Small Path at the end of the Alley

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 21 July 2021

Aku merapatkan jaketku. Air yang turun semalam masih membekas. Membentuk kubangan kotor, bercampur dengan tanah. Lumpur itu terciprat sana-sini, membuat satu-satunya sepatuku penuh dengan noda. Aku memandangi sepatuku, lalu melihat ke sekitar. Teringat tokoh karangan Sir Arthur Conan Doyle yang bisa menebak tempat apa yang telah kita kunjungi hanya dengan melihat noda di sepatu kita. Ah tidak, Sherlock tidak lagi menebak karena dia jelas ‘tau’. Dia pasti pria yang hebat jika memang nyata. Aku terkekeh membayangkan bertemu dengan detektif fiksi itu di jalan. Dengan sekilas mata, dia pasti tau jika aku sangat sengsara. Aku sangat mengagumi tokoh fiksi itu, ketelitiannya, pengetahuannya, bahkan sikap acuh tak acuhnya. Dia bisa membedakan hal apa yang perlu ia ingat dan tidak. Ia menata isi otaknya dengan baik. Lebih dari itu, sebagai penulis aku sangat mengagumi jalan cerita dan setting yang disajikan. Aku mengagumimu sir.

Tempat pertama yang harus aku kunjungi hari ini adalah kantor telegram. Aku ingin mengirim telegram ke orangtuaku di desa. Aku menuliskan jika aku baik-baik saja di kota, dengan pekerjaan yang baik dan tempat tinggal yang besar. Tentu saja kebohongan besar. Aku menyewa kamar kecil di pinggir kota. Pekerjaanku tidak terlalu menghasilkan. Aku menulis berita di koran. Beritaku tidak selalu dimuat di koran. Karena itu aku juga perlu menuang imajinasiku di kertas putih setiap hari. Menulis cerita setiap hari menghabiskan banyak tinta dan kertas. Kadang, aku rela tidak makan untuk membeli tinta dan kertas. Seperti itulah kehidupanku.

Ngomong-ngomong, namaku Nancy. Umurku pertengahan 20. Aku memiliki wajah yang bundar dengan bintik matahari di sebagian wajahku. Mataku biru berseri walau kulitku sekusam dinding kamarku. Rambut brunetteku sepanjang bahu selalu aku ikat. Saat kugerai, rambutku akan menekuk kedalam saking seringnya diikat. Kulitku seputih salju namun kering seperti toast yang kumakan pagi ini. Tinggiku sedang, mungkin sekitar 5 kaki. Orang yang melihatku akan mengerti keadaan hidupku.

Setelah mengirim telegram, aku pergi berkeliling kota. Mencari peristiwa menarik untuk dimuat di koran. Aku selalu berusaha mengingat detailnya sebelum menulisnya di rumah. Akan merepotkan membawa tinta dan kertas berkeliling. Setiap ada peristiwa unik terjadi, aku berhenti. Menanyakan detail kepada saksi dan berusaha menata kalimat di otakku.

Setelah mendapat beberapa topik, aku membeli sepotong roti di gang kecil. Aku mengeluarkan rotinya dari wadah kertas. Setelah itu, aku meminjam pena kepada penjual roti. Aku menuliskan detail yang mungkin akan kulupakan dari peristiwa yang terjadi tadi. Aku memegang roti dengan tangan satunya, menahan panas roti yang mulai membara di tanganku. Setelah mengucapkan terimakasih, aku segera melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku mantelku. Dengan cepat kuhabiskan rotiku dan melanjutkan pencarianku.

Aku menyusuri gang kecil saat mendengar suara senapan. Aku menegang, menoleh ke sekitar mencoba mencari asal bunyi tersebut. Aku kembali menatap ke depan, menghadap ke jalan bercabang. Suara itu jelas terdengar dari jalan di sebelah kiri. Aku berjalan perlahan, mengikuti hatiku untuk melihat apa yang terjadi di jalan sempit itu. Suara senapan kembali terdengar. Aku berhenti sebentar, mencoba mengubah sisi hatiku namun gagal. Aku terlalu penasaran, mungkin ada peristiwa menarik yang bisa menguntungkanku? Aku memantapkan hatiku, mencoba menyingkirkan kata bahaya di otakku. Aku kembali melangkahkan kakiku. Udara yang sebelumnya dingin, menjadi sangat panas. Bahkan, aku mulai berpeluh.

Gang itu mengarahkanku pada suatu tempat berpintu besar berwarna biru. Pintu itu tertutup, namun ada celah kecil di tengah pintu yang memungkinkanku mengintip ke dalam. Aku tercekat melihat isi ruangan itu. Beberapa orang berjas, mengepung 5 orang yang sudah terlihat babak belur. 2 diantara 5 orang tersebut bahkan sudah bersimbah darah. Aku mengernyit mencium bau anyir yang mulai menusuk. Selain itu, beberapa orang berkacamata hitam tampak berjaga di beberapa sudut. Ruangan itu mungkin sudah tertutup rapat, entah apalagi yang mereka khawatirkan. Ada apa ini? Apa ini kandang mafia?

Kakiku mencoba melangkah pergi, namun rasa penasaran lagi-lagi menang. Aku semakin memfokuskan netraku pada mereka. Ah, aku mungkin harus melaporkan hal ini kepada polisi sebelum menulisnya di koran. Tapi, bagaimana aku akan melapor? Apakah mereka akan percaya? Bukti apa yang aku punya? Apakah harus kubawa polisi kesini sekarang dan menangkap orang-orang itu? Ya! Itu yang paling baik.

Aku berbalik menunduk menatap sepatu kotorku. Tiba-tiba pintu dibelakangku berbunyi, mengeluarkan sejumlah orang bersepatu hitam. Aku merinding tiba-tiba. Otakku memerintahku untuk kabur, namun aku tercenung, tidak dapat bergerak. Aku mencoba berbalik saat tiba-tiba kepalaku dipukul dengan benda tumpul. Seketika aku ambruk berlutut. Sesuatu mengalir dari hidungku. Aku merasakan pusing yang luar biasa. Tubuhku seakan lumpuh, tidak dapat bergerak melawan. Lidahku kelu. Sekali lagi aku merasakan pukulan di kepalaku. Membuatku benar-benar ambruk, terjerembab ke tanah basah. Mataku mulai tertutup. Hal yang terakhir aku ingat adalah bau besi yang kuat memenuhi indera penciumanku.

Cerpen Karangan: Nabila Rosalina Putri Cahyono
Biasa dipanggil Lala. Aku resmi menjadi warga negara Indonesia tahun ini.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 21 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Small Path at the end of the Alley merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Ledakan Keempat

Oleh:
Pagi yang kurang bersahabat, langit tampak mendung, seperti menandakan akan terjadi sesuatu, di sebuah sekolah menegah pertama, saat itu para siswa sedang mengerjakan ulangan mid semester. Saat sedang sibuk

Dunia Di Bawah Tanda (Part 1)

Oleh:
“kring kring…” bunyi telepon rumah milik keluarga dani berbunyi, siapa pula pagi-pagi gini telepon, nggak ada waktu apa “ya halo” kata dani sambil menahan kuap “siapa nih” “oi dan,

Potret Keluarga Bahagia

Oleh:
Lamia merapatkan jaket tebal di tubuh kurusnya karena angin yang berembus malam ini tidak main-main dinginnya. Ia mempercepat langkah kaki menuju rumah. Masuk ke rumah adalah satu-satunya hal yang

Devil (Part 1)

Oleh:
Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang telah gelap itu, mataku tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke setiap jengkal tempat yang kulewati. Aku harus menemukan pria itu, tekatku dalam hati. Tepat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *