Aku Butuh Teman Bukan Musuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

Bel berbunyi nyaring. Suara itu terdengar sampai lantai 2. Bahkan sampai lantai 3. Matahari yang begitu terik merambat melalui jendela-jendela kelas. Semua siswa/i kelas 4 sekolah dasar, duduk dengan tertib. Tok.. tok.. tok.. seseorang mengetuk pintu dari luar. Samar-samar, ada wanita cantik berjilbab merah muda, berkacamata, dan memakai jubah berwarana ungu mengilap. “Assalamualaikum anak-anak” ucap Bu Lilia seraya melambaikan tangannya. “Waalaikumsallam Bu Guru!” jawab anak-anak serempak. Terlihat dari kejauhan, Bu Lilia tersenyum. “Nah anak-anak, berhubungan sekarang sekolah kita sedang milad jadi mohon perhatiannya. Jadi, kita tidak belajar untuk sementara wakti” kata Bu Lilia. “Tapi, hanya untuk sehari ini yaa. Oke, silahkan anak-anak turun ke bawah” lanjut Bu Lilia. Semua siswa segera turun ke bawah.

“Iih.. Argh! kenapa coba, aku lupa minta uang? jadinya, aku cuma nonton deh” gumam Shasha dalam hati. “Wooi” kata Dhisa. Dhisa menendang kaki Shasha. Dhisa juga menampar pipi kanan Shasha dan Dhisa juga menarik kerah Shasha. “Dhi.. dhi.. sa!” ucap Shasha tergagap dengan nada pelan. Saking sakitnya, Shasha mulai menangis. Di sana, tidak ada teman. “Hiks.. aku butuh teman. Bukan musuh” kata Shasha dalam hati. “Kenapa lo? lo nangis? Wlo..” ujar Dhisa sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian Dhisa menyenggol tulang rusuk Shasha.

Gedubrak…! Shasha terjatuh dari tangga. Shasha tergeletak di lantai. Karena orang-orang sedang menonton pentas seni dan membeli di areA bazar, jadi tidak ada yang menolong Shasha. Dhisa menginjak perut Shasha yang masih tergeletak. Lalu, Dhisa berlari dan memasang wajah yang cantik. Tangisan Shasha tak kunjung berhenti. Shasha tidak mampu meminta tolong. Kini, mata Shasha sudah tidak jelas. Rasanya, sungguh pusing tujuh keliling. Shasha pun pingsan seketika.

Beberapa menit kemudian, Bu Widia mengangkat Shasha ke UKS. Dusana, Shasha diobati dan ditenangkan. Shasha siuman dari pingsannya. “Waw.. ada kebakaran? ada gempa? aku di sini… tolong!” kata Shasha linglung. Bu Widia membelai jilbab yang dikenakan Shasha. “Huaa.. hiks.. hiks.. hiks” tangis Shasha. “Sella.. sella” panggil Shasha. Bu Widia penasaran. Memang, di sekolah ini tidak ada satupun yang bernama Sella. Kenapa ya, Shasha memanggil Sella terus? Sungguh Misterius.

Karena Shasha berbicara yang aneh-aneh, Shasha langsung pulang diantarkan Bu Widia. “Sha, Bu Widia ke sana dulu ya! Mau membicarakan kepada wali kelasmu, Bu Lilia” kata Bu Widia seraya tersenyum penuh arti kepada Shasha. Shasha hanya mengangguk. Bu Widia sekarang telah menjauh. Tapi, Dhisa menuju Shasha. “Woi.. Sha! lo kenapa?” tanya Dhisa tidak sopan. “Apa.. ak.. aku.. punya.. mu.. musuh..” kata Shasha. “Aku sakit hati Dhisa. Hati kecilku sudah muak. Aku tak tahan lagi menahan emosi. Aku butuh teman, bukan musuh!” emosi Shasha akhirnya keluar. semua menoleh kepada Dhisa dan Shasha. Rupanya suara Shasha tinggi, hingga akhirnya terdengar sampai sudut sekolah. “Dhisa.. jelasin dong! Aku udah muak nih. Udah r tahun aku di ejek, dan lain-lain” kata Shasha.

“Dhisa, aku katakan lagi ya! AKU BUTUH TEMAN, BUKAN MUSUH!” teriak Shasha.

Cerpen Karangan: Muhammad Rafid Nadhif Ruzqullah
Facebook: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Blog: www.halamanrafid18.blogspot.com

Cerpen Aku Butuh Teman Bukan Musuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayang Cahaya Warna Kematian

Oleh:
“Bu, kasihan! Pak!” Ucap seorang gadis kecil berbaju lusuh sambil menampan ke arah orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Beberapa orang memberi sekoin uang. Beberapa lagi mengusirnya dengan

Best Friend Forever

Oleh:
Pertama kalinya bagi aku dan sahabat-sahabat ku berpisah setelah menerima surat kelulusan dari sekolah, aku, Lyta, Mely dan Ari kita bersama-sama sejak SD, jalani suka duka bersama. tapi, tidak

Memoar Luka

Oleh:
Semesta kerapkali mematahkan, seakan memunculkan kepahitan yang tiada ujungnya. Ketika bahagia, kita akan diingatkan kembali tentang luka. Jalanan basah terlihat seperti diriku yang ingin sudah. Ah, lupakan aku sanggup

Uang Untuk Operasi Istriku

Oleh:
“Maaf mas, Tapi saat ini saya masih belum bisa bantu, Bukanya saya tak memiliki uang, tapi uang yang saya punya juga sedang saya butuhkan untuk biaya sekolah anak saya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *