Mawar dan Vas Porselen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 November 2016

1 Januari 2008
Aku mengayuh sepedaku dengan kencang tak peduli walau jalan ini curam. Hari ini untuk pertama kalinya aku pergi menonton film dengan Carissa, gadis yang aku sukai. Aku harus tampil setampan mungkin agar memberi kesan indah padanya untuk pertama kalinya. Aku berharap hari ulang tahunku ini benar-benar istimewa bersama orang yang aku sayang.

Terlalu asyik berkhayal, aku tak memerhatikan sekitar. Tiba-tiba aku menabrak seorang gadis yang sedang menyebrang jalan. Gadis itu terjatuh. Kedua lutut dan sikunya terluka. Dia membawa kotak berwarna biru muda di pelukannya, sepertinya dia berusaha melindungi kotak itu agar tidak terjatuh. Dia merintih pelan dan berusaha berdiri. Spontan aku membanting sepedaku, menghampirinya, dan membantunya berdiri.

“Maafkan aku, aku tadi sedang terburu-buru. Dimana rumahmu? Akan kuantarkan kau pulang, lukamu harus segera diobati,” kataku penuh dengan rasa bersalah.
“Tak perlu repot-repot. Aku juga harus pergi ke suatu tempat. Terima kasih tawarannya,” tolaknya.

Namun aku merasa tak enak. Jalannya masih sempoyongan dan lagipula dia terjatuh gara-gara aku. Aku merangkulkan tangannya ke pundakku dan membawanya naik ke sepedaku.

“Mau kemana kita?” tanyanya
“Menyembuhkan lukamu,” jawabku.

Selama perjalanan gadis itu tak banyak bicara. Gadis itu lebih sering tersenyum daripada berkata-kata. Aku membawanya ke apotek terdekat untuk mencari alkohol dan plester. Aku baru menyadari bahwa wajah gadis itu terlihat pucat. Setelah selesai megobatinya, aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Aku masih merasa bersalah dan takut jika akan terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.

“Aku baik-baik saja kok, justru aku minta maaf sudah merepotkanmu,” katanya dengan lembut, “Terima kasih ya sudah memberiku plester ini.”

Dia melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal sambil berjalan tertatih. Tak banyak yang dia katakan dan lakukan. Tapi kejadian ini membuat aku hampir lupa bahwa aku memiliki janji dengan Carissa sore ini.
Aku melihat arloji, dan waktu sudah menunjukkan pukul empat. Aku tak sempat untuk berganti pakaian ataupun mempertampan diri. Akhirnya aku datang kepada Carissa dengan wajah kumal dan masih mengenakan seragam sekolah.

Sore yang membahagiakan ini berlalu begitu cepat. Aku senang Carissa mengatakan bahwa dia senang menonton film bersamaku, dan dia memberiku sebuah helm berwarna biru muda, warna yang aku sukai.

“My birthday boy, tampaknya sedang bahagia,” goda mama.
“Seperti biasa, ada banyak hadiah yang menunggu di kamarmu. Sana cepat ganti baju dan buka semua hadiahnya!” seru mama sambil mendorongku ke arah tangga menuju kamarku.

Kulihat kamarku penuh dengan hadiah. Namun ada satu hadiah yang rasanya tak asing bagiku dan menarik perhatianku. Kotak berwarna biru muda itu seperti kotak yang dibawa gadis yang aku tabrak siang tadi. Kita tak saling mengenal, tak mungkin jika dia yang memberiku hadiah ini.
Kubuka kotak itu, di dalamnya berisi sebuah vas porselen. Vas itu tampak seperti barang antik. kumasukkan jariku ke dalam vas itu dan kutemukan sepucuk surat yang bertuliskan,
‘Selamat ulang tahun, Alden! Senang bisa mengenalmu. Terima kasih untuk semuanya – Anne’.
Siapa Anne? Apa maksud ‘Terima kasih untuk semuanya’? Apa yang telah aku lakukan untuknya?

14 Februari 2016
Valentine yang cerah. Valentine yang bahagia. Itulah yang aku rasakan hari ini. Setelah mengalami perih di Valentinenya yang ke-17, akhirnya perih itu terhapuskan. Bersama Carissa, gadis impianku, aku akan berdiri di depan altar pernikahan mengenakan jas yang akan membuatku terlihat gagah.
Mawar-mawar merah dalam porselen masih merekah sejak delapan tahun lalu. Kuhirup aroma mawar yang masih segar seperti baru dipetik.

“Ini memang seperti kekuatan magis. Walaupun begitu, kalian-lah yang meyakinkanku betapa bergunanya pengorbanan untuk cinta. Tetap mewangi ya mawar-mawarku,” Alden berkata penuh dengan percaya diri.

Tiba-tiba kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Kubuka pintu dan seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu sambil membawa mawar merah.

“Maaf, ibu siapa ya? Ada perlu apa dengan saya?”

Wanita itu menyodorkan mawar dan sepucuk surat yang terlihat manis di dalam amplop biru muda. Kemudian aku membaca surat itu,
‘Ini adalah mawar merah kedelapan. Mawar ini akan menjadi mawar terakhir dariku. Sudah kubuang duri-duri pada mawar ini, agar kamu hanya merasakan keindahan dari mawar, bukan kesakitannya. Aku hanya ingin memastikan bahwa hari ini kamu bahagia, aku sangat yakin kamu pasti bahagia. Aku sudah cukup senang bahwa saat kamu terbangun dari tidur, mawar-mawar dariku mampu membuatmu tersenyum. Setidaknya sedikit dari diriku berguna untukmu. Aku berharap kamu menjaga mawar ini seperti kamu menjaga istrimu. Senang mengenalmu. Senang menjadi tetanggamu – Anne’
Aku tercengang dan hatiku mencelos.

“Apakah ibu yang bernama Anne?” aku tahu ini pertanyaan bodoh. Aku tahu bahwa tak mungkin wanita yang sudah pantas dipanggil ‘ibu’ melakukan hal semacam teror cinta seperti ini.

Wajah ibu itu berubah, beliau menunduk lemas.
“Anne adalah putri saya yang meninggal delapan tahun lalu, sehari setelah kamu berulang tahun. Saya dan Anne tinggal di sebelah rumahmu,” kata wanita itu sambil menatap Alden dalam-dalam.
“Maaf, bu, tapi bertahun-tahun saya tinggal di rumah ini saya tidak mengenal Anda ataupun putri Anda.”
“Anak saya memiliki penyakit lemah jantung sejak lahir, dia harus banyak istirahat sehingga saya tak perah mengijinkannya untuk bermain di luar rumah. Kecuali hanya untuk merawat mawar-mawar yang ada di depan rumah,” wanita itu mulai meneteskan air mata, “Itu kesalahan saya, jika saya selalu berada di dekatnya saat dia sakit, bukan malah mementingkan karier, dia tak akan kesepian dan akhirnya tak akan seperti ini.”
Melihat wanita itu menangis, Alden semakin bingung.

“Lalu apa hubungannya dengan saya?”
“Sejak pertama kali kamu pindah, Anne ingin berteman denganmu. Tetapi karena saya membatasinya, dia tak bisa. Itu yang membuat saya menyesal, saya telah merenggut kebahagiaannya.
Walaupun dia sudah meninggal, namun saya selalu merasa jiwanya masih tinggal bersama saya. Buktinya adalah mawar dan surat-surat ini. Setiap hari kasih sayang mawar merah selalu ada di depan pintu kamarnya. Maka saya selalu mengantar mawar-mawar itu ke rumah ini untuk menebus kesalahan saya pada anak saya,” lanjut wanita yang masih terisak itu.

Ibu itu menunjukkan foto Anne. Betapa terkejutnya aku, ternyata Anne adalah gadis yang aku tabrak delapan tahun yang lalu, tepat saat ulang tahunku. Ternyata memang benar vas porselen di dalam kotak biru muda itu adalah pemberian gadis yang aku tabrak itu.

“Jadi, ibu menuliskan semua kata-kata indah ini juga?”
“Tidak. Dia sendiri yang menulisnya. Bagaimana menurutmu?” wanita itu berkata dengan sangat yakin, yang malah membuat Alden makin ragu.
Kemudian ibu itu juga memberikan album foto yang berisi foto masa kecilku. Anehnya, mengapa beliau memilikinya? Foto itu tak tampak jelas, karena diambil dari kejauhan, tepatnya dari balik jendela kamar Anne.
Aku tertegun. Tak habis pikir aku telah mengacuhkan orang yang berada dekat dengannya, yang benar-benar tulus mencintaiku. Bahkan hingga raganya pun sudah tak bernyawa, jiwanya tetap terus mencintaiku.

“Anne, sayang! Ingat, mawar itu walaupun indah tapi berduri, jadi kamu harus hati-hati, ya,” kataku kepada buah hatiku.

Aku berharap Anne merasa rasa sayangnya padaku tidak pernah sia-sia. Ketulusan cintanya telah membuat aku bahagia. Keluarga yang aku bangun bersama Carissa pun juga bahagia. Aku merasa Anne akan tetap di sisiku dan keluargaku.

“Anne, ayah berharap kamu seperti mawar-mawar ini, begitu cantik dan kuat. Kamu juga harus merawat mawar-mawar ini agar tetap cantik dan kuat,” kata Alden.
“Ayah, tapi apakah ada wanita yang benar-benar cantik dan kuat seperti mawar-mawar ini?” tanya putrinya.
“Ada, ayah mengenal orang itu. Namanya, Anne,” jawabku dengan mata berkaca-kaca memandangi mawar-mawar yang merona merah memenuhi halaman rumahku.

Cerpen Karangan: Agata CW
Blog: minipaperoflife.tumblr.com

Cerpen Mawar dan Vas Porselen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Sahabatku

Oleh:
Dulu kita selalu bersama-sama, menghabiskan waktu bersama. Kita selalu lupa waktu jika sedang bersama. Kadang itu yang membuat Ibuku tak suka denganmu karena dikira jika aku bersamamu aku jadi

Love Song In The Rain (Part 1)

Oleh:
Hujan selalu mengingatkanku padamu. Katamu, hujan adalah malaikat yang turun dari langit. Jadi, hujan adalah anugrah bagi setiap makhluk hidup yang tinggal di permukaan bumi ini. Hujan itu indah.

Ruthie (Part 1)

Oleh:
“Ruth!” Langkahku terhenti demi panggilan itu. Tak terlintas sedikit pun di kepalaku tentang siapa yang meneriaki namaku di tengah jalan yang telah sesepi kuburan ini. Angkringan di dekat kampus

Kesedihanku

Oleh:
Malam itu aku duduk termenung di kamar sambil mengingat kembali pada masa laluku yang dulu, dimana dulu aku kehilangan orang yang paling berharga di hidupku, yaitu mama. Dulu mama

Kenanglah Sahabatku

Oleh:
Saat kenaikan kelas aku duduk di bangku kelas XII-A, kesekian kalinya aku mengatakan pada diriku sendiri kalau aku tidak akan suka dengan orang yang telah mngecewakanku. Saat di kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *