Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 May 2016

Setelah ini saya tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu. Aku menduga-duga, apa kata orang kalau sampai mereka tahu bahwa kau membelikanku kado ulang tahun semahal ini? Ini bukan hadiah ulang tahun yang biasa diberikan oleh seorang mantan bos kepada mantan anak buahnya.
“Coba lihat apa saja yang bisa kita lakukan dengan ini?” katamu sambil tersenyum ketika aku menolak pemberianmu.
“Kita?”
“Look. Kita bisa whatsApp, bisa YM, bisa video call. Saya bisa tahu di mana saja kamu berada. Saya bisa selalu tahu kabarmu.” Kau membuka aplikasi-aplikasi yang terdapat di dalam gadget itu sambil menunjukkannya padaku.

Aku mengernyit, tak tahan menyembunyikan keherananku. “Kamu juga bisa cek email setiap saat. Upload dan download dokumen, foto dan video. Dan yang kamu pasti suka … ada program microsoft office di sini. Kamu bisa mengerjakan semua pekerjaanmu di sini. Kamu bahkan bisa menulis cerpen, di mana pun kamu berada.” Mataku terbuka lebar mendengar penjelasanmu tentang gadget canggih itu. Tapi entah kenapa, makin lebar mataku terbuka, makin buram sosokmu di mataku. Embun-embun entah dari mana menghalangi pandanganku. Aku ingin mengenyahkan embun-embun itu, tapi kau pasti nanti menertawakanku kalau memergokiku melakukannya.

“Barang canggih di tangan seorang gaptek adalah kesia-siaan, Pak,” kataku frustasi.
“You can’t be that bad.” Kau tertawa sambil mengelus kepalaku seperti biasa, seperti majikan yang mengelus-elus kucingnya. Aku tenggelam dalam kasih sayangmu.

Kamu memang sangat memahamiku. Tidak tahan melihatku mencoret-coretkan ideku di potongan-potongan kertas, kau memberiku ini supaya aku bisa menulis apa pun di mana pun aku berada. Tapi aku tidak akan menulis cerita apa pun di sini, bos. Dengan hadiah ulang tahun darimu ini, mulai sekarang aku hanya akan menuliskan cerita tentang kita. Atau mungkin surat-surat cintaku untukmu, yang tidak mungkin bisa aku kirimkan kepadamu. “Itu namanya Handphone ya, bukan BAGphone. Bawa ke mana pun kamu pergi! Awas saja kalau kamu berani nggak angkat telepon saya karena alasan handphone ketinggalan di tas.”

Tidak pernah terlalu senang, tidak juga terlalu sedih. Harapanku tidaklah besar. Hanya selalu ingin tahu kabar baik tentangmu.

Pertama-tama, aku mau mengaku. Selama ini di belakangmu, aku memanggilmu “Hulk”. Kalau saja kau tahu panggilanku ini, seharusnya kau juga tahu alasannya kan? Itu karena badanmu yang tinggi besar. Kau orang baik yang disayangi banyak orang, tapi tiap marah saat meeting kau selalu berubah menjadi Hulk yang ditakuti semua orang. Jadi jangan salahkan aku karena memanggilmu begitu ya, bos.

Dear Boss, Aku tidak mengerti. Kau selalu serupa dilema bagiku. Dulu saat aku masih menjadi anak buahmu, aku selalu menghadapi dilema. Aku selalu ingin berada di dekatmu dan menarik perhatianmu. Tapi itu akan sama saja artinya dengan menyerahkan diriku ke kandang macan, siap untuk diterkam dengan setumpuk pekerjaan yang tak berkesudahan. Akibatnya, selama menjadi anak buahmu aku justru tidak berani mendekatimu, dan malah selalu kabur dari jangkauan pandanganmu.

Lucunya hidup, ketika aku memutuskan untuk beralih pekerjaan dan tidak lagi menjadi anak buahmu, kita justru menjadi dekat. Bagiku, aku tidak perlu lagi ketakutan akan diberi banyak pekerjaan jika bersamamu. Mungkin bagimu, tidak ada lagi conflict of interest yang perlu dikhawatirkan sekarang saat kita bukan lagi atasan dan bawahan. Aku tidak pernah menyesal melepaskan diri darimu. Karena pada akhirnya aku mengerti, melepaskan sebenarnya adalah cara supaya kita siap menerima sesuatu yang lebih baik. Kamu adalah buktinya.

Aku selalu mempertanyakan pilihan hidupmu. Mengapa kamu memilih untuk hidup selibat? Hanya tinggal bersama beberapa orang yang membantu di rumahmu, apa kamu tidak pernah kesepian? Baru setahun ini keponakanmu berkuliah di kota ini dan setiap akhir pekan menginap di rumahmu, tapi apa itu cukup mengusir kesendirianmu? Apa tidak pernah terpikir untuk memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengisi hidupmu?

“Saya sudah tidak memikirkan hal itu lagi sekarang,” jawabmu saat aku menanyakan padamu. Sesungguhnya bukan itu jawaban yang aku inginkan. Aku bukan ingin tahu mengapa sekarang kau tidak menikah. Aku ingin tahu mengapa dari dulu kau tidak ingin menikah? Tahukah kamu, pilihan hidupmu itu menimbulkan banyak prasangka.
“Bapak tahu nggak bahwa banyak perempuan yang naksir sama Bapak?” aku memberanikan diri.

Kalau kau tahu, bos, pesonamu sudah menarik perhatian banyak perempuan. Dari ibu-ibu pejabat sampai mahasiswa yang magang di kantor kita. Dari yang gadis sampai yang janda. Mereka semua tertipu oleh penampilanmu. Survei pribadi yang ku lakukan berhasil memvalidasi dugaanku, hampir mereka semua naksir padamu karena mengira usiamu baru sekitar 40 tahun. Kalau saja mereka tahu usiamu yang sebenarnya, apa mereka masih mengagumimu? Aku berani bersaing dengan mereka dan aku pasti menang, karena hanya akulah yang tetap mencintaimu, berapa pun usiamu.

“Nggak mungkin saya nggak tahu,” jawabmu sambil tersenyum nakal. Kalau begitu, kamu juga pasti sudah membaca hatiku kan? “Dan kenapa nggak memilih salah satunya untuk dinikahi?” Aku takjub pada diri sendiri karena berani menanyakan hal sefrontal ini. Sampai sekarang aku masih ingat senyummu. Tapi sampai sekarang juga aku masih tidak mengerti arti senyuman misterius itu.
“Saya nggak percaya mereka benar-benar cinta sama saya. Saya sudah tua. Mereka pasti cuma nge-fans doang.”
Hatiku mencelos. Sejauh itu kau sudah tidak percaya pada cinta? “Kalau saya bilang bahwa saya sayang sama Bapak, Bapak juga nggak percaya?”

Aku bersyukur kulitku tidak putih, kalau tidak kau pasti sudah melihat wajahku yang kemerahan. Rasanya ingin terjun ke jurang saat itu juga. Kenapa aku bisa seberani itu sih?
Lalu kamu tertawa. Dan lagi mengelus kepalaku. “Percaya. Kamu sudah menganggap saya sebagai ayah sendiri kan?” Baiklah bos. Itu penolakan yang jelas. Aku memang tidak bisa lebih maju lagi. Tapi Bapak tahu sifatku kan? Aku juga tidak mau mundur. Puluhan perempuan mungkin sudah mencoba, lalu gagal. Aku tidak tinggi-tinggi bermimpi memenangkan hatimu. Aku hanya mengharapkan kebahagiaanmu. Tidakkah kau akan bahagia jika menikah? Jangan denganku kalau tidak membuatmu bahagia. Tapi menikahlah, dan berbahagialah. Karena melihatmu bahagia adalah alasan kebahagiaanku, meski aku bukan alasan kebahagiaanmu.

Beberapa tahun lalu, usiamu tiga kali usiaku. Hari ini usiaku tinggal separuh usiamu. Tidakkah jarak waktu yang memisahkan kita makin dekat? Mungkin beberapa tahun lagi usiamu tidak sampai satu setengah kali usiaku. Jangan sombong! Kau tidak setua itu, dan aku juga bukan anak kecil seperti yang kau pikir selama ini. Apa sekarang aku sudah boleh mulai berharap?

Dear pak bos, Selamat hari lahir ya!

Tidak pernah terlalu jauh, tidak pula terlalu dekat. Aku selalu tahu di mana harus menempatkan hati.

Bos, hari ini aku senang karena kau mengajakku makan siang dan karaoke bersama dengan keponakanmu untuk merayakan hari lahirmu. Makan dan karaoke bertiga seperti ini membuatku merasa menjadi bagian keluargamu. Anggap saja aku GR, terserah. Aku langsung merasa cocok dengan keponakanmu. Meski usiaku beberapa tahun lebih tua darinya, tapi selera kami sama. Kami sama-sama penggila dorama, anime, dan manga. Dan meski dia mengejek preferensi musik K-Pop kesukaanku, tapi toh dia mau berduet denganku bernyanyi lagu “Every Heart”nya BoA. Oiya, seperti om-nya, keponakanmu ini pandai sekali, Bos. Aku terkaget-kaget mendengar pertanyaannya yang tidak terduga saat kau sedang pergi ke toilet. Ia sengaja menginterogasiku ketika kami hanya berduaan di ruang karaoke itu.

“Mbak naksir sama Pakde ya?” keponakanmu bertanya tanpa basa-basi.
Meski kaget, dengan gaya sok cool, aku menjawab, “Ah, sok tahu kamu.”
“Kelihatan banget tahuuu, Mbak.”
“Oh ya?” masih sok kalem.
“Tadi Mbak nyanyi lagunya SHE sambil ngelirik Pakde melulu sih. Kelihatan banget lagi curhat gitu.”
Tertangkap basah begitu, aku langsung pasang wajah sok jutek.

Ngomong-ngomong, Bos, apa kau pernah dengar pepatah ini “Sesungguhnya karaoke adalah curhat yang terselubung” Benar sekali dugaan keponakanmu itu, Bos, tadi aku menyanyikan lagu itu hanya sebagai kedok untuk menyatakan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Tepat seperti lirik lagu itu, begitulah kata hatiku. Apa kau bisa mendengarnya? Kalau-kalau kau tidak memperhatikan lagu yang ku nyanyikan tadi, sekarang ku tuliskan liriknya untukmu, supaya kau bisa membaca hatiku.

Aku cinta mati padamu
Tak akan sanggup aku tanpamu
Bahagiamu itu bahagiaku
Dan setiap air matamu, itulah juga kesedihanku
Aku cinta mati padamu
Jangan pernah meragukanku
Terlalu dalam cintaku ini
Mungkin aku bisa mati bila harus kehilangan dirimu

Bukan untuk sembarang hati aku katakan ini
Sungguh aku cinta kamu
Bukan untuk sembarang hati
Hingga napas berhenti, aku rela berlelah untukmu
(Bukan Untuk Sembarang Hati, SHE)

“Pakde tahu bahwa Mbak suka sama Pakde?” keponakanmu bertanya lagi.
“Kalau kamu aja sadar, nggak mungkin beliau nggak tahu kan? Tapi saya sayang sama beliau sudah seperti ayah saya sendiri,” aku berusaha menjawab diplomatis.
Aku tahu keponakanmu tidak mempercayai jawabanku.
“Kalau gitu, gue nggak mungkin manggil Mbak dengan Bukde kan?”
“Nggak mungkin dong,” kata bibirku. Meski hatiku berdoa lain.

Tidak pernah bersembunyi, tidak juga terbuka. Karena memendam hanya membuat sesak, tapi kadang berterus terang juga menyakitkan.

Aku ingin sekali mengirim suratku kali ini padamu, Bos. Aku ingin kamu tahu, bahwa aku tidak suka kamu menjodoh-jodohkan aku dengan orang lain. Berapa kali kamu mengajakku makan bersamanya, ternyata hanya untuk menjodohkan kami? Apa selama ini kamu baik padaku hanya supaya aku mau dijodohkan dengan lelaki pilihanmu? Tidak tahukah kau, dia mendekatimu hanya untuk memanfaatkanmu demi mendekatiku. Sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu, Bos. Dan hari ini kamu mengujiku di saat yang keliru, saat mood-ku sedang buruk. Bayangkan perasaanku saat menerima pesan WhatsApp darimu. Aku hampir tersenyum karena melihat namamu di situ. Tapi senyumku langsung pudar begitu membaca pesanmu.

“Kamu belum punya pacar kan? Dia juga belum punya. Sudah deh, kalian pacaran saja. Cocok loh. Tipe idamannya dia ya seperti kamu itu.” Tanpa pikir panjang aku mengetik balasannya: “Tipe idaman saya yang seperti Bapak.” Aku tidak perlu lagi mengirim surat ini kan? Harusnya kau sudah membaca hatiku.

Bertahun-tahun mengenalmu, ini pertama kalinya aku melihatmu sakit parah. Meskipun kau marah dan menjauhiku sejak aku menolak rencana perjodohan itu, tapi saat melihatmu terbaring di rumah sakit, aku tidak sanggup membalas kemarahanmu. Aku langsung luluh. “Kayaknya vertigo Pakde kambuh, Mbak. Tadi pagi pingsan di kamar,” kata keponakanmu begitu aku datang ke kamar rawatmu. Mengingat riwayat hipertensimu selama ini, syukurlah kau bukan pingsan karena serangan jantung atau stroke seperti yang ku khawatirkan.

“Haduh, minggu ini gue lagi ujian nih Mbak. Gue cuma bisa jaga Pakde malam hari.”
Entah kenapa tanpa pikir panjang aku langsung menelepon sekretarisku. “Beberapa hari ini saya nggak bisa masuk. Ayah saya sakit. Kabari kalau ada hal penting ya.”
Aku masih ingat tatapan aneh keponakanmu saat aku mematikan ponselku.
“Segitu cintanya sama Pakde ya Mbak?” tanyanya, frontal.
Aku tidak berani menjawab.

Bukan untuk sembarang hati. Hingga napas berhenti, aku rela berlelah untukmu

Tidak pernah mengharapkan “selalu” atau “selamanya”. Bagiku cukuplah “sekarang”. Selebihnya, setiap detik bersamamu adalah rahmat Tuhan yang sangat ku syukuri.

Dear Boss, Aku ingin memulai cerita kali ini dengan mengutip kata-kata penulis favorit kita di salah satu novelnya. Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan hanya waktu (Dewi – Dee – Lestari) Maka jika aku adalah jawaban dari pertanyaanmu, atau kamu adalah yang aku pertanyakan, bukankah untuk kita bertemu, yang dibutuhkan hanyalah waktu? Dan benarlah demikian adanya. Betapa lucunya hidup, sungguh hanya waktu yang kita butuhkan untuk bertemu. Dulu aku selalu berandai-andai, semisal kau lahir sedikit lebih lambat, atau aku yang terlahir beberapa tahun lebih cepat, bukankah kita bisa bertemu di “waktu yang tepat”.

Tapi sekarang aku tidak pernah lagi mempertanyakan kehendak Tuhan. Bukankah kalau pengandaianku terwujud, aku hanya akan menjadi teman sekelasmu yang menyebalkan. Andaikan kita tak terpaut waktu, bukankah aku hanya akan jadi teman biasa bagimu? Orang bilang, di hadapan cinta waktu pun menyerah. Sayangnya, dalam kasus kita, hal itu tidak terjadi. Kau selalu mempertanyakan hatiku, gara-gara waktu. Aku selalu tertinggal darimu, juga gara-gara waktu. Bahkan jika kita bisa menyelesaikan masalah kita sendiri, kita masih harus menghadapi orang lain, lagi-lagi karena perbedaan waktu.

Ku pikir di antara sekian banyak perbedaan kita, salah satu hal yang mempersatukan kita adalah ketidakpedulian kita kepada suara sekitar. Bukannya kamu tidak pernah mendengar cibiran orang terhadapmu karena bersama anak kecil sepertiku. Bukan juga aku tidak pernah mendengar prasangka mereka bahwa aku hanya memanfaatkan kemapananmu. Tapi kita dengan sukses mengabaikannya. Aku yakin kau sangat mengenalku, bahwa aku tidak pernah peduli dengan omongan orang. Orang lain boleh ngomong apa saja, dan demi kamu aku bisa menganggapnya seperti hembusan angin. Tapi sayangnya, suara pelan ibuku seperti badai di telingaku, dan aku tidak bisa mengabaikannya. Beliau marah saat tahu aku menjagamu selama kau sakit.

“Apa kata orang nanti?” kata Ibu, pelan namun tajam.
“Aku nggak peduli kata orang, Bu,” jawabku. Bahkan meski kau tidak mencintaiku pun, aku merasa perlu memperjuangkanmu di hadapan Ibuku. Bodohnya aku.
“Tapi Ibu peduli. Saat Ibu dan Ayah merayakan kelahiranmu, orangtuanya merayakan kelulusan kuliahnya. Kamu pikir itu rentang waktu yang sedikit?” tegas beliau.
Berapa waktu yang aku butuhkan untuk menemukanmu? Sungguh hanya waktu yang kita butuhkan untuk bertemu. Tapi ironisnya, waktu pulalah yang akhirnya memisahkan kita. Seberapa cepat pun aku berlari, dan andaipun kamu mau melambatkan langkah, waktu di antara kita memang tidak terlampaui.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nia Putri
Blog: niechan-no-sensei.blogspot.nl
Pelajar. Pecinta aksara. Pecandu kata.

Cerpen Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bahagiamu Bahagiaku

Oleh:
Mungkin aku manusia paling berdosa, menghianati cinta seseorang yang mungkin itu sangat tulus, mengenalmu adalah membuatku bisa memahami arti perbedaan, bahagia bisa mengenl seorang laki-laki yang sangat tulus mencintaiku,

Stay

Oleh:
Di sore yang secerah ini aku duduk terdiam di pinggir danau ini. Meneteskan air mata yang selama ini ku tahan. Mengeluarkan semua cairan luka yang mengganjal di hatiku. Tak

Waktu

Oleh:
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, waktu yang sudah begitu gelap. Tapi yang namanya kota Jakarta tidak pernah sepi dengan suara bising kendaraan terkecuali hari raya idul fitri. Kiran yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 1)”

  1. Eliana Yuki says:

    Keren cerita nya

  2. s siska says:

    like the story of my love, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *