Iris (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Mengharukan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 20 September 2016

Aneh juga ternyata jika bisa melihat diri sendiri tanpa cermin atau kamera. Aku, Zaidan kecil yang masih SMP, melepaskan dekapannya pada Iris. Iris berbalik menghadap Zaidan.
“Kenapa kamu menyelamatkanku? Untuk apa?” tanya Iris dengan suara parau.
Kemudian Zaidan memeluknya, mungkin takut Iris lari lagi.
Zaidan membisikkan jawabannya di telinga Iris. “Aku butuh kamu, Ris… Aku membutuhkanmu.”
Oh, so sweet. Aku tidak menyangka bahwa aku pernah membisikkan kalimat itu, selembut itu, pada seorang gadis.

Pemandangan kembali berubah. Sayang, padahal aku ingin lihat lebih banyak. Tanpa membuat kepalaku terasa sakit.

Aku berada di dalam angkutan umum. Sekarang matahari kembali menyinari dari arah barat. Kulihat celana berwarna abu-abu melekat di kakiku. Sekarang pastilah aku kembali SMA.

Kulihat bus pariwisata besar melaju kencang sekali ke arah angkutan kota yang kunaiki. Lalu, sekejap saja, kurasakan sakit kepala yang teramat sangat. Tubuhku rasanya sakit semua. Kurasakan darah mengalir di wajahku. Lalu aku melihat cahaya terang di atasku. Apa aku akan mati? Oh, ternyata tidak. Itu lampu kamarku.

Aku terbangun dari tidurku. Kepalaku sakit lagi, lebih sakit dari sebelumnya. Aku menelan ludah, mengerang, melakukan apapun untuk menyamarkan rasa sakit ini. Termasuk mencengkram bagian atas kepala dengan tangan.

Tidur tidak membuatku lebih baik. Makin parah sepertinya. Saat kepalaku terasa lebih ringan, aku bangun dan beranjak ke kamar mandi. Aku menyerah mencoba mengingat masa laluku, baik saat sadar atau pun saat tidur.

3 bulan berlalu. Sejak mimpi itu, aku selalu merasakan kehangatan yang nyaman setiap kali aku memikirkan mimpiku tentang Iris. Selama itu kepalaku tak terasa sakit lagi. Dan selama itu pula aku menerima pesan aneh. Satu setiap harinya. “I just want you to know who I am,” begitu isinya, diletakkan di selembar kertas HVS yang entah bagaimana selalu kutemukan dimana pun aku berada.

Belakangan ini juga, Shiela sering menghampiriku. Mengajakku mengobrol. Aku menerimanya dengan sopan. Awalnya dia datang dengan pertanyaan tertang bisnis, tapi lama-lama dia mulai membahas hal yang berbeda. Hal-hal yang… aneh.

“Apa anda suka mitologi Yunani?” seperti hari ini.
Bayangkan, orang dewasa, pebisnis, desainer, mencoba membicarakan hal semacam itu. Aneh, kan?
“Ya, sedikit,” jawabku jujur.

Aku memang pernah diajari tentang itu saat SMA. Dan aku tidak menyangkal jika aku memang menyukainya.

“Apa anda tahu bahasa Yunani dari pelangi?” Nah, apalagi yang ini.

Aneh, kan, jika seorang desainer terkenal bermain tebak-tebakan dengan pemimpin perusahaan seperti itu. Pasti ada sesuatu di balik pertanyan itu.

Sudahlah, aku sudah muak. Aku bosan. Aku sudah menahan amarah sejak pertama kali dia melontarkan pertanyaan semacam itu. Dan munngkin, sekarang aku meledak.

“Nona Shiela, kenapa anda menanyakan pertanyaan semacam itu lagi?!” bentakku. “Jika saya jawab ‘tidak’, apakah anda akan berhenti menanyakan itu lagi?”
“Saya tahu anda punya maksud lain selain mencari tahu jawabannya. Jadi, tolong beri tahu saya, apa maksud anda…?” kataku lirih, namun sadis kedengarannya. Sinis.

Raut wajah Shiela berubah drastis. Sekarang dia terlihat benar-benar sedih.
“Kamu benar-benar tidak ingat, Dan…?” tanyanya parau.

Nah, belum lagi perubahan bahasanya itu. Tidak normal sama sekali.
“Tidak. Sekarang saya minta anda ke luar dari ruangan saya,” pintaku dengan intonasi yang terkendali, namun masih dengan kemarahan yang jelas di mataku. Aku tidak berusaha menutupinya.

Matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi, Dan…”
“KELUAR!”
Dia tersentak saat aku berteriak. Wajahnya pucat. Dan kutekankan sekali lagi. Aku. Tidak. Peduli.

“Maaf.” Dia segera menyandang tasnya dan berbalik.
Dia membuka pintu ruanganku. “I love you,” katanya lirih, sesaat sebelum menutup pintu ruanganku.

Pers*tan. Aku tidak peduli. Puluhan wanita telah mengatakannya padaku. Dan responku akan tetap sama kali ini. I don’t care.

Kuhembuskan napas berat. Tubuhku terduduk di kursi. Apa maksudnya? Untuk apa dia menanyakan itu? Begitu kejamkah aku hingga dia terlihat sesedih itu?
Aku menghela napas. Terbesit rasa kasihan dalam hatiku. Mungkin juga sedikit penyesalan.

Aku menunduk menatap meja kerjaku. Terlihat selembar kertas di bawah tumpukan map. Pasti pesan itu lagi. Kuraih kertas itu dan mulai membaca.

“And all I can taste is this moment.
And all I can breath is your life.
Sooner or later it’s over.
I just don’t want to miss you tonight.
I just want you to know who I am.”

Pengirimnya pasti sama, hanya saja lebih panjang. Aku tidak ingin mencari tahu. Sejauh ini aku tidak merasa terancam, nyaman malah.

Aku tidak melihat Shiela lagi setelah kejadian itu.
Sekitar seminggu setelahnya, aku mulai menanyakannya pada Randy. Dia bilang, sekarang Shiela sedang dirawat di rumah sakit. Sudah 3 hari yang lalu, katanya. Tapi pekerjaannya sudah selesai semua. Hebat dia.

Sore harinya, aku sudah sangat lelah. Saatnya pulang. Kukemudikan mobilku menuju rumah yang selama ini kutinggali.

Aku menyetel radio dan memindah salurannya asal-asalan, fokus pada jalanan. Dari musiknya, kukenali bahwa saluran itu memutar lagu-lagu lama, sebelum tahun 2000, mungkin.
Dan tibalah pada lagu itu.

“And I’d give up forever to touch you.
‘Cause I know that you feel me somehow.”
Lagu itu, tidak asing.

“You’re the closest to heaven that I’ll ever be.”
Aku pernah mendengarnya.

“And I don’t want to go home right now.”
Itu lagu yang diputar Iris di bawah pohon itu. Yang judulnya juga Iris.

“And all I can taste in this moment.”
Pesan itu.

“And all I can breath is your life.”
Bayangan-bayangan itu kenbali memenuhi kepalaku.

“Sooner or later it’s over.”
Iris. Dewi. Pesan. Yunani. Pelangi.
“Kamu tahu? Beri tahu aku.” suara Iris terdengar lagi.

“I just don’t want to miss you tonight.”
“Iris itu dewi penyampai pesan dalam mitologi Yunani. Dalam bahasa Yunani sendiri, Iris artinya pelangi.” jawab seorang laki-laki.

“And I don’t want the world to see me.”
Mobil. Jurang. Ayah. Mati.

“‘Cause I don’t think that they’d understand.”
Iris berlari menjauhi jurang. Zaidan kecil menahannya.
“Andrea Wijaya itu ayahku, Dan. Itu mobil ayahku. Ayahku sudah meninggal, Dan… Tolong lepaskan…” dia berteriak dalam tangisnya.

“When everything’s made to be broken.”
Janji. Pergi. Kembali.

“I just want you to know who I am.”
Kudengar suaraku sendiri berucap.
“Kamu masih punya aku, Ris… Aku janji tidak akan meninggalkanmu selagi aku masih bernapas.”
“Maaf, aku sungguh tidak ingin pergi. Aku janji akan kembali untuk menemuimu.”
Oh, tidak. Itu janji yang kubuat.

“And you can’t fight the tears that ain’t coming.”
Kini suara Shiela yang terdengar.
“Apa anda tahu bahasa Yunani dari pelangi?”
Ya, aku tahu. Iris.

“Or the moment of thruth in your lies.”
Setelah suaranya, sekarang wajahnya yang muncul. Rambut panjang bergelonbang yang tidak dicat, bibir tipisnya, kulit cerahnya. Dan… matanya. Bening kecoklatan. Familier.

“When everything feels like the movies.”
Sekarang ganti bayangan Iris yang muncul. Aku bisa melihat jelas wajahnya.
Rambut hitam bergelombangnya, kulit cerahnya, dan…. matanya. Bening kecoklatan. Sama.

“Yeah you’d bleed just to know you’re
alive.”
Iriana Shiela. Iris. Iriana Shiela. Iris.
Iris? Iriana Shiela?
IRIS!!!

Cerpen Karangan: Cintana Hanuun

Cerpen Iris (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesempatan

Oleh:
Suatu pagi yang cerah, di bawah pohon yang rindang. Ku rebahkan tubuhku, di atas rerumputan. Yang telah dipotong rapi, dan kepalaku, ku letakkan dekat tubuhnya, ya dia yang bersandar

Spesial Di Hati

Oleh:
Aku Adinda Putri, biasa dipanggil Dinda. Aku berusia 17 tahun dan masih sekolah di SMAN 1 Jakarta Timur. Hari-hariku selalu penuh canda tawa karena kehadiran sahabat-sahabatku. Waktu itu aku

Misteri Piano Tua

Oleh:
“Piano itu berhantu, Shel,” sahut Kenny. Aku tertawa mendengarnya. Apa kata Kenny tadi? Hantu? Hahaha…, di zaman Komputer seperti ini masih ada hantu?? Ada ada saja sepupuku itu. Hay

Kejutan

Oleh:
Suara lagu di komputerku menggema di kamarku, lagu dari judika aku yang tersakiti Di luar Suara burung bersiul di samping jendela kamarku, embun pagi jelas menyisakan butir air di

Alfian Dalam Kenangan

Oleh:
Kala rindu tak lagi mau mengerti, jauh menusuk relung hati. Malam pun tak peduli, hamparan kegelapan tanpa satu pun bintang menerangi. Merenungi laranya hati, aku rindu kau pencuri hati.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *