Symphony Aurora

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 25 July 2013

Di ruang itu – dengan pencahayaan yang mendekati minim dan satu fenomena alam terlukis di langit-langit yang dipancarkan sebuah proyektor – mirip seperti malam musim panas di San Jose.. Dua insan terhanyut oleh melodi mereka sendiri. Sang Adam menggerakkan jemarinya menyusuri tuts-tuts piano Grand Yamaha hitam, memainkan untaian nada-nada indah. Sang Hawa berkhalayak dengan violinnya. Berjalan, berputar, dan tersenyum membiarkan tubuh mungilnya berapresiasi dengan nada. Nada indah yang menghasilkan sebuah melodi “Symphony Aurora”.

Ku berjalan menyusuri koridor yang penuh dengan remaja seusiaku. Bersenda gurau, menggosipkan cover boy majalah teenage mingguan atau mungkin pemain basket terpopuler seperti di sekolah-sekolah pada umumnya. Entahlah, apa gerangan yang membuat semua omong kosong ini. Sejurus mata mereka terfokus ke arahku. Kurasa murid mutasi itu hal yang biasa. Huuh. Negara macam apa ini memperlakukan orang asing seperti ini.

Ku edarkan pandangan di seantero kelas berukuran 10 X 8 meter. Tak ada satupun bangku yang bisa kududuki kecuali bangku di sudut kelas. Ya, bangku kosong namun tak sepenunya kosong. Ada lelaki duduk seorang diri disitu.
“Can I take this seat?”
Dia menatapku nanar “Jika ada bangku lain yang bisa kau duduki sebaiknya kau tak disini.”
“I think you already know there’s no more seat here.”
Dia menghela nafas dan menggeser tempat duduknya – menggeser hingga tepi meja, sejauh mungkin dariku.
“Hi, I’m Alexa. Wanna tell your name?”
“Itu tak penting bagimu.”
“How come you behave like that?”
“Sudahlah. Tak perlu berlebihan. Tak perlu kau panggil namaku dan tak perlu mencairkan suasana. Selera humormu tak bagus.”
“Oh! OK. Mungkin selera humorku buruk tapi tak lebih buruk dari dirimu yang tak bisa menghargai orang, Bro.” kataku sedikit terbata karena ku belum terbiasa berucap dalam bahasa Indonesia.
“Terserah katamu. Aku tak peduli.” Dia mengendus
“Akupun tak butuh pedulimu.” Ucapku seedikit tersengal
“Dasar gadis gila.” Dengan santai ia meninggalkan kelas – terutama diriku.
“Ka-kamu yang gila!” Teriakku terbata dan seluruh mata di kelas ini kelas ini kembali menghujamku. Uhh. Sungguh menyebalkan. Aku benci diperlakukan seperti ini.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku dan lelaki yang kutahu namanya Andre, tak pernah sedikitpun akur, meskipun hanya sekedar menyapa satu dan lainnya. Ah, sudahlah tak ada gunanya memikirkan lelaki gila itu.
Ku bergegas secepat kilat meninggalkan halaman sekolah. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengunjungi kakak tercintaku – Alena. Telah beberapa hari ini ku terlalu disibukkan oleh diriku sendiri. Ku kayuh BMX silverku melintasi jalanan Bandung yang mulai senja. Ku tarik nafas panjang dan menikmatinya. Hah, situasi yang melegakan. Setidaknya ini cukup membuatku damai dengan membunuh sepi bersepeda di jalanan yang basah. Ups. Kakiku terperanjat, “shit, what’s going on”. Rantai rodaku terselip dari porosnya. Oh. Damn it. Anyone gunna help me? Ku edarkan pandangan dari tempat dimana aku berdiri. Sungguh omong kosong macam apa ini. Benar-benar tak ada seorangpun disini.
“What a hell such this thing happen!” sungguh sulit membenahi sepeda ini.
“Pyeeekkk.” Percikan air comberan mendarat di sebagian besar baju, sepeda dan rambut emoku.
“Uhh. Fucking boy.” Ku lemparkan batu berukuran kepalan tangan pada lelaki berhelm merah dengan ducati yang dikendarainya. Yeah, tepat sasaran. Seketika ia menghentikan laju mesinnya.
“Heh, gadis bodoh. Apaan sih maksudmu?” Sang lelaki menghampiriku yang tengah geram akan segala yang menimpaku.
“Ku kira aku yang harus mengembalikan pertanyaan itu padamu, Boy.”
“Lihat! hasil lukisanmu di sepeda, baju juga rambutku, sungguh indah bukan?” nadaku mencibirnya. “Menurutmu siapa yang mulai duluan?” sambungku
“Mana aku tahu kalau kau di tepi jalan ini. Lagi pula ini jalan umum dan aku berhak untuk menggunakannya. bukan begitu, Nona?” dengan tingkah yang begitu menyebalkan dicondongkannya kepalanya ke arahku.
“Memang ini jalan umum tapi lihat hasil ulahmu. Dasar lelaki tak bertanggung jawab!”
“Ups. I’m sorry Nona. Itu salahmu. Mana aku tahu kau berhenti disitu lagian itukan bukan tempat pemberhentian. Jadi jangan salahkan aku jika aku mengecat baju dan tubuhmu yang memang memerlukan sedikit polesan.”
“Shut up! Jaga mulutmu!” Ku sungguh kebakaran jenggot, ku ayunkan kepalan tanganku kebagian hidungnya.
Sejurus tangan kanannya pun bertindak. “Oh…! Tak sepantasnya seorang wanita bermain kekerasan.” Entah apa yang kurasa. Sungguh menyebalkan. Angin entah darimana asalnya merasuk ke dalam tubuhku. Dan sepersekian detik otakku tak berfungsi¬ – mati gaya.
Ku mengerjap mencoba membebaskan diriku dari lamunanku. “Itu bukan urusanmu.” Ku coba melepaskan genggamannya. But just like a cold day in the hell, ia terlalu kuat meremas tanganku. Mata tajamnya menghujam mataku, sungguh dalam – teramat dalam. Entah mengapa, ku lihat ada sesuatu disana, sesuatu yang dengan jelas dapat ku tangkap. Mata yang nanar dan sarat akan kerapuhan.
“Eeeergghh” dia memejamkan mata bulatnya mengibaskan kepalanya dan mendorongku. Membuatku terhuyung. Raut wajahnya begitu kelam, sendu dan frustasi. Dia meninggalkanku begitu saja. Meninggalkanku dalam keheningan senja yang berpisah dengan mentari yang hendak bermain dibalik kegelapan – menyisakan perasaan yang aku tak tahu bagaimana untuk menepisnya, karena memang aku tak seharusnya mengharapkan dirinya.

Semenjak kejadian sore itu aku hampir gila dibuatnya. Tak habis-habisnya Andre menjadikanku mainan barunya. Disembunyikannya pekerjaan matematikaku hingga aku harus memotong rumput seantero sekolah. Mempermalukanku di hadapan semut-semut sekolah. Hingga mengirim surat cinta pada Joko si kacamata kuda yang membuatnya semakin tergila-gila padaku. Dan kini aku harus bertepuk tangan atas ulahnya. Ya, melubangi rokku seukuran piring makan. sekaligus mengurungku di kelas ini.
“Andre!” suaraku memekik mengalahkan teriakan bel sekolah. Wajahku merah padam dadaku sesak menahan amarahku padanya.
Aku sudah muak dengan semua ini. Berapa lama lagi aku harus terperangkap di ruang kelas ini.
Ku berjalan secepat mungkin menuju tempat parkir dengan kedua tanganku memegangi bagian belakang rokku, mencoba menutupi lubang karena ulah Andre. Tak mungkin aku bisa membalasnya untuk saat ini. Biarlah lelaki brengsek itu melayang di udara karena kemenangannya. Huh.
“Damn. What a hell it is!” Sepedaku tergantung di pohon mahoni besar.
“ANDREE…!” ku berteriak semampu pita suaraku. Mataku nanar, buih air mata tak lagi dapat ku tahan. Ku berjalan gontai kembali ke bagunan sekolah. Berharap segera ku temukan Andre dan ku tonjok habis hidungnya.
Sejurus aku membeku. Langkahku terhenti dikala lantunan melodi indah dari ruang kesenian menyentuh cuping telingaku. Ku buka pintu perlahan – menjelajahi seisi ruang itu dengan pandanganku. Ya, Seorang pemuda rapuh bermain sendiri disana, Ku mendekat. Lebih dekat kutangkap dia bermain lebih dalam. Sendiri. Oh, tidak! dia tak sendiri. Kurasa ada sesuatu dari dalam dirinya yang menemaninya selama permainan itu.
Ku rasa inilah saat yang tepat. Ya, inilah saatnya. “Simfoni Aurora.” Kata itu begitu saja keluar dari mulutku yang membangun lamunan panjang lelaki rapuh itu. Dihentakkan tuts-tuts piano yang tak mengerti apapun, melodi indah seketika menjelma menjadi desahan tak beraturan dan hilang ditelan keheningan.
“Darimana kau tahu lagu itu?” Dia membentakku. Dan ku hanya terdiam.
“Jawab.” Bentaknya lagi. Emosinya semakin tak terkontrol.
Ku tetap membisu. “jawab atau ku pukul kau.” Secepat kilat tangannya hendak mendarat di pipiku. Dan terhenti oleh pejaman mataku.
Ku membuka mata perlahan. “Pukul saja, kalau itu membuatmu lega.”
Kini Andre terdiam. Ya, Andrelah lelaki selalu menghabiskan sorenya di tempat ini. Sejurus, dia membeku dan bersimpuh di sampingku. Kepalanya tertunduk, wajahnya sarat akan kepiluan yang begitu dalam.
“Kau tahu Alexa, walau ku pukul kau seratus kalipun tak kan sebanding dengan pukulan yang bertubi-tubi kau berikan padaku selama ini.” Kini air matnya meleleh dan ku tetap terdiam. Mematung. Bagai dibekukan kutub yang dingin.
“Semenjak kehadiranmu, setiap kali ku melihatmu kau selalu memukul hatiku, memukul jiwaku, membuatku sesak, membuatku tersiksa.”
Ia memukul-mukul kepalanya. Air meleleh dari mata bulat itu. Kali ini ku lihat wajah itu sayu dan penuh keputus-asaan. Seperti wajahnya di kala senja itu.
“Mungkin itu tak adil bagimu. Mengapa aku membencimu, kasar terhadapmu dan sering kali menyakitimu.” Kata-katanya terhenti oleh nafas panjang yang dihelanya.
“Kenapa?” tanyaku
“Karena aku ingin kau enyah dari sekolah ini.” Jawabnya lemas
“Tapi kenapa?” pertanyaanku terulang kembali
“Sudahlah, jangan banyak bertanya.”
“Tidak. Aku ingin tahu apa alasannya. Jawab! Ayo jawab!” Ku goncang tubuhnya bagai anak kecil merengek pada ayahnya.
Andre tetap terbungkam. Goncanganku semakin hebat. Dia mengehela nafas panjang.
“ITU KARENA KAU MIRIP DENGAN ORANG YANG SELAMA INI MENYAKITIKU SEKALIGUS MENGHANCURKANKU.” Ia berteriak tepat di depan wajahku.
Ku membisu. Tak pernah tepikirkan hal ini akan berantakan seperti ini.
“Kau tahu, Ndre. Ku kira ini semua adil bagiku. Orang yang kau sebut-sebut telah menghancurkanmu dan menyakitimu adalah saudara kembar orang yang duduk tepat di sampingmu.”
Sekonyong-konyong dia menatapku, kembali dengan tatapan nanar dan tak percaya.
“Ya. Alena adalah saudara kembarku. Kami berpisah 4 tahum silam, satu tahun sebelum ia bertemu denganmu. Aku dan orang tuaku pindah ke Amrik lantaran ayahku mutasi dinas di salah satu perusahaan penerbangan disana. Dan Alena tetap tinggal di Indonesia bersama tanteku.”
“Apakah selama ini kau hancur karena Alena?” tanyaku
“Entahlah, bagaimana aku menyebut perasaanku selama ini. Aku merasa bodoh, berantakan dan entahlah aku tak tahu bagaimana aku harus mengobatinya.”
“Alena meninggalkanmu karena jatuh cinta dengan lelaki Amrik. Dia ingin menikah dengannya, sebatas omong kosong itu yang kau tahu, bukan?”
Aku tak kuasa menyimpan rahasia Alena. Tapi setidakya Andre akan tahu yang sebenarnya tentang Alena.
Wajah kelam itu kini memandangku dengan pandangan penuh tanya.
“Ya, selama ini Alena membohongimu. Karena dia begitu mencintaimu dan dia tahu bahwa dia akan meninggalkanmu untuk selamanya.”
Wajah Andre semakin tak mengerti.
“Alena mederita siropsis.” Ku tertunduk dalam.
“Apa? Alena menderita ssi-rop-sis.” Ulang Andre mamastikan. Dan, aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Saat dia bersamamu dia sadar bahwa ini hanya akan menyakiti dirinya juga dirimu. Maka dari itu dia memutuskan untuk menyudahi hubungan kalian. Ya, megatakan hal bodoh seperti itulah cara yang paling baik menurutnya”
“Lalu dimana dia sekarang?”
“Dia berada di tempat yang indah bersama Tuhan, Andre.” Andre terbelalak tak percaya dengan alis yang nyaris menyatu satu sama lain. Sekonyong-konyong dia menatapku tajam. Tangannya mengepal seperti pertama ku melihatnya.
“Kau tahu, Andre. Dikala sakitnya dia lebih senang berteman dengan biolanya memainkan melodi yang sama dengan melodi yang baru kau mainkan. Ya, melodi yang sama dengan penghayatannya yang seperti dirimu. Namun, aku tak sedikitpun mengerti akan Alena saat itu, hingga suatu ketika dia menceritakan semua ini kepadaku, tentang kenangan kalian memainkan lagu yang kalian gubah sendiri. Ya, di ruang ini dengan latar aurora dari biasan proyektor karena memang Alena ingin sekali melihat aurora – dan sebatas itu kau mampu mengabulkannya. Namun, bagi Alena semua yang kau berikan jauh lebih indah daripada dia dia melihat langsung aurora, seperti yang biasa kami lakukan waktu itu.”
Andre masih terdiam – tertegun tanpa tahu harus berkata apa.
“Alena tak pernah sedikitpun melupakanmu, Andre. Meskipun disaat-saat terakirnya. Dia memintaku untuk pindah ke Indonesia dan mengatakan permohonan maafnya padamu.”
Andre masih tertunduk, ku beranikan diriku untuk menyentuh bahunya mencoba membesarkan hatinya. Disandarkan kepalanya di bahuku, air matanya masih terjatuh. Sejurus, darahku berdesir. Entah mengapa aku merasakan suatu yang berbeda saat ini, sesuatu yang nyaman tapi mustahil bagiku untuk merasakannya.
“Hemmm.” Ku tarik nafas panjang. “Ku rasa tanggung jawabku sudah usai, aku sudah memenuhi permintaan Alena dan ini saatnya aku kembali ke Amerika.”
“Apa? Kau akan kembali ke Amerika, setelah semua yang kau lakukan padaku?”
“Aku?. Apa yang telah ku lakukan padamu?”
Ia menghentikan kata-katanya. “Sudah, lupakan saja”
Beberapa menit kami hanyut dalam diam – dalam lamunan kami sendiri.
Aku harus melakukan ini, Andre. Aku mencintaimu dan aku tak bisa terus-terusan mencintaimu. Ini tak seharusnya ku rasakan, kau bukan untukku. Kau milik Alena. Hanya milik Alena.

Matahari siang ini tak terlalu memamerkan tahta kuasanya. Tampaknya ia terlalu lelah berurusan dengan panas selama ini. Suasana waiting longue bandara cukup ramai walau cuaca tak dibilang cerah hari ini. Langit kini menangis – butiran-butiran air jatuh pada tempo nyaris bersamaan. Aku menunggu di kursi biru tua lobi bandara sambil menikmati pesawat yang hendak take off di tengah guyuran hujan terbingkai jendela kaca yang sedikit berembun. Entah apa yang kurasakan. Batinku berdebat, satu sisi aku berat beranjak dari sini – apa karena Andre. Sort of. Sisi yang lain aku tak mungkin menghianati Alena, kakaku sendiri – dan aku memang harus pergi. Come on, Alexa. Let it go and flow.

Aku masih mematung di baggage claim. Uh, kenapa aku masih menantinya. Ayolah, Lexa. It’s over. Lupakan dia. Ya. Aku harus melupakannya dan inilah satu-satunya jalan. “Alexa.” Ku dengar seseorang memanggilku. Ku arahkan pandanganku ke segala penjuru. Nihil. Ah, Mungkin hanya perasaanku saja. Dengan berat hati, ku berjalan dalam kerumunan orang menuju gateway 3. Namun, entah apa yang menahanku, mendorong diriku untuk berbalik. Andre. Ku berharap itu Andre. Sekonyong ku berlari meninggalkan segala yang ada dihadapanku mencoba mengejar masa yang kucoba hindari. Meraihnya kembali membawanya bersama masa depanku.

Ku terus berlari menerjang arus. Menerobos kerumunan orang. Pesawatku lepas landas. Aku tak peduli. Ku terus mencari sumber suara itu. Berhenti sejenak. Mengedarkan pandangan. Begitu seterusnya. Akhirnya, ku hentikan langkahku. Nafasku tersengal. Dadaku berdetak tak beraturan. Dimana Andre. Tidakkah dia datang. Ya. Ku rasa dia benar-benar tak datang. Kepalaku tertunduk dalam. Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau berandai-andai Andre akan mencintaimu, Lexa. Hatinya telah terbingkai oleh Alena bukan kau, Alexa.

Dengan segala sisa kekuatan ku berbalik entah kemana lagi. Aku sudah tak ingin kembali ke Amrik juga tak ingin berada disini. Aku tak punya tujuan. Tanpa kusadari emosi hebat menyergapku. Badanku lemas. Jantungku berdegup kencang tak beraturan. Darahku mengalir deras. Seseorang memelukku dari belakang. Melingkarkan lengan kokohnya pada tubuhku. Memelukku dalam. Membenamkan wajahnya dalam pundakku.
“Jangan tinggalkan aku. Jangan pernah kau tinggalkan aku. Aku tak tahu bagaimana aku jadinya bila tanpa dirimu.” Suaranya berbisik dalam diamku. Menyerang seluruh urat nadiku. Membuatku lumpuh seketika. Hujan masih berisik di luar sana. Lengannya terus membilitku. Akupun tak kuasa melepaskan diri. Ku hanya mampu menikmatinya. Menikmati kerapuhanku juga dirinya. Akhirnya, kecemasanku terjawab sudah.

*** selesai ***

Cerpen Karangan: Zahra Nugraheni
Facebook: Aia az Zahra

Cerpen Symphony Aurora merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pada Suatu Malam Yang Pekat

Oleh:
Di dalam kamar berukuran 3×3 m2 itu Zeni mengemasi pakaian dan beberapa barang miliknya, tampak kesedihan yang terlihat dari perempuan tiga puluh dua tahun itu, sesekali ia menyeka air

My Special Day

Oleh:
Awan hitam masih menaungi langit kota Bandung, gemericik air hujan dan gelegar halilintar membuatku semakin bergidik ngeri. Di cuaca seburuk ini aku masih berdiam di halte depan sekolah. ku

Simpul Kebahagiaan Dalam Hujan

Oleh:
Hujan punya cerita tentang kita. Hujan tau bahkan mengerti bagaimana aku merindukanmu. Malam itu langit mendung. Hujan pun perlahan menampakan jati dirinya melalui rintikan-rintikan indah yang menyentuh tubuhku. “Ayo…”

Perpisahan

Oleh:
Berangkat dari kejenuhanku bekerja di ruangan tertutup di sebuah kantor investasi ternama di Jakarta, aku Yola Elisia memiliki mimpi untuk mengelilingi Indonesia. Menyambangi keindahan laut, gunung, desa, hutan dan

Semuanya Milikmu Kembaranku

Oleh:
Sungguh membosankan sekali hari ini. Nilai metematika aku jeblok, terus aku harus nganter temen sekelas aku ke ruang piket, ceritanya sakit terus mau pulang, tapi enggak tau juga sih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *