Dua Peluru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 22 August 2017

Begitu Erika Samantha berhasil membuka pintu besi, adik Erika -Trissa Samantha- berlari menyusuri lorong gelap nan sunyi dengan tangan membawa sepasang high heels dan slingbag berwarna merah. Nafasnya terengah-engah, matanya berkunang-kunang menatap pancaran lampu mobil yang menyilaukan. Tubuhnya limbung saat seseorang keluar dari mobil tersebut. Hap! Pria berbadan besar dan memakai kacamata itu langsung merengkuh tubuh Trissa. Dengan sekuat tenaga Trissa mencoba menepis tangan pria itu agar tidak menyentuhnya. Usahanya gagal karena tenaga pria itu lebih kuat darinya.

“Lepaskan adikku!” teriak Erika seraya mengacungkan tangannya ke arah Trissa. Meskipun Trissa tidak sepenuhnya sadar, tapi dia masih bisa mengenali suara kakaknya. Pria itu hanya terkekeh lalu tersenyum menyeringai mendengar permintaan Erika.

“Lepaskan dia atau aku akan membunuhmu!” wajah Trissa merah padam menahan amarah. Tangannya mengepal dan matanya menatap pria itu dengan tajam seperti pedang yang siap menusuknya kapan saja.

Terdengar tawaan yang keluar dari mulut pria berkacamata itu. Ancaman Erika sama sekali tidak menakutkan baginya sedangkan Trissa menangis ketakutan di rengkuhan pria itu.

Perlahan Erika berjalan mendekati adiknya dan pria tersebut. Angin malam berhembus menerpa kulit mulus Erika yang hanya tertutup gaun tipis sepanjang lutut. Lorong ini akan terlihat sangat gelap jika pancaran dari lampu mobil itu tidak ada.

“Satu langkah lagi kau mendekat, aku tidak segan-segan untuk membunuh adikmu,” pria itu mengeluarkan pistol dari saku celananya dan mengarahkan moncong pistol ke pelipis Trissa.

Melihat itu, mata Erika terbelalak lebar dan langkah kakinya langsung terhenti. Dia tidak bisa menahan ketakutannya jika peluru itu berhasil menembus kepala adiknya. Trissa juga tak kalah takut dengan Erika, tubuhnya bergetar hebat dan tangisnya semakin menjadi-jadi.

Erika bertekuk lutut, memohon agar adiknya dilepaskan. Ini semua tidak adil jika Trissa harus menanggung akibat dari semua perbuatannya.
“Aku yang pantas kau bunuh, adikku tidak tahu apa-apa,” ucap Erika terdengar sendu. Dia berani mempertaruhkan nyawanya untuk Trissa karena orangtua mereka berpesan agar Erika selalu melindungi dan menjaga adiknya. Apapun akan Erika lakukan demi kebahagian Trissa, meskipun Erika harus menjadi pembunuh bayaran untuk mencukupi kebutuhan adiknya.

Dor!
Suara pistol itu terdengar menggema di lorong dan memekik telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti akan terkejut termasuk Trissa dan Erika. Kini tubuh Erika melotot melihat adiknya tersungkur tak berdaya dan darah segar terus mengalir di bagian dadanya. Erika mengingkari janjinya untuk selalu melindungi Trissa, dia yakin orangtuanya pasti kecewa melihat Trissa mati sia-sia.

Erika berlari memeluk Trissa yang sudah pucat pasi akibat pendarahan yang cukup hebat. Tak peduli jika gaunnya terlumuri darah, Erika tetap memeluk Trissa erat. Pelurunya berhasil mengenai jantung Trissa.

Erika menangis tersedu-sedu sedangkan pria itu tertawa lepas karena sudah berhasil membunuh Trissa.

“Sekarang kita pulang ya, sayang,” pria itu meraih tubuh Erika untuk membawanya ke mobil.

Emosi Erika memuncak, dia mengepalkan tangannya untuk menonjok rahang pria yang bernama Arya dengan sekuat tenaga. Kacamata Arya terlempar membentur dinding lorong. Seketika pandangan Arya samar karena kacamatanya terlepas. Sudut bibirnya berdarah dan dirinya jatuh terduduk.

Dengan tatapan penuh amarah dan emosi tak terkendali, Erika terus memukuli Arya tanpa mempedulikan tangannya yang sudah mulai terluka. Merasakan tangan Erika yang menghantam wajahnya, Arya hanya bisa meringis menahan sakit tanpa ada perlawanan.

“Kau membunuhnya, Arya!” Dengan kasar Erika menarik kerah Arya dan mengangkatnya agar Arya berdiri. Bekerja sebagai seorang pembunuh bayaran, Erika jadi terbiasa memukuli orang. Dibalik penampilannya yang anggun, ternyata Erika jago berkelahi karena ayahnya dulu selalu mengajarkan ilmu bela diri.
“Itu tujuanku Erika, aku senang telah membunuhnya. Dia penyebab dari semua ini,” Arya berucap seperti tak berdosa. Wajahnya sudah berlumuran darah tetapi dia masih sempat tersenyum penuh kepuasan.

Bugh!
Tangan Erika kembali memukul wajah Arya. Pria ini benar-benar bodoh.
“Aku bahagia karena tanganmu sudi menyentuhku, meskipun wajahku harus hancur.”
Erika tak mendengarkan kata-kata yang diucapkan Arya, tanpa henti dia terus memukuli wajah Arya.

“Apa yang kau inginkan?!” bentak Erika seraya melempar tubuh Arya ke dinding.
“Kau tahu, sayang? Aku iri karena dia selalu menjadi prioritasmu dan kau juga tidak menghadiri pesta pertunangan kita demi dirinya,” pernyataan Arya kali ini terdengar pilu. Erika tidak habis pikir jika Arya cemburu dengan Trissa, dia benar-benar sudah gila.
“Sekarang kembalilah padaku, Trissa sudah mati, Erika.” Arya tertawa jahat melihat tubuh kaku Trissa yang tergeletak tak bernyawa.

Seharusnya ini tidak terjadi, pikiran Erika kalut. Dia berjalan menjauhi Arya dan mengambil pistol yang tadi terjatuh saat Erika menonjoknya. Diarahkannya pistol itu ke kening Arya.
“Bodoh! Kau membunuhnya sama saja kau membunuhku!”

Erika duduk terkulai lemas di samping Arya. Dia mengacak surai hitamnya frustasi. Penampilan Erika sangat kacau, mata bulatnya sembab dan hidungnya memerah.

“Satu hal yang tidak kau tahu, Arya. Dia baru saja menyelamatkanku dari seorang mafia yang ingin balas dendam padaku agar aku bisa hadir dan bertunangan denganmu.”
Pernyataan Erika membuat Arya menegang, jantungnya seakan berhenti berdetak. Arya sangat bodoh dan merasa bersalah, dia telah dibutakan oleh cinta dan rasa malu akibat gagalnya pesta karena wanitanya tidak datang.

Dor!
Peluru kedua berhasil bersarang di kepala Arya. Bau amis tercium sangat kental di hidung Erika saat darah membanjiri kepala Arya. Tak bisa dipungkiri, Erika menangis terisak melihat dua orang yang sangat dicintainya tewas mengenaskan. Erika tidak bisa mencegah ketika Arya mengambil paksa pistol yang ada digenggaman Erika.

Cerpen Karangan: Nunung Khaerunisa
Facebook: Nunung Nugroho

Cerpen Dua Peluru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Gift

Oleh:
Friendship is everything But love is a gift Bandung, Februari 2001 Sore itu cuaca tidak cerah mengingat saat ini mendung gelap menggantung, menyembunyikan matahari yang seharusnya masih berdiri gagah

Bukan Mimpi

Oleh:
Raga menatap parasnya di cermin. Sungguh, tak pernah disangka semua terjadi begitu saja. Impiannya yang dulu dia bangun, tiba-tiba musnah tak berbekas. Semakin dia mengingat kisah cintanya semakin terluka

Maling Bertobat

Oleh:
“Sauurr! Sauur!” teriak Gentong sambil memukul-mukul kentongan yang besarnya hanya sepersepuluh dari bobot tubuhnya. Salah seorang menimpuknya dengan roti kecil yang langsung mendarat tepat di pipi kanan Gentong. Tanpa

Penyesalan Seorang Ayah (Part 1)

Oleh:
Malam makin larut namun Anton tak bisa tidur. Pikirannya sangat kacau memikirkan apa yang terjadi hari ini. Pikirannya berputar mengingat kejadian tadi siang dimana seorang rentenir bersama para bodyguardnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *