Sepotong Kenangan Di Waktu Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 25 April 2021

Malam sudah larut, suara gemuruh hujan samar-samar mulai terdengar dari arah selatan. Langit diluar sana mungkin sudah sangat gelap dan mengerikan. Dengan hati yang begetar aku bersembunyi di balik selimut tebal, berdoa memohon agar hujan itu tidak turun. Namun, tidak perlu menunggu waktu yang lama butiran-butiran air dari langit itu turun dengan amarah. Tidak ada kelembutan yang terdengar, keringat dingin sudah bercucuran. Aku ingin sekali menghilang, dan tidak perlu mendengarkan kemarahannya. Sayang, kenyataanya aku masih terdiam dengan balutan selimut di seluruh tubuhku.

Semakin larut, hujan itu malah semakin menjadi. Bagaimana denganku yang phobia hujan?.
Dapat dipastikan saat itu aku sudah menangis, hingga bunyi dering ponsel yang kupegang membuatku sedikit berharap. Seseorang disana bisa membawaku dalam kondisi yang tenang.
Hanya sebuah pesan singkat dari seseorang yang waktu lalu kukirimkan pesan padanya. “Enggaklah, kan ada adek yang nemenin.” bacaku pada pesan itu. Ada sedikit rasa senang, hingga tanpa sadar aku tersenyum dan mengetikkan pesan untuknya “Adek siapa?” jawabku memastikan. Tidak perlu menunggu lama pesan itu sudah terbalas, “Ya kamu, adek.” Lagi-lagi senyum itu mengembang ditengah rasa takut yang tentu belum menghilang.

Dengan rasa yang bimbang, aku mulai memberitahukan kondisiku disini pada seseorang disana. “Kak, hujannya sampai sini. Aku takut, aku harap kakak tidak tidur duluan.” Begitulah pintaku terlalu jujur padanya. Aku masih menangis, berharap dia disana menenangkanku meski dengan balasan pesannya.

“Adek yang tenang ya sekarang, kakak temenin dari sini.” Begitulah jawabnya menenangkanku. Tetap saja aku masih takut, hingga pesan terkahirku tidak lagi terbalas. Mungkin dia sudah tertidur pikirku, lagipula dia sedang terbaring sakit disana. Memang sudah seharusnya dia tidak tidur larut malam seperti ini.

Hujan masih juga belum berhenti, rintiknya masih bisa kudengar meskipun tidak semenakutkan seperti pertama kali turun. Aku sudah lelah menangis, perlahan aku mulai terlelap dengan mata yang masih begitu sembab.

Pagi buta sudah kupaksa membuka mata, ingatan malam tadi masih begitu kental di pikiran. Beranjak dari tempat tidur mungkin lebih baik, daripada harus terus merutuki diri sendiri. Cakrawala begitu megah di ujung timur sana, bunga-bunga mulai bermekar dengan baunya yang khas. Aku suka udara pagi yang seperti ini, cerah. Jika orang-orang lebih banyak menyukai hujan, dan bilang hujan itu sebuah kenangan. Aku tidak menolak, aku rasa hujan memang kenangan yang baik, meskipun setiap kali dia marah aku selalu tersiksa.

Aku kembali lagi masuk dalam rumah, mengambil ponselku yang masih tergeletak di kasur. Kulihat ada satu pesan yang belum sempat kubaca, ternyata itu balasan pesanku yang semalam. Kurasa dia masih dalam perawatan di rumah sakit, jika bisa ingin sekali aku mengajaknya jalan-jalan pagi seperti yang pernah aku lihat di tv. Namun sayang, jarak itu selalu ada untuk pembatas diantara kita.

“Kak, coba jendelanya dibuka. Biar udaranya segar dan kakak bisa lihat pemandangan dari sana.” lewat ponsel itulah kuketikan pesan untuknya, dan ia membalanya. Namun siapa yang sangka balasan itu malah seperti rayuan, “Sudah, dek. Tapi masih ada satu yang belum bisa kakak buka.” Dengan polosnya aku menjawab seperti biasa, “Loh, kakak buka sendiri? Kirain suster yang bukain kak. Btw emang kenapa kak, susah ya?”.
Bukan jawaban yang ia balaskan, malah pertanyaan yang emang aku tidak tau jawabannya. “Adek tau nggak, apa yang susah dibuka?”. Aku segera membalas pesannya itu, “Tidak kak, emang apa? Gembok?”. Tidak perlu lama menunggu pesan itu sudah terbalaskan, “Bukan dek, yang susah dibuka itu. Hati kamu, dek.”
Ingin sekali aku tertawa, kok bisa-bisanya aku tidak tau kalau ia sedang mengerjaiku. Emang dasar ya dia suka ngada-ngada, batinku. “Kakak, belajar darimana tuh bisa begitu?” tanyaku membalas pesan yang baru saja membuatku seperti ditiup-tiup. Tapi aku tidak menolak untuk tersipu, memang sangat lemah. Aku ingin sekali terbang, lalu menemaninya disana. Menjitak kepalanya, dan memberikan tawa agar ia bisa segera pulang dan pulih.

Biarpun ini bukanlah kenangan yang sangat baik menurut mereka, namun aku lebih tau mana yang bisa kujadikan ini kenangan, untuk terus diingat hingga nanti kita bisa bertemu untuk mengikis sebuah jarak yang terlalu lama terbentang.

Mungkin orang lain tidak tau, bahkan dia sendiri. Jika malam itu dia tidak datang lewat pesan, apa jandinya aku yang ketakutan. Terkadang sebuah kenangan itu simpel, cukup kenyamanan dan senyuman yang terukir.
Aku memang tidak terlalu suka hujan, namun kenangan itu datang setiap kali turun hujan. Aku berharap hujan akan menjadi temanku suatu saat nanti.

Cerpen Karangan: Siti Qodiriyah
Jejak bisa di temukan di akun Instagram @diyahzfq__ dan alamat gmail qodiriyahs@gmail.com. “Kau tau mengapa saat kau menatap langit hatimu merasa damai dan tenang? Sebab, ketika yang dibumi tidak lagi peduli denganmu, yang dilangit masih sangat menyanyangimu dan akan selalu ada ruang untukmu mengadu Kepada-Nya.” -diyah

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 April 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Sepotong Kenangan Di Waktu Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Pertanyaan (Part 1)

Oleh:
Aku masih termangu di basecamp PMR ketika malam mulai meniupkan nafasnya yang dingin menggigit. Acara besar menanti besok, namun hujan belum juga berhenti. Kubetulkan posisi jaket yang aku gunakan

Hadiah Valentine Buat Arya

Oleh:
Arya dan Ranti sepasang suami isti, yang sudah 3 tahun menikah belum dikaruniai anak. Keduanya sangat sibuk sehingga jarang ada waktu untuk bersama, namun tepat di hari valentine ternyata

Nama Ke-1001

Oleh:
Cupid masih berbaring dengan tenang di salah satu dahan terbesar pohon tua, pohon tua di tengah ilalang kekuningan yang selalu menajdi tempat kesukaannya. Angin senja yang hangat masih setia

Raflesia Mekar di Losari (Part 2)

Oleh:
Minggu siang itu ilham seperti biasa datang ke acara rapat organisasi yang ia ikuti di kampusnya, memang akhir-akhir ini ilham jarang datang ke acara tersebut, disamping disibukkan dengan tugas

Deo: Pahlawan Terbesarku

Oleh:
“Teeeeeet, teeeeet, teeeet, teeeeeet…” alarm handphone milik Deo yang terdengar seperti alarm tanda bahaya seperti di film-film Hollywood menandakan sekarang sudah jam 6 pagi. Dengan mata yang masih belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *