Menanti Sang Kekasih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penantian, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 8 March 2021

Rintik hujan perlahan menghilang. Kutengok dari jendela kamarku, sang candra muncul di sebalik awan. Malam sudah larut. Namun, kekasihku tak kunjung pulang.

Biasanya paling malam kekasihku sudah tiba di rumah selepas azan isya dikumandangkan. Sudah kucoba hubungi, tapi masih tidak tersambung juga sedari siang. “Mungkin hapenya mati dan terjebak hujan, jadi dia menunggu hujan reda,” batinku mencoba menghibur. Semoga ia baik-baik saja.

Tiba-tiba terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumahku. Mobil siapa? Bukankah Mas Irfan bawa motor? Apa motornya mogok terus naik taksi online? Berbagai pertanyaan hinggap di kepala. Aku pun bergegas keluar kamar.

Tok-tok-tok. Tok-tok-tok.
“Assalamualaikuum. Assalamualaikuum.”
“Waalaikumsalam,” jawabku seraya membuka pintu.

“Lho, Dani? Ada apa malam-malam begini?”
“Irfan, San. Irfan, suami lo.” Kecemasan terlihat jelas di raut muka Dani.
“Mas Irfan? Kenapa Mas Irfan?” Aku mulai panik.
“Irfan ada di klinik gue sekarang. Dia butuh lo secepatnya. Ayo!”
“Mas Irfan kecelakaan?” tanyaku makin panik.
“Udah ga usah banyak nanya. Buruan!”

Dani adalah teman kuliahku, yang juga sudah akrab dengan kekasihku sejak aku kuliah dulu. Dia sudah sukses menjadi seorang dokter dan membuka klinik, sedangkan aku memilih mengabdi sebagai seorang istri.

Di tengah kepanikanku, aku terus berdoa untuk keselamatan kekasihku atas apapun yang telah menimpanya. Hanya dia satu-satunya yang aku miliki di dunia ini. Ibu dan bapakku meninggalkan anak semata wayangnya ini setahun yang lalu, setelah bus yang mereka tumpangi jatuh ke jurang. Tak satu pun penumpang yang selamat.

Sesampainya di klinik, kulihat kedua jarum jam dinding di ruang tunggu bertumpuk. Dani segera membawaku ke sebuah ruangan.

“Maaf, Santi. Suamimu …” Maya, istri Dani, menyambutku dengan ucapan maaf dan tetesan air mata di pipinya. Apa maksudnya ini?

Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Seseorang berbaring di atas sebuah bangsal dengan kain menutupi seluruh tubuhnya. Mas Irfan?

Aku berteriak histeris. Tangisku pun pecah.
“Maaaaas. Jangan pergiiii. Jangan tinggalin aku Maaas.” Kakiku mendadak lemas, tak sanggup lagi menopang tubuhku. Aku ambruk di depan bangsal itu.

“Dani, Mas Irfan kenapa? Kenapa bisa begini?” tanyaku dengan air mata yang terus berderai.
“Coba kamu buka dulu kainnya, San,” ujar Dani sembari tersedu.
Lalu aku membuka kain yang menutupi wajahnya.

“HAPPY BIRTH DAY! Selamat ulang tahun ya istriku sayang.” Mas Irfan bangun seraya meneriakkan ucapan selamat ulang tahun, lalu memelukku dengan segenggam bunga mawar merah di tangannya.

Di belakang, terdengar Dani dan Maya, menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’. Lalu kutoleh mereka sedang membawa kue ulang tahun, tak lupa dengan lilin yang sudah dinyalakan.

“Nggak lucu, Mas. Sama sekali nggak lucu!” Emosiku langsung berubah. Mungkin mukaku sudah memerah sekarang.
“Kematian kau buat main-main, Mas? Ide dari mana? Aku takut setengah mati!” Aku kembali menangis.
“Maafkan aku, Sayang. Bukan maksudku begitu. Ini hanya … surprise.” Mas Irfan memelukku erat.
“Bahkan aku sendiri lupa, Mas, kalau hari ini ulang tahunku. Sepanjang hari aku hanya gelisah memikirkan kamu yang susah dihubungi.” Aku masih terisak sambil memukul-mukul pundak kekasihku.
“Iya, iya, aku minta maaf. Lain kali enggak deh.”

“Mmm, Santi, sorry kalo gue boleh nyelak bentar. Ini semua ide gue. Tadi siang Irfan cerita kalo dia bingung mau kasih surprise apa, dan tiba-tiba aja ide ini muncul di kepala, dan Irfan setuju. Jadi, sudah ngga usah diperpanjang lagi ya. Yang penting sekarang Irfan ga kenapa-napa.” Dani mencoba meredakan amarahku. Oke, aku percaya.

“Ayo, sekarang waktunya mamam. Udah laper nih,” ajak Maya yang sedari tadi hanya melihat drama yang tak lucu ini.

Mereka sudah menyiapkan barbecue di halaman belakang rumah Dani. Semenjak menikah tahun lalu, Dani dan Maya memang hanya tinggal berdua. Sama seperti aku dan kekasihku yang masih menunggu keajaiban itu datang. Sebuah kehidupan di dalam rahim.

Aku marah, memang marah atas kelakuan kekasihku kali ini. Namun, aku bersyukur karena Tuhan mengabulkan doaku malam ini.

Cerpen Karangan: Titi Kasih
Blog: alkirana28.blogspot.com
Titi Kasih
Seorang ibu rumah tangga dengan 3 malaikat kecil. Ia tergabung dalam beberapa grup menulis di media sosial. Menulis, membaca, dan memasak adalah hobi yang mengasyikan baginya.

Cerpen Menanti Sang Kekasih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertama Dan Terakhirku

Oleh:
Hari ini seperti hari-hari biasa seperti yang kualami. Pergi ke sekolah untuk mencari ilmu dan bertemu dengan teman-teman yang sama. Tapi sejak 2 tahun yang lalu hidupku berubah menjadi

Minggu Sore di Supermarket

Oleh:
Sebagai seorang perempuan, naluri berbelanja ada di dalamku tentunya. Meskipun memang orangtuaku selalu membatasi uang jajanku setiap bulannya dan dimintai laporan keuangan setiap akhir bulan, ya perempuan tetaplah perempuan

Kamu dan Senja

Oleh:
Tentang waktu, Tentang jarak, Tentang rindu Yang selalu menghantui hari-hariku Jadi, Bagaimana kabarmu di sana? Aku selalu teringat tentangmu. Tentang kita. Bahkan aku selalu teringat saat kau masih ada

Usia 17 dan Pacar Baru

Oleh:
Hidup terasa indah dan menyenangkan bagi Lydia saat ini. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia menyadari bahwa di pagi itu umurnya telah bertambah satu. Lydia tersenyum lalu ia bangkit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *