Janji Musim Panas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Rindu, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 24 April 2021

Menantikan seseorang yang takkan kembali, sama saja seperti mengharapkan sesuatu yang takkan bisa kau dapatkan. Seperti aku yang tetap berdiam di tempat ini, berharap keajaiban datang menghampiriku dan mengubah hidupku jauh lebih berwarna.

“wahh… indah sekali” seru seorang anak perempuan sembari memandangi hamparan laut yang sangat luas di depannya dengan takjub. Dengan riang, anak itu berlari kecil di pinggiran pantai. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke bawah, mengamati setiap butiran pasir yang hanyut karena terbawa oleh air laut.

“sudah kubilang kan, tempat ini hebat bukan?” ujar seorang anak laki-laki di sebelahnya. Sambil berkata begitu, ia mengambil segenggam pasir dan memberikannya kepada anak perempuan di sebelahnya itu
“pasir.” Katanya dengan sangat lembut.
“pasir”. Ulang anak perempuan itu lambat. Pandangannya tertuju pada kedua tangannya yang sekarang sedang menggenggam pasir. Pasir itu mulai turun sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tak ada lagi pasir yang tersisa di tangannya.

Anak laki-laki itu tersenyum sambil memandang lautan luas di hadapannya yang seperti tak berujung. Mereka terdiam selama beberapa saat, membiarkan air laut melewatinya, membiarkan angin berhembus menerpa wajah mereka dan menerbangkan rambut mereka.

“zafran, apa ini?” tanya anak perempuan itu sambil menunjuk seekor hewan bercapit dengan tubuh berwarna merah. Anak laki-laki yang dipanggil zafran itu segera berlutut dan menangkap binatang yang dimaksud tersebut.
“ini kepiting.” Kata zafran. Ia pun kemudian membiarkan kepiting tersebut berjalan di atas telapak tangannya. Beberapa saat setelah menunjukkannya kepada anak perempuan itu, zafran kembali mengulurkan tangannya ke atas pasir, lalu membiarkan kepiting itu kembali ke asalnya.

“kenapa? Kenapa kau biarkan dia pergi?” tanya anak perempuan itu.
“Dia juga memiliki keluarga.” Jawabnya. “ia juga pasti ingin pulang menemui keluarganya.”
Anak perempuan itu mengangguk cepat, tanda bahwa ia sudah mengerti apa yang dikatakan oleh zafran. “tempat ini sangat luar biasa. Begitu indah dan menenangkan.” Ujar si anak perempuan. Membuat zafran tersenyum. Ia lega, melihat kegembiraan anak perempuan di sebelahnya dapat kembali, setelah apa yang dia lalui selama ini.

“Zafran, kapan kita bisa pergi lagi ke tempat ini?” tanya anak perempuan itu sambil memainkan butiran pasir dengan jemari kecilnya.
Zafran terdiam. Senyumnya mendadak hilang, suasana yang menyenangkan tadi dia rasakan hilang dalam sekejap dan berubah menjadi rasa takut. Ia menyadari, bahwa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan anak perempuan itu.
“musim panas.” Gumam zafran cepat.
“eh?”
“musim panas 10 tahun lagi, kita akan bertemu kembali, disini, di tempat ini.”
“sungguh? 10 tahun lagi aku berusia 22 tahun dan kamu berusia 25 tahun. Aku menanti paras tampanmu berubah haha. Ketika nanti kamu dewasa jangan lupakan aku yaa, walaupun aku tahu kau akan tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan banyak perempuan yang mengantri untuk menjadi kekasihmu.” Ujar si anak perempuan itu.

“Zahrana…” Panggil zafran
“apa zafran?” saut anak perempuan yang bernama zahrana itu.
“aku tidak akan melupakanmu, kau tidak perlu menanti aku 10 tahun lagi. Karena aku akan selalu ada di setiap langkahmu dan simpan aku di hatimu. Dan satu lagi, kamu adalah satu-satunya wanita yang akan selalu tersimpan di hatiku. Aku ingin kamu bahagia tanpa merasakan sedih yang berkepanjangan. Hiduplah dengan bahagia dan hiasi harimu dengan senyum yaa zahrana?.” Ujar zafran dengan cukup panjang.
Sedikit terkejut dengan perkataan zafran, “seperti akan pergi jauh?” tutur zahrana dalam hati.

“kau akan terus menemaniku? kau sudah janji yaa. Dan jangan pergi jauh dari aku, aku takut menjalani semua ini sendirian.” Ujar zahrana dengan sangat lembut dan menahan isak tangis.
Zafran yang sedang menatap ombak laut, langsung beralih kepada anak perempuan itu. Menatap matanya yang sangat indah itu. Lalu, ia memeluk perempuan itu dengan sangat erat seakan tak ingin ia lepas dan berkata dalam hati. “andai tuhan memberikan aku kesempatan untuk menemanimu tanpa rasa takut.”

Ingatan itu kembali berputar di dalam kepalaku. Memenuhi pikiranku setiap saat, setiap waktu, kapanpun, dimanapun. Zafran nama itu. Nama seseorang yang telah menyelamatkanku dari kehancuran hidupku. Nama seseorang yang telah memberikan secercah cahaya padaku yang waktu itu sedang berada jauh di dalam kegelapan. Aku menjadi pengingat yang baik untuk beberapa waktu ini. Seolah kejadian bersama zafran baru kemarin terjadi. Senyum yang menghiasi wajah tampannya seakan baru aku lihat kemarin dan membuat aku ingin terus-menerus melihat senyumnya.

Saat aku sedang berada diambang keputusasaan dan kehancuran, ia selalu ada menolongku, memberiku alasan untuk tetap bertahan hidup. Zafran seseorang yang tak akan kulupakan sampai kapanpun. Dan janji itu, janji di pantai saat itu, akan selalu kukenang, dan kuanggap sebagai hadiah terakhir yang ia berikan kepadaku, sebelum kami benar-benar berpisah.

10 tahun berlalu aku masih dengan aku yang sama. Kini usiaku tepat 22 tahun dan aku mempunyai karir yang cukup bagus, aku mendirikan sebuah toko clothing yang aku isi dengan desain baju hasil karyaku sendiri, membuat banyak konsumen yang datang dan mengantri untuk mendapatkan baju yang aku buat. Membuat aku bangga dengan diriku sendiri, dan semua ini aku peroleh tak luput dari dukungan zafran. Aku tidak akan sampai di titik ini kalau bukan karena laki-laki itu.

Siang ini, Tepat pada musim panas yang ke 10 tahun ini, aku akan menuju ke pantai dengan berangkat dari toko clothingku. Tempat dimana kami melihat indahnya laut, tempat dimana aku merasakan kehangatan untuk pertama kalinya. Segera aku panggil siska karyawanku “siska, hari ini aku ingin ke pantai. Tolong jaga toko ini yaa. Ah tolong tutup toko tepat matahari terbenam yaa? Hari ini aku memberikan kalian waktu untuk menikmati musim panas dengan keluarga kalian.” Ujarku kepada siska.
“baik bu, tapi ibu akan sendirian ke pantai? Masih ingin mengenang tentangnya?” tanya siska dengan hati-hati.
“aku akan selalu kesana pada saat musim panas, aku ingin dia tahu bahwa dia memang selalu ada di setiap langkah hidupku. tidak, aku tidak sendiri, akan ada yang menyusulku nanti.” Ujarku sambil tersenyum.

Setelah melewati perjalanan selama 2 jam. Akhirnya aku tiba di tempat yang sama pada saat kami bertemu 10 tahun yang lalu, pantai dengan laut biru dan pasir putih, tempat dimana aku pertama kali merasakan kehangatan, aku berjalan sedikit lambat menulusuri luasnya pantai. Melepaskan lelah dan penatnya kehidupan. Seketika matahari mulai menurun, itu pertanda malam akan tiba dan matahari akan terganti dengan kehadiran bulan dan bintang. Setelah menulusuri pantai, aku duduk di pinggiran pantai. Aku masih mengingat jelas kejadian itu. hangatnya air laut, butiran-butiran pasir, serta hembusan angin disini masih sama dengan yang aku rasakan 10 tahun yang lalu. Seandainya saja, zafran, laki-laki itu yang sekarang pastinya sudah jauh lebih besar dibandingkan waktu itu masih mengingat janjinya, ia pasti berada di sini, disampingku.
Aku tertawa pelan. Kalau saja ia mengatakan tanggal pertemuannya, aku tak perlu menunggu sepanjang musim panas, kan. Dasar zafran.

Aku menghela nafas sedikit dan berkata “seandainya saja waktu dapat kuputar kembali, seandainya saja aku dapat kembali ke masa itu, seandainya saja aku dapat memaksanya untuk tetap membawa diriku bersamanya pasti aku akan ada disana saat terakhirnya, dan seandainya kami tak berpisah, maka dia pasti berada disini sekarang” aku tersenyum tipis.

Sayangnya, mau berharap seperti apapun dan bagaimanapun. Zafran tak akan pernah bisa datang kesini dan bertemu denganku. Sebab ia sudah tidak ada di dunia ini. yaa tepat 10 tahun yang lalu, selepas kejadian dari pantai itu seminggu setelahnya. Kondisi zafran memburuk ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif, kanker yang bersarang di tubuhnya semakin lama semakin memperburuk keadaanya. Yaa zafran mempunyai penyakit kanker darah atau leukimia yang membuat darah putih di tubuhnya malah semakin meningkat. Dan bodohnya, aku tak tahu bahwa lelaki yang aku cintai dan menolongku, pada saat itu sedang kesakitan, ia menjalani perawatan intensif selama 6 bulan sembari menunggu pendonor tulang sumsum belakang, namun takdir berkata lain tepat 7 bulan dia di rumah sakit. Tuhan menyuruh ia untuk pulang ke rumahnya yang abadi. Dan aku baru diberitahu oleh pihak keluarga sebulan setelah zafran meninggal.

Kalian tahu? Hatiku sangat teramat hancur mendengar kabar itu, seperti kesambar petir. Langit london pada hari itu terlihat sangat kelabu seakan mendukung suasana hatiku. Mungkin raganya zafran memang pergi namun sosoknya akan tersimpan abadi di hatiku.

Aku yang sedang asyik bernostalgia, tiba-tiba seseorang menghampiriku dari belakang. “zahra? Haii maaf aku datang telat yaa, sedikit susah membujuk raina sampai akhirnya aku berhasil.” Tutur laki-laki itu.
“tak apa, aku yang seharusnya meminta maaf karena kau harus kesusahan mengurus raina dulu” ujarku dengan lembut
Gadis kecil yang bernama raina itu seketika berlari dan masuk kedalam pelukku. Aku melekungkan senyumku dan berkata. “raina anak bunda, cantiknya bunda dan ayah yaa wangi banget sih anak bunda.” Ujarku yang sambil menciumi raina. Dan membuat raina semakin nyaman di dalam pelukku

Yaa setelah 10 tahun berlalu, setelah aku kehilangan sosok zafran aku fikir tidak ada lagi kebahagiaan untukku. Namun aku salah, pria yang kini tengah melihat kearahku dan raina, pria yang berhasil menemaniku selama 10 tahun terakhir ini, pria dengan wajah yang sama dengan zafran namun berbeda sifat ini adalah kembaran zafran yang bernama zafrian.
Kami menikah dua tahun yang lalu pada saat usiaku masih 20 tahun. Zafrian menikahiku, karena ia harus melanjutkan studi S2 nya di New York, dan ia tak ingin meninggalkan aku sendirian di london, dengan segala rasa yang ada dariku untuknya aku meng-iyakan ajakannya untuk hidup bersama. Dan di usia 21 aku melahirkan raina gadis cantik yang mempunyai bola mata yang sama dengan ayahnya. Selepas melahirkan raina, zafrian mengajakku kembali ke london. Kota dengan segala kenangan yang ada tentang hidupku.

Usiaku yang sekarang ini berusia 22 tahun aku hanya ingin mengucap kata syukur sebanyak-banyaknya. Aku sangat mencintai laki-laki di depanku ini, dengan rasa sabarnya ia sanggup menghadapi diriku yang sering kali masih mengingat kisahku dengan zafran. Aku akan selalu menyimpan sosok zafran di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Dan aku mencintai zafrian untuk sekarang dan nanti sampai kita terpisahkan oleh maut. Hidupku yang akhirnya berakhir dengan kebahagiaan. Aku berterimakasih kepada zafran, karena sosoknya yang membuatku tetap ingin hidup dan men-syukuri apapun yang terjadi dalam hidupku. kini aku mempunyai dua orang dalam hidupku yang aku jaga dan aku rawat sampai nafasku berhenti.

Aku menggenggam tangan pria di sebelahku dan berkata “aku sangat berterimakasih kamu hadir di waktu yang tepat. Dan membuat hidupku jauh lebih berwarna.” Ujarku dengan memeluknya.
“aku mengambil keputusan yang tepat, walaupun aku harus bersabar dengan rasa yang pada akhirnya kau tujukan untukku. Terimakasih telah hadir menjadi wanita dalam hidupku dan ibu untuk raina.” Ujar zafrian
Kita tersenyum dan kembali memandangi matahari yang mulai terbenam dengan sosok makhluk kecil di tengah-tengah antara aku dan zafrian. Terimakasih tuhan, dan terimakasih zafran sosok yang tak akan kulupa.

Kau tahu? Seseorang yang telah pergi mungkin tidak akan kembali lagi. Namun percayalah, sosok itu akan digantikan dengan seseorang yang jauh lebih baik lagi. Kau hanya cukup bersabar dan percaya akan ada pelangi setelah hujan. Begitupun dengan kebahagiaan yang hadir setelah kesedihan.

Cerpen Karangan: Choco
Blog: silakuna.blogspot.com

Cerpen Janji Musim Panas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Still Have Them

Oleh:
Gemuruh hujan membangunkan Lucy dari tidur yang setengahnya mimpi buruk. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengusir kantuk, lalu melirik kalender yang diletakkan di atas meja di sebelah tempat tidurnya.

After Hello (Part 1)

Oleh:
Clara Smith merebahkan dirinya di atas ranjang dengan posisi telentang dan wajah frustasi. Seharian ini ia telah menahan semua bentuk luka batin yang akan membuahkan air mata sewaktu-waktu sementara

Irma

Oleh:
Sangat indah mata gadis dalam lukisan ini, pupil matanya yang hitam dilingkari warna coklat muda dan tampak bening, menatap sendu kepada orang yang memandangnya, dan seakan gadis itu benar-benar

Tolong Sudahi Rasa Sakit Ini

Oleh:
Kamu sudah terlalu lama mengendap di sini, di hati ini, dan aku tak tahu berapa lama lagi kamu akan terus mengendap. Bukannya tak mampu tuk mencari penggantimu tetapi saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *