Sahabat Bumi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Lingkungan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 May 2018

Hai, Kawan. Penahkah kalian bayangkan bagaimana keadaan bumi kita tahun 2040? Tahukah kalian bagaimana hidup manusia modern pada tahun tersebut? Baiklah. Jika kalian tak bisa membayangkannya biar aku yang menceritakannya sedikit.

Tahun 2040. Tahun dimana zaman sudah jauh dari kata modern. Mungkin bisa disebut dengan super modern. Semua peralatan yang ada di dunia sudah benar-benar canggih. Jika sekarang kalian punya gadget yang sudah kalian anggap sangat canggih, maka di tahun 2040 ada teknologi yang lebih mutakhir dari gadget itu. Jika sekarang kalian bisa berpergian ke mana saja dengan naik mobil, maka di tahun 2040, kalian bisa bepergian ke manapun dengan mobil terbang.

Tapi Kawan, taukah kalian? Keadaan bumi dan alam kita jauh dari asri. Di tahun 2040, kalian takkan bisa lagi menemui yang namanya pohon dan tumbuhan hijau. Kalian takkan pernah lagi menemui air segar seperti air yang bisa kalian nikmati sekaarang. Kalian takkan pernah bisa lagi menemui udara bersih untuk mengisi paru-paru.
Di tahun ini, kalian hanya akan menemui udara kotor pekat bercampur asap yang menyesakkan dada. Kalian hanya kan menemui air keruh bekas limbah industri yang tentunya menjijikkan. Dan yang lebih menakutkan lagi, sepanjang mata kalian memanang, kalian hanya akan menemui gedung-gedung tinggi dan indusri bertingkat yang saling berdesakan untuk berdiri.

Namun bagi mereka yang berotak jenius, hal ini bukanlah masalah besar. Mereka dengan mudah bisa menciptakan alat-alat penyaring air yang super canggih untuk mereka minum. Mereka juga dengan mudah, bisa menciptakan AC termutakhir yang bisa membersihkan udara sekitar rumah meraka.

Memang sekilas semua telihat mudah dengan teknologi. Tapi percayalah padaku, Kawan. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada sesuatu yang alami. Apalagi cuaca di zaman ini, efek dari global warming yang makin menjadi-jadi, terasa sangat panas. 10 gelas es saja takkan cukup untuk memperbaiki rasa gerah tersebut.

Hingga suatu hari, sebuah bencana datang, bencana dimana seluruh sistem mesin dan komputer mati mendadak. Kota modern tahun 2040 lumpuh seketika. Manusianya langsung kehilangan air bersih dari alat penyaring, manusianya langsung kehilangan udara bersih yang biasanya mereka dapat dari mesin-mesin
Mereka lalu terpaksa untuk menminum air limbah demi mempertahankan hidup, tapi tentu saja hal itu sama sekali tidak akan memeperbaiki apapun. mereka juga terpaksa untuk mulai bernafas menggunakan udara kotor tanpa pembersihan dahulu. Dan, disaat inilah manusia akan sadar, seberapa pentingnya alam dan pohon untuk mereka.

Begitulah. Di titik ini semua manusia mulai menyesal. Menyesal karena terlalu mengnggap remeh alam dan terlalu memikirkan teknologi. Menyesal karena sudah membunuh ribuan pohon hanya demi kepentingan industri mesin canggih.
Hai, Kawan. Inilah ceritaku. Kuharap kalian bisa mengerti arti dari pesanku ini. Satu pesanku, bersahabatlah dengan alam. Karena sebenarnya selama ini alam sudah menjadikan manusia sebagai sahabatnya. Hanya saja kita tidak menyadarinya.

Aku menurunkan lembaran kertas berisi cerita bertemakan lingkungan yang baru saja kubacakan di depan teman-teman OSIS sambil menatap bingung ke arah mereka. Ekspresi mereka tampak aneh, ditambah lagi mereka jadi diam seribu bahasa setelah aku selesai menceritakan cerita tersebut.

“Kalian kenapa mendadak diam begini, sih? Padahal tadi saat aku akan membacakan cerita ini, kalian teriak-teriak protes tidak terima.” Aku mencoba membuka suara, memecahkan keheningan di ruang OSIS yang tiba-tiba terbentuk.
“Ceritamu seram sekali, Nia. Apakah menurutmu peristiwa itu benar-benar akan terjadi?” Tanya salah satu temanku.
Aku lalu mengangguk pelan. “Ya, bisa saja. Jika manusia tidak pandai merawat alamnya.”
“Eh? Yang benar saja. Aku gak bisa bayangin gimana jadinya kalau kita minum air limbah.” Kali ini, Rini, si sekretaris OSIS yang berkomentar

Aku tersenyum tipis sambil duduk di hadapan teman-temanku. Sepertinya aku punya ide untuk membuat mereka sadar kalau selama ini kami juga sudah mengabaikan lingkungan. Yah, benar. Saat ini aku sedang berusaha menyadarkan temn-temanku, bahwa selama ini kai sudah menelantarkan lingkungan hijau sekolahku dengan sia-sia.
“Tapi menurutku, Rin, kita semua harus siap-siap untuk segala kemungkinan seperti yang terjadi di cerita itu.”
“jangan menakuti kami, Nia. Itu sama sekali tidak lucu.” Protes teman-temanku.
Aku tertawa pelan, “Hey, bagaimana mungkin aku tak berpikir seperti itu jika keadaan yang kita hadapi seperti ini. Lihat? Sekarang sampah mulai lagi bertebaran di sekitar kita. Bunga-bunga yang awal tumbuh dengan indah sekarang kering kerontang. Bahkan, pohon-pohon yang sudah susah payah ditanam sekolah, tidak ada satupun yang mau merawatnya atau setidaknya hanya sekedar untuk menjaganya.”
Teman-temanku terdiam. Mata mereka menatapku penuh arti.

“Dan, bukankah kita seharusnya melakukan sesuatu untuk semua itu? Apakah kita akan diam saja dan hanya menontn lingkungan kumuh seperti ini? come on, guys. Kita harus melakukan usaha untuk memperbaiki keadaan ini, sebelum semua terlambat.” Aku menghela nafas sejenak, rasanya ada semangat yang mengalir saat ini memenuhi ruangan. “Oh? atau kalian mau membiarkan semuanya akan tetap seperti ini dan suatu hari nanti kita akan beramai-ramai mengirup udara kotor? Kalian tinggal memilih.”

Ruangan itu lagi-lagi diam. Terdengar helaan nafas berat. Sebagian temanku tampak menunduk entah apa yag saat ini mereka pikirkan. Selama lima menit aku juga diam, sedikit takut dengan reaksi yang mungkin mereka berikan. Apa mungkin mereka akan protes dan mengatai aku ini sok piintar? Atau mungkin…

“Maafkan kami, Nia. Karena selama ini kami meremehkan jabatan mu sebagai seorang seksi kebersihan di sini. Bahkan tadi kami sempat memprotes ketika kau minta waktu untuk bercerita sedikit pada kami. Kami juga selalu melanggar jadwal piket yang sudah kau atur. Sekali lagi, maafkan kami.”
Mendadak aku merasa senang kuadrat. Aku sedikit tidak percaya denag respon mereka.
“Jangan minta maaf pada ku, Teman. Sebenarnya selama ini kita telah melakukan kesalahan pada alam. Dan seharusnya sekarang kita mulai lagi untuk memperbaiki lingkungan kita tercinta ini.”
Semua manusia yang ada di ruangan ini langsung mengangguk setuju. Semuanya tersenyum. Dan aku juga tersenyum. Ternyata tak sulit untuk membuat mereka menyadari kesalahan yang telah kami lakukan sebelum ini.

“Dan, hmmm, aku boleh kasih usul satu lagi?”
“Tentu boleh, Nia” jawab mereka kompak.
“Bagaimana kalau kita membuat program yang berhubungan dengan kebersihan setiap sekali kali dua minggu, misalnya gotong royong bersama atau menanam pohon?”
“Tentu, Nia. Jangankan setiap sekali dalam dua minggu, tiap haripun kami mau.”
Ucapan Ketua OSIS barusan disambut tawa oleh seluruh teman-temanku. Walaupun aku tau dia hanya bercanda, tapi itu cukup untuk membuktikan kalau mereka memang sudah bersungguh-sungguh menjaga alam, kan?

“Kau tau, Nia? Kami gak mau kalau suatu hari nanti kami akan minum air limbah seperti di cerita mu itu, hanya karena tak bisa menjaga lingkungan”
Aku tertawa lagi sambil bersyukur dalam hati.
Terima kasih.
Karena kalian sudah mau menjaga alam bersamaku. Berhubung kalian adalah sahabatku, maka aku benar-benar bahagia.
Ah, bukan. Kalian bukan hanya sahabatku, tapi juga menjadi sahabat bumi. Mulai hari ini.
Ayo, Teman. Jangan biarkan sahabat kita telantar. Karena sahabat kita, bumi ini, juga perlu perhatian.

Cerpen Karangan: Dea Rizka
Facebook: Dea Rizka Putri

Cerpen Sahabat Bumi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lukisan Dari Hati

Oleh:
Namaku Tika dan hobiku adalah melukis, lukisan pertamaku adalah sewaktu TK yaitu lukisan manusia tanpa leher, bayangkan saja itu adalah alien dan bukan manusia dan dari tahun ke tahun

200 Percent Sweet Seventeen

Oleh:
Deburan angin menerpa wajah mungilnya. Kacamatanya berembun. Entah percikan air apa yang menyelimuti kacamatanya itu. Kakinya yang telanjang memainkan pasir yang tak berdosa itu. Pansusnya digantungkan di tali slingbag

Fobia Kamu (Part 1)

Oleh:
Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi aneh. Ya.. aneh seperti aku saat ini berdiri di balik pohon yang tak jauh dari lapangan basket sambil mengintip ke lapangan basket kampus.

Lelaki dan Pujaannya

Oleh:
“Hampa terasa hidupku tanpa dirimu”. Lagu yang berjudul hampa akan tidak enak didengar lantaran yang menyanyikan tidak dengan niat dan penuh penghayatan. Begitu pula apabila dengan cinta, cinta bakal

Mari Belajar

Oleh:
Hanya karena usianya sudah matang, bukan berarti dia dapat ku lepas begitu saja. Buktinya hingga detik ini, hidupnya kacau bagai benang kusut yang sukar diurai. Aneh juga kalau dipikir,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sahabat Bumi”

  1. ria puspita dewi says:

    bagus ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *