gembrot!” teriak Lintang.
Sambil merengut Wulan berteriak, “Hei kalo aku cantik nanti Mas Nata yang jadi suamiku! Karma selalu berlaku!”
“Mana mungkin kamu jadi cantik mbrot? Nggak bisa!”
“Awas yaaa!!!”

Kembali ke masa sekarang diatas motor. Ia sudah sampai di rumahnya, ibunya menyambut gembira dan mereka masuk kedalam. Wulan menaruh barang di kamar, dan duduk di pinggir kasur sambil melihat sebuah foto seorang Lintang ketika masih belum gondrong. Ia tersenyum sambil memandangi cinta pertamanya itu. Dalam hati ia berkata, “Mas Nata atau kupanggil Mas Lintang, kamu kena karma, sekarang nikahin aku.”

Tamat

Cerpen Karangan: Kucing Hitam

Cerpen Gadis di Bus Kota (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Izinkan Aku Mencintainya (Part 3)

Oleh:
Seperti biasa, ku ceritakan semuanya pada Arin. Nampaknya ia sangat kesal dan cemburu. Tapi ia menyembunyikannya dariku. “Iya, tadi anak-anak di sekolah heboh, bicarain Vindra yang pindah sekolah.” Jawab

Rasa ini (Part 3)

Oleh:
Beberapa bulan kemudian berembus kabar bahwa jumlah peserta cerdas cermat adalah 10 orang. Lama kami menanti lomba tingkat provinsi namun tidak kunjung dilaksanakan. Sampai pada tanggal 22 Mei 2015

The Cangar Love Memories

Oleh:
Aku angel, gadis usia 22 tahun, aku bekerja di interior. Bekerja adalah hobiku, selain dapat mengisi dompet, juga menghilangkan kejenuhan, oleh sebab itu bekerja over time tak masalah buatku.

Senyum di Puncak Lawu

Oleh:
Aku bisa merasakan bagaimana dinginnya tempat ini nanti malam. Mendung di sudut sore itu sudah mulai menebal, matahari pun sudah mulai bersembunyi. Padahal ini masih jam 2 siang. Di

21 Mei

Oleh:
Hari ini tanggal 21 mei, tapi entah kenapa hati ini tak merasa ketenangan yang terjadi 2 tahun lalu saat cinta dan rasa ini begitu mengebu-gebu dalam dada ini. Tanggal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *