Uang Kertas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 May 2013

“Vanya… hari ini kamu jadi kan ketemuan sama sepupu aku yang dari London kan?”.
“ya, jadi deh”.
Nidya menggandengku menuju kelas. Inilah diriku, aku sudah terlalu sering gagal dalam berhubungan dengan laki-laki selama ini. Awalnya aku hanya menganggap sepele hak-hal seperti ini, namun aku mulai merasa aneh karena setiap laki-laki yang dekat denganku kabur dengan alasan yang sama yaitu diriku yang terlalu sibuk dengan dengan laptopku. Mulai dari Ditan, putra, ginda, edo, dan masih ada tiga orang lagi yang sudah mulai ku lupa namanya punya alasan yang sama untuk memutuskan hubungan. Alasan mengapa aku terlalu sibuk dengan laptoku yang pertama: aku ketua club mading, yang kedua: aku kan calon penulis, dan yang ketiga adalah alasan yang paling malas kuucapkan yaitu: aku adalah seorang pencinta film sejati.

Aku punya dua orang sahabat yang dekat denganku yaitu Nidya dan Eno. Nidya adalah wanita yang baik. Dia anak seorang pemilik perusahaan berlian terkenal di Jakarta. Nama lengkapnya Nidya Ve Lisa. Kalau Eno adalah seorang cowok idola di sekolah. Dia Indo loh, mamanya Indonesia dan papanya Korea. Nama lengkapnya Hyun Ray Neo. Aku sangat bahagia berada di samping kedua sahabatku. Mereka selalu menghibrku saat aku patah hati. Pernah aku berfikir bahwa Eno menyukaiku, tapi pikiran itu musnah saat ku tahu kalau dia suka pada adik kelasku yang bernama janet. Dia berusaha keras mendapatkan hati gadis itu dan ternyata usahanya tidak sia-sia. Sedangkan Nidya sudah punya ornando yang begitu mencintainya. Ornando sangat kutu buku, makanya seisi sekolah kaget mendengar kabar bahwa nidya berpacaran dengannya. Kisah hidupku sangat menyedihkan. Walaupun aku punya segala-galanya, aku tetap tak merasa hidupku menyenangkan.

Aku duduk di teras kamarku bersama kedua sahabatku dan sedang mendiskusikan tentang “VANYA AND LOVE STORY”. Lovenya pake tanda kutip! “van.. gimana sepupu aku kemarin?”.
“spupu kamu baik, ganteng, pinter, trus asik”.
“trus gimana?”.
“ya.. dia overdosis tau kalau mau dijadiin SS”.
“kok disia-siain sih! Udah enam bulan loh jomblohnya, masuk rekor nih. Semenjak kamu pertama kali pacaran kayanya kamu gak pernah jomblo sampe enam bulan. Paling lama kayanya dua bulan”.
“tau deh!”.
Eno yang dari tadi diam langsung angkat bicara “gimana kalau kenalan sama sepupu aku aja”.
“ya ampun, bisa bahasa indonesia gak tu spupu lo?” tanya nidya sewot.
“ya tau lah, dia kan emang orang indonesia, cuman pengen ikut bokap aja dulu ke seoul”.
Aku mulai malas mendengar kalau yang dua orang sudah saling aduh mulut, aku yang jomblo mereka berdua yang gondok. “gak usah deh, lagi pengen serius belajar nih”. Mereka berdua kemudian diam dan mengamatiku lalu mengangkat bahu mereka tanda bingung.

Sebentar lagi ujian nasional, namun eno dan nidya setiap hari datang ke rumahku. Mereka punya banyak alasan untuk datang. Dirumahku juga sangat sepi, kakakku yang pertama sudah menikah dan menetap di Sulawesi Tengah, dan kakakku yang kedua sibuk kerja. Padahal dialah satu-satunya yang kuharapkan di rumah ini. Sedangkan papa sedang ditugaskan di Jember kemudian mama ikut bersama papa. Jadi rumahku hanya di huni kak vano, bi santi, roxy (kucing angora kesayangan veni kakak pertamaku), dan pak parjo.

Hari ini aku telat datang kesekolah, untung Eno juga telat. Aku tak boleh mengikuti pelajaran sampai jam istrahat, dan akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku di Perpustakaan sedangkan eno mengikutiku dan tidur di sana juga. Setelah berbunyi aku segera ke kelas, saat sedang berjalan ke kelas ku lihat lapangan basket sangat ramai. “Mungkin lagi ada yang tanding kali ya no!”. “auk aah!”. Dia berjalan sambil bersandar padaku. “kenapa kamu gak ikutan aja! Kamu kan mantan kapten tim sekolah”.
“males tau, gue lagi bete nih, di hibur kek apa kek!”.
“berantem lagi ya no?”.
“bukan berantem, tapi putus”.
“yaaaaaa, yang tabah ya. Kapan diputusinnya?”.
“tadi waktu kita di perpus dia sms aku”.
“gini aja, kita ke lapangan yuk, kita nonton aja biar gak suntuk”. Belum sempat dia menjawab aku sudah menariknya ke arah lapangan. Di lapangan ternyata ada Janet, salah ngajak nih kayanya. Tapi tunggu, eno malah menarikku mendekati janet dan mencium pipiku di hadapan janet. Woww.. pengen bikin dia cemburu rupanya. Kalau teman-teman se-angkatannku sudah sering melihatku di cium Eno, Nidya juga kok dan sebaliknya. Jadi aku santai-santai saja. Aku memperhatikan cowok yang bermain basket, kayanya anak baru. Ganteng! Makanya banyak cewe-cewe yang nongkrong di situ. Lama aku memperhatikannya, dan bel pun berbunyi.

Di dalam kelas aku hanya tidur-tiduran, nidya yang duduk dibelakangku sibuk menggosip dengan Eno. Mungkin eno yang curhat atau sebaliknya. Kemudian Nidya mencubit pundakku, “itu.. tuh anak baru dikelas kita”.
“mmmm…” aku kembali ke posisi tidurannku tadi.
“hay No” si murid baru menyapa Eno, ternyata mereka saling mengenal. “Hay nu, ternyata kamu masuk sini juga ya! Kenalin nih nidya”. Enggg… “trus yang ini nih..” dia mencolek pinggangku
“apa sih?” aku mendongak dan mulai pada khayalanku, dia seperti pangeran.. aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Danu..” ia bersalaman denganku, tapi aku lupa memberi tau namaku.
“namanya Vanya nu” suara eno membuyarkan semua lamunanku.
“senang bertemu denganmu”. Itulah kata-katanya yang terakhir sebelum guru fisika masuk.

Ternyata murid baru yang tampan itu namanya Danu, dia adalah spupu eno yang waktu itu dia tawarkan padaku. Tapi sayangnya waktu itu aku lagi tak mood, sungguh kesempatan yang disia-siakan. Danu sangat pandai dalam segala bidang, dalam pergaulan, pelajaran, dan olahraga. Banyak sekali wanita di sekolah yang menyukainya. Jujur aku juga tertarik padanya, dan akulah satu-satunya yang nekat mengirim surat dan ku simpan dilokernya. Tak tau apa reaksinya nanti.

Hari ini kita aku, nidya dan eno sedang duduk-duduk di lapangan basket. Karena hari ini eno ingin bermain basket, mumpung hari minggu aku asik-asik saja mengikuti kemauannya. Tapi yang tak kusangka-sangka Danu juga datang. Karena takut melihat reaksinya, akhirnya aku hanya tertunduk sambil melipat-lipat uang kertas yang ada disakuku. Nidya yang duduk disampingku hanya senyum-senyum tak jelas. Kemudian eno menghampiriku “airnya dong van”. Aku memberikannya botol mineral yang ada ditasku. Dan tak lama Danupun ikut bergabung dengan kami. Tanpa sadar uang yang kulipat-lipat telah menjadi kapal-kapal yang sangat cantik menurutku. Kemudian karena begitu kagum aku berdiri dan berkata “wuaaaaah cantiknya”.
Nidya melihat hasil karyaku dan berkomentar, “kamu masih hobby ngelipat uang jadi gitu ya?”.
Aku hanya senyum
“berarti hampir sama dong sama danu, kalo danunya hobby nulis alasan di atas uang kertas”.
Aku jadi salah tingkah mendengarnya.
“jodoh kali”. Suara nidya membuatku tambah salah tingkah.
“pulang yuk, aku sama nidya kamu sama danu.. ga pa pa kan? Skalian kasih liat danu markas kita!” saran eno kali ini memang gila, tapi aku senang. “tapi aku kan pengen main sama kucingnya vanya”.
“duh nid.. entar aja deh kapan-kapan, mau kan nu anterin vanya?”. Danu menjawab dengan senyum yang manis dibibirnya
“boleh.. sklian jalan-jalan”.

Akhirnya aku pulang dengan danu, tapi dia mengajakku makan dulu. aku takut dia bertanya tentang surat yang kemarin ku simpan di lokernya. “van.. mau gak jadi pacar aku?”. Damn… kok dia to the point banget sih? Bikin orang ge er aja. Jangan-jangan salah dengar! Aduh… gimana nih?. Batinku bingung. “enggg….”.
“udah dua bulan aku sekolah di sini, aku ngerasa aku sayang kamu. Dari awal emang aku yakin sama perasaan kalo aku suka sama kamu”.
“emmm….”.
“aku udah baca surat kamu, tapi aku pengen aku yang nembak kamu. Kamu mau kan?”. Aku hanya sanggup menjawabnya dengan anggukan. Dan aku memutuskan untuk pacaran dengannya.

Saat-saat paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat ini. Punya dua sahabat yang menyayangiku, dan pacar yang juga menyayangiku. Walaupun kaadang aku cemburu melihatnya didekati oleh cewe-cewe di sekolah. Dan kurang lebih sebulan adalah ujian nasional. Aku juga jadi jarang bertemu dengannya. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17. Pukul 00.00 tadi malam danu sudah memberiku ucapan selamat diikuti keluarga dan sahabat-sahabatku, akhirnya karena sibuk membalas ucapan mereka aku tak cukup tidur hari ini. “hay van”. Eno datang ke kelas dan langsung mencium pipiku seperti biasa dan membawa sebuah bingkisan sama dengan nidya. Dan disusul Danu, dia menarikku ke kantin. “ini hadiah buat kamu”. Aku mendengar ada nada aneh di balik perkataannya. “makasih”. Kemudian dia diam, “kenapa?”.
“kita sampe disini aja ya”.
“maksudnya?”.
“kita putus, entar lagi kan ujian.. mungkin kamu pengen belajar atau apa ya terserah kamu”.
“kamu gak ngerjain aku karena aku ulang tahun hari ini kan?”.
Dia tak menjawab lagi dan langsung pergi..

Aku memang sudah mengantisipasi hal-hal seperti ini akan terjadi, karena aku sudah terlalu terbiasa mengalaminya. Tapi kali ini aku benar-benar sakit hati, kedua sahabatku terus menyemangatiku. Ujian pun selesai, dan hari ini adalah pengumuman. Aku melihat papan pengumuman dan mencari-cari namaku. Ternyata aku, eno dan nidya lulus, aku senang skaligus sedih karena harus berpisah dengan mereka. Tadi aku juga mencari nama eno, ternyata dia juga lulus. Sejujurnya aku masih terus mengharapkannya. Aku berjalan menyusuri sekolah dan terhenti di depan kelasku. Aku masuk dan duduk di tempat dudukku. Aku memperhatikan kelas itu dengan seksama. Ku melihat ke laci mejaku, dan apa yang kutemukan di sana. Uang sepuluh ribuan berceceran di dalam laciku. Ku ambil dan ku lihat.
“Aku mencintaimu karena: kamu apa adanya.”
“aku mulai menyukaimu sejak aku di seoul dua tahun yang lalu, karena eno selalu bercerita banyak tentangmu”
“maaf aku memutuskanmu, aku pikir kamu lebih mencintai eno. Dan begitu pula eno, eno selalu menceritakan tentangmu. Dia selalu berpesan kalau suatu saat nanti aku harus menjagamu. Jadi kau harus selalu berada di samping orang yang mencintaimu”

Aku sudah putus asa untuk memperjuangkan cintaku. Aku kembali kerumah dan tidur. Saat aku bangun eno dan nidya sudah ada dalam kamarku. “udah lama nyampe?”.
“udah karatan tau!” nidya menjawab asal.
“ee.. aku mau nunjukin sesuatu.. nih liat …”.
Mereka berdua melihatnya dan berkata “wahh… rugi banget”.
“emangnya kenapa?”.
“besok danu kan mau ke seoul, dia mau kuliah di chun ha university”.
“kapan berangkatnya?” aku mulai panik.
“malam ini”.
“kenapa baru bilang sekarang? Ayo kita ke bandara! Aku mau ngomong sama dia”. Aku buru-buru mandi, dan segera berangkat kebandara.

Kulihat dia sedang duduk sambil menggunakan earphone. “danu…” aku berlari dan langsung memeluknya, ku buang semua rasa gengsiku saat ini. “kenapa nangis?”.
“kamu jangan ninggalin aku, aku sayang kamu. Maafin aku”. Ia tersenyum dan memelukku. Nidya dan eno datang sambil bergandengan tangan, membuatku dan danu heran. “maksudnya?” aku menunjuk tangan mereka. “mmmmm… maaf ya van baru ngomong skarang!”.
“kita udah pacaran empat tahun, kita gak ngomong ke kamu tentang hubungan kita karena takut kamu kesepian”. Aku heran
“trus janet sama ornando?”.
“itu kan cuman bohongan, makanya sebisa mungkin kita berdua nyariin kamu pacar dan karena kamu udah ada kesempatan balikan sama danu kita ngaku aja deh…”.
“jahat nih sama aku”. Aku mencubit mereka berdua.
“maaf ya aku udah salah paham” danu meminta maaf padaku dan eno.
Kemudian dia memelukku dan berkata “kamu massih mau nerima aku?”.
“mau.. mau… kalau udah nyampe di seoul telepon aku ya”.
“siapa sih yang mau ke seoul?”.
“bukannya…” aku melirik eno dan nidya, ternyata mereka mengerjaiku.
“aku mau ke surabaya pengen ke rumah bonyok”.

Ternyata semua berjalan dengan apa-adanya. Keegoisan dapat meruntuhkan cinta yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah. selesai

Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa
Facebook: Sherly Yulvickhe Sompa
Twitter : @shervickhe_ST

Cerpen Uang Kertas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Sejuta Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah kubuka jendela dengan seragam. Pagi ini adalah hari pertama aku masuk sekolah baru. Aku diantar ayahku dan aku segera masuk kelas. Aku bingung sama siapakah aku

Aku, Kamu, Kita

Oleh:
Aku gadis berusia 15 tahun. Sebut saja namaku YASMIN. Bahagia, senang dan gembira. Tiga kata itulah yang menggambarkan perasaanku saat ini. Aku sangat bersyukur atas nikmat yang telah Allah

Vitamin C++ (Part 1)

Oleh:
Aku menulis cerpen ini dalam keadaan sangat galau. Akhir-akhir ini aku menjadi seseorang yang sangat pendiam, murung, dan sangat tidak bersemangat. Awalnya, aku juga tak tahu mengapa aku menjadi

Sambal Pedas Bikin Pulas

Oleh:
“Setahun kita bercinta, suka duka bersama, sejuta asmara penuh pesona… Kau regukan madu cinta, hatiku terlena akan manisnya cintamu getarkan jiwaku… Senyummu adalah laraku, tawamu adalah lukaku, manisnya janjimu

Kisah Asmara Kelinci dan Kucing

Oleh:
“Lagi ngapain nih kucing cantik?” tanya seekor kelinci jantan yang mencoba untuk merayu kucing betina yang sedang duduk sendiri di sudut pasar. “Aku lagi kelaparan nih, dari kemaren belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *