Panduan Bersosialisasi Untuk Anak Kuper (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 March 2018

“Kamu kok nggak pernah ngajak temen main ke rumah sih?”
Tanganku yang tengah asyik mencari komik incaranku sejak bulan lalu, terhenti. “Err … apa salahnya?” Aku malah balik bertanya.
Mama terlihat jengkel. “Kamu kan udah SMA, harusnya ini masa-masa terindah dalam hidup kamu! Main sama temen, bukannya sama komik melulu!”
“Yah … tapi main sama komik juga enggak salah kan?” Aku masih bertahan dengan pendapatku. Mama menatapku seolah aku butuh pencerahan.

“Dulu tuh, hampir semua pelosok sekolah kenal sama Mama!” Aku mengendikkan bahu acuh. Kembali menyusuri rak penuh komik dan membiarkan Mama asyik dengan cerita masa lalunya.
“Nah, makanya kamu harus kayak Mama! Nih, liat deh.” Mama menyodorkan sebuah buku yang masih terbungkus plastik bening. Aku membaca judul yang tertera di sampulnya.

PANDUAN BERSOSIALISASI UNTUK ANAK KUPER!

Apa-apaan judul konyol itu?

Tanpa persetujuanku, Mama memasukkan buku tersebut ke dalam kantong kain di tangan kiriku, tempat bersemayam beberapa novel remaja yang sudah kupilih. Lalu, Mama mengeluarkan salah satu novelku dan menaruhnya asal di salah satu rak. “Loh, Ma?!”
“Kalo kamu beli novel itu, uang bulananmu nggak cukup,” katanya santai. “Tapi kan aku nggak mau beli buku konyol itu?!”
Mama menatapku dengan tatapan tak terbantahkan. “Kamu. harus. beli. buku. itu.”
Palu sudah diketuk tiga kali. Dan aku tidak bisa menolak perintah Mama.

Tok tok tok
“Masuk aja, Ma.” Aku menguap malas sambil terus menulis. Tugas Fisika benar-benar menuntut banyak konsentrasi. “Kok kamu tau Mama yang ngetok pintunya?”

Mama masuk sambil membawa nampan berisi brownies yang aku yakini ia beli dari toko langganan di dekat rumah. “Aku kan cenayang,” balasku asal. Mama tertawa pelan dan meletakkan sepiring brownies tersebut di atas nakas.
Kemudian, Mama melakukan tur mini di dalam kamarku. Hal yang biasa ia lakukan untuk mengecek apakah kamarku dalam keadaan kapal pecah atau tidak. “Loh kok buku ini belom dibaca?”

Aku melirik sekilas buku bersampul hijau kuning yang masih terbungkus plastik di tangan Mama. Rupanya buku panduan konyol itu. “Nggak tertarik,” ujarku tanpa minat.
“Kamu harus baca, sayang.” Tiba-tiba Mama menaruh buku tersebut di atas meja belajarku, menutupi buku Fisikaku yang menampilkan halaman penuh grafik. “Ayolah, masa kamu mau selamanya jadi kuper -kurang pergaulan- sih?”
Aku menghela napas perlahan. “Aku baik-baik aja kok, Ma, meski kuper, aku masih bisa bersosialisasi kalau ada tugas kelompok.”
Mama menatapku selidik. “Tapi kamu pasti kesulitan buat nyari kelompoknya, ‘kan?”

Bingo.
Kenapa Mama juga seperti cenayang sih? Aku memang mudah untuk bekerja sama dengan anggota kelompokku, karena prinsipku adalah ikut-ikut saja dengan semua pendapat teman sekelompok. Tapi kalau soal mendapat kelompok itu sendiri -apalagi kalau gurunya membebaskan kami untuk mencari kelompok sendiri, bukan ditentukan olehnya- aku akan kelabakan.
Karena yah … aku memang tidak dekat dengan siapapun di kelas.

“Nah kan, diem aja, udahlah gini deh,” Mama mengambil jeda sejenak, “gimana kalau begini?”

Aku menoleh sepenuhnya pada Mama dan mengabaikan tugas Fisikaku. Baiklah, mari kita dengar ide absurd apa lagi yang bisa Mama kemukakan. Terakhir kali aku mendengar idenya adalah ketika akan memberi Papa kejutan saat ulang tahun dan Papa berakhir mengomel karena tubuhnya dilumuri telur dan tepung terigu. Kata Mama sih, supaya kekinian.

“Kalau kamu bisa bawa 1 temen aja ke rumah, Mama bakal beliin apa aja yang kamu minta.” Wow, diluar dugaan, ide Mama terdengar normal dan menggiurkan.
Sepertinya Mama tahu kalau akhir-akhir ini aku sering membuka situs tentang paket komik eksklusif yang sudah kutunggu-tunggu tanggal terbitnya. Harganya lumayan mahal dan bisa menghabiskan uang bulananku dalam sekejap. Mama benar-benar membuatku tidak punya pilihan.

“Ya udah deh, emang aku punya pilihan lain selain kata ‘iya’?” balasku sambil terkekeh pelan.

Mama menepuk puncak kepalaku sebelum keluar dari kamar. “Mama cuma mau ada atau tidak adanya kamu itu ada pengaruhnya,” katanya lalu menutup pintu kamarku.

Ada atau tidak adanya kamu ada pengaruhnya.
Hati kecilku merasa tercubit dengan kalimat Mama.
Baiklah, tidak ada salahnya untuk berusaha mencari 1 orang teman, bukan?

Senin. Pagi hari. Upacara.
Menyebalkan. Tidakkah Kepala Sekolah sadar kalau pidatonya yang sepanjang kereta api membuat kaki siswa-siswi sepertiku menjadi kebas? Ini penyiksaan kaki namanya.

Selepas upacara, aku langsung melesat pergi ke kelas, duduk manis di bangkuku yang terletak di barisan kedua dari belakang. Tempat yang cukup aman untuk melakukan banyak hal seperti … membaca komik diam-diam, mungkin?

Satu per satu, anak-anak sekelasku mulai berdatangan. Mereka lama sekali sampai di kelas karena terlalu banyak mengobrol saat berjalan. Itulah salah satu alasan mengapa aku tidak suka bersosialisasi. Menghambat banyak hal.

Aku mulai mengeluarkan buku untuk jam pelajaran pertama dan dahiku mengernyit saat tanganku menyentuh sesuatu di dalam tas. Aku menarik benda itu keluar dan mengerang karena sesuatu itu adalah buku panduan bersampul norak yang ternyata Mama masukkan diam-diam ke tasku.

Baiklah, coba kita lihat.
‘PANDUAN NOMOR 1: Sapalah siapapun (baik yang kau kenal maupun tidak) dengan senyuman dan lambaian tangan!’

Ha? Bisa-bisa aku dikira gila kalau melakukan ini!

‘Paket komik eksklusif…”
Entah datang dari mana, suara itu muncul begitu saja di dalam pikiranku. Baiklah-baiklah, akan kucoba demi paket komik eksklusifku!

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. Di sini, sistemnya adalah setiap murid duduk sendirian, tidak ada yang namanya teman sebangku. Oh! Ada Lala tengah berjalan ke bangkunya yang terletak di sampingku.
Saat Lala menoleh, aku memasang senyum dan melambaikan tangan. Reaksinya tidak begitu baik. Lala malah mengernyit bingung. “Lo sehat?”

‘Paket komik eksklusif!’ Suara itu menjerit di dalam pikiranku. Menahanku untuk melempar buku panduan bodoh ini dan menginjaknya sampai puas.

Ini akan benar-benar sulit untuk dilakukan.
Aku meringis pelan dan kembali berusaha untuk terlihat sibuk dengan bukuku. Kemudian, aku membolak-balikan halaman buku panduan itu dengan lesu.

‘PANDUAN NOMOR 29: Tanyakan “Apa Kabar?” kepada siapapun yang ada di dekatmu!’

Ugh, ini sama bodohnya dengan yang sebelumnya. Tapi aku tetap bersikeras menoleh pada Dian yang notabenenya duduk di belakangku, dan mencoba mempraktikan panduan nomor 29.
Cewek itu sepertinya setengah tertidur, terlihat dari tangannya yang berusaha menopang dagunya. Aku berdehem kecil sebelum memulai aksiku.

“Ehm, apa kabar, Di?” Seketika, Dian sadar sepenuhnya dari semi-tidurnya dan menatapku bingung. “Hah? Lo bilang apa tadi?”
Oke, di mana aku meletakkan pundi-pundi kesabaranku, ya?
“Nggak, lupain aja.” Aku berbalik dan memasukkan buku itu ke kolong meja. Mengabaikan Dian yang masih menatap punggungku dengan tatapan aneh.

2 percobaan telah gagal. Mungkin aku bisa mencobanya lagi saat istirahat nanti. Semoga tidak berakhir sepayah ini.

Istirahat.
Sepertinya waktu yang cocok untuk menjaring teman. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. Tidak, tidak. Bukan ide yang baik untuk nimbrung di salah satu kelompok pertemanan yang asyik makan siang sambil mengobrol.
Mungkin peruntunganku ada di kantin.

Berbekal kalimat ‘paket komik eksklusif’, aku beranjak dari kelas dan menuju ke kantin. Sesampainya di kantin, aku tersenyum lebar. Timing yang tepat. Kantin masih cukup sepi sehingga aku tidak perlu berdesakan dengan manusia-manusia kelaparan.

Aku menuju kios tempat menjual gorengan kesukaanku, cireng. Oh, rupanya ada seorang cewek tengah merogoh kantong bajunya dengan gelisah. Berpura-pura tidak melihat, mataku menyisiri cireng yang baru selesai ditiriskan dari wajan dan mengambil plastik tempat cireng. “Duh, perasaan udah gue masukin ke sini…”

Aku melirik sekilas dan langsung menyadari apa permasalahan cewek ini. “Maaf Bu, boleh ngutang dulu nggak?” Ibu penjaga kios gorengan terlihat tidak suka mendengar kalimat yang cewek itu lontarkan dengan nada penuh harap.

“Saya bayarnya bareng dia aja, Bu, ini uangnya,” selaku memecah atmosfer jengkel yang Ibu penjaga gorengan keluarkan. “Eh?” Aku mengabaikan cewek tersebut dan menoleh.
“Sori ngerepotin! Gue ganti nanti ya kalo gue udah ke kelas!” Cewek itu berujar dengan sumringah. Aku sendiri hanya mengendikkan bahu acuh, tetapi kemudian teringat dengan panduan nomor 14 yang kubaca tadi saat pelajaran Bahasa Jepang tengah berlangsung.

PANDUAN NOMOR 14: Apabila ada kesempatan, langsung manfaatkan untuk memperkenalkan diri sekaligus menambah teman!

“Uhm, gue Dinda, lo?” Semoga dia tidak menganggapku aneh. Awalnya, ekspresinya tidak terbaca. Tetapi kemudian ia mengangguk samar. “Gue Rena, salam kenal dan makasih ya, Din!”
Sepertinya, dia anak yang lumayan supel, terlihat dari caranya berbicara. Baru saja aku berniat menanyakan kelasnya, dia menepuk dahi. “Ah iya! Gue lupa ada urusan, lo kelas berapa Din, nanti gue ke kelas lo buat ganti uangnya!”
Aku menaikkan alis. “Eh, kelas 11 MIPA 4,” ujarku sedikit canggung. Rena ber-oh ria. “Oke, nanti ya Din, gue pasti akan ganti uang lo!” katanya sambil berlalu pergi dan melambaikan tangan. Membuatku teringat dengan panduan nomor 17.

PANDUAN NOMOR 17: Selalu balas lambaian tangan temanmu meskipun kamu tidak yakin kalau ia sedang melambaikan tangan padamu! Jangan lupa untuk tersenyum!

Tapi kalau sekarang sih, Rena jelas-jelas melambaikan tangannya padaku. Maka, hal berikutnya yang kulakukan adalah panduan nomor 17 sambil tersenyum tipis.
Akhirnya aku menambah satu nama dalam daftar teman dadakanku.

“Ada yang namanya Dinda nggak?”
Beberapa orang yang tersisa di kelas menoleh pada asal suara. Termasuk aku yang tengah membereskan barang-barangku. Di ambang pintu kelas, Rena tersenyum saat matanya menangkapku yang mengangguk pelan.

Aku melirik buku panduan yang telah membawaku ke titik ini dan menyadari kalau buku itu terbuka di bagian panduan nomor 5.

PANDUAN NOMOR 5: Segera tunda/selesaikan kegiatan apapun yang tengah kamu kerjakan agar temanmu tidak merasa diabaikan saat berbicara!

Aku mempercepat aktivitas beres-beresku dan mencangklong tas di pundak. Rena yang baru tiba di depan mejaku langsung menyodorkan selembar uang lima ribu rupiah.
“Nih, pas kan?” Aku mengangguk singkat dan memasukkan uang dari Rena ke dalam kantong rok-ku.
Sebelum keadaan berubah menjadi canggung, Rena menyahut dengan jenaka. “Mau ke gerbang sekolah bareng nggak?”

Eh?
Jeda selama beberapa detik karena aku terlalu bingung untuk menanggapinya. “Ehm, boleh aja sih,” jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Astaga, kemampuan bersosialisasiku benar-benar payah!

Rena mengangguk sekilas dan memberi gestur untuk mengikutinya. Seketika, aku merasa Semesta memudahkan segalanya.

Sepertinya Mama harus segera menyiapkan paket komik eksklusifku.

“Ngomong-ngomong, gue jarang liat lo, pas kelas 10 juga kayaknya nggak pernah.” Rena membuka percakapan saat kami berjalan beriringan menyusuri koridor yang mulai sepi.
Diam-diam, aku meringis. “Eh, ya begitulah, gue males keluar kelas,” jawabku seadanya. Rena tidak terlihat terganggu dengan jawabanku karena ia terus menerus mengajakku berbicara tentang banyak hal.

Awalnya aku memang kesulitan menanggapinya, tetapi ternyata Rena memiliki hobi yang sama denganku. Apalagi kalau bukan komik?

“Oh ya? Gue juga suka dia! Tapi sayang deh udah mau ending, semoga komikusnya mau bikin sekuel ya!” Aku mengaminkan perkataan Rena.

Tak terasa, kami telah tiba di gerbang sekolah. “Eh, gue duluan ya, udah dijemput.” Rena tersenyum. Baru saja ia akan beranjak pergi, lagi-lagi ia menepuk dahinya. “Oh ya, bagi ID LHINE lo dong!”

Omong-omong tentang sosial media, aku jadi teringat panduan nomor 3.

PANDUAN NOMOR : Kamu wajib punya beberapa sosial media yang sedang beken di tempatmu!

“Ooh, boleh nih, ID-nya xxxxx ya,” ujarku senang. Ini kali pertama bagiku ditanyai ID duluan, biasanya aku yang harus menanyakan hal ini lebih dulu. Itupun karena masalah tugas kelompok.
Rena mengulang ID LHINE-ku dan mengangguk mantap. “Oke, nanti gue add, duluan ya!”
Aku membalas anggukannya dengan seulas senyum dan lambaian tangan. Entah mengapa, kali ini tangan dan wajahku bergerak begitu saja. Tanpa perlu mengingat isi buku panduan itu.

Ternyata, mempunyai teman itu tidak buruk juga, ya?

Cerpen Karangan: Anis
Blog: wattpad.com/wishtobefairy

Cerpen Panduan Bersosialisasi Untuk Anak Kuper (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inikah Cinta

Oleh:
Namaku Gristina Aprilia Galuh Panuntun. Umurku kini 15 tahun, lebih tepatnya seragam putih abu-abu ada padaku sekarang. Ya, sudah menuju sikap labil memang. Tapi Cinta? Ah, Aku sangat tidak

My Friendship

Oleh:
Hai! Namaku Tania Zafirah Utami, panggil saja Tania. Hari ini adalah hari pertamaku sekolah di sekolah menengah pertama (SMP). Tepatnya, disini sedang diadakan MOS (Masa Orientasi Siswa). Perasaanku sudah

Misteri WC Sekolah

Oleh:
Perkenalkan namaku Anne aku baru masuk ke pesantren Nurul Iman, kata teman temanku pesantren ini sangat angker tapi aku tidak percaya karena aku tak pernah percaya dengan hal semacam

Bloon (Rumah Tua)

Oleh:
Pip… suara handycam punya Obeh menyala. Geng BLOON berada di pelukanmu menyadarkanku apa artinya kenyamanan kesempurnaan cintaaa. Geng Bloon berada di depan rumah tua yang konon katanya di halamannya

I Just Love For You

Oleh:
Sembari duduk di bawah pohon tua yang kokoh nan berdaun riang, membuat perasaanku terasa lebih baikan dari sebelumnya. Akhir-akhir ini setelah pulang sekolah, aku tidak ingin cepat pulang ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *